
Solo – Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Literasi Berbasis Moderasi baru saja diselenggarakan di aula Ponpes Al – Muayyad Surakarta pada hari Sabtu 05 Oktober 2024 pagi. Agenda ini punya tajuk “Implementasi Nilai-nilai Hidup Moderat bagi Pelajar di Solo Raya.”
Program ini dihadiri oleh para murid dari sekolah menengah tingkat atas se-Solo Raya. Mereka hadir dari berbagai latar belakang. Harapannya, para peserta tersebut bukan hanya mendapat wawasan baru terkait moderasi beragama berbasis literasi, melainkan juga belajar menulis dengan tema moderasi.
Drs Suranto, selaku kepada sekolah SMA Al-Muayyad, dalam sambutannya mengatakan, bahwa literasi dan moderasi ini adalah hal yang baru dan sangat penting. Literasi yang didasari dengan kegiatan membaca dan menulis merupakan sebuah dasar pengetahuan.
“Menulis pada pagi hari ini tidak hanya sekedar menulis, tetapi menulis dari dalam hati,” tuturnya.
Selanjutnya, ada sambutan dari Dr. Hamdan Maghribi, salah satu civitas akademika di UIN Raden Mas Said Surakarta. Pengajar yang akrab disapa Pak Hamdan ini mengungkapkan bahwa moderasi, yang menjadi tema umum dari kegiatan ini, adalah titik tengah.
Baca juga: Pergolakan Seni dan Agama
“Poin pertemuan dimana moderasi adalah moderat, tidak liberal, radikal, dan fundamental-ekstremisme… Yang akan kita bawa dan gaungkan dan pelajari adalah otentisitas wasathiyah Islam. Wasathiyah Islam yang otentik, merangkul semuanya, mendorong semuanya,” ungkapnya.
Sementara itu, Taufik Wijaya, akademisi di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Raden Mas Said memaparkan perihal kampus. UIN Raden Mas Said sendiri merupakan kampus Islam yang tidak hanya mendalami topik-topik seputar agama, melainkan juga sains. Dengan ini, Taufik Wijaya mengedukasi para peserta mengenai urgensi belajar di perguruan tinggi Islam negeri di Solo Raya tersebut.
Setelah sesi pembukaan usai, Ahmad Khadafi mulai memberi paparan materi terkait fondasi dan kiat-kiat menulis. Materi tersebut merentang dari tipe dan sifat tulisan, cara menggali ide gagasan, sampai menyusun suatu kerangka paragraf.
“Kita memulai sebuah cerita berdasar masalah. Dasar sebuah cerita, berita, artikel punya akar yang sama, yakni masalah,” terangnya.
Paparan materi ini menjadi semacam pengantar bagi siswa dan siswi untuk kemudian menulis pada sesi berikutnya.
Baca juga: Comfort Food Memoirs: Satu Buku untuk Sejuta Cerita Makanan
Para peserta yang hadir tampak begitu antusias dalam mengikuti serangkaian acara, dari mulai paparan materi sampai kegiatan mentoring. Kegiatan ini dilanjutkan dengan menulis bersama.
Seluruh peserta menulis dengan mengangkat tema-tema kecil dan sederhana, yang berhubungan dengan pengalaman sehari-hari. Hasil dari tulisan ini diharapkan bisa menjadi pantikan terhadap diseminasi moderasi baik di kalangan pelajar maupun masyarakat secara umum.



