Bersatu untuk Bumi, Menjaga lingkungan

Lingkungan adalah ruang bagi makhluk hidup untuk tinggal. Sebagai makhluk yang hidup di dalamnya, sepatutnya manusia turut menjaga lingkungan agar tetap bersih dan lestari. Sebab, manusia menjadi bagian yang tidak pernah terpisahkan dengan alam sekitar. Setiap makhluk hidup punya peran masing-masing yang unik dan yang hubungan timbal-balik identik.  

Kian hari, rasa awas untuk menjaga lingkungan selingkar kian menyusut. Pasalnya, kebiasaan ini mengakibatkan beberapa tempat yang seharusnya terawat menjadi kotor dan tercemar sampai mengancam habitat sekian spesies. Hal ini akan berdampak pada keseimbangan ekosistem lingkungan. Tentu saja, lingkungan yang buruk bisa mendorong beragam masalah secara serius. 

Salah satu cara untuk mendekatkan diri dengan alam adalah tadabbur alam. Pilihan ini cukup menarik untuk menikmati lagi embusan angin yang segar dan udara yang bersih. Dengan menjelajahi alam ini, niscaya hati manusia jadi terketuk untuk menjaga alam dan seisinya. Rasa bersatu untuk bumi pun kian menjadi.

Mengunjungi Bukit

Nah, daerah asri yang sering menjadi daya tarik pariwisata adalah bukit. Sebuah dataran yang lebih tinggi dari wilayah sekeliling namun tak lebih tinggi dari gunung. Tak jarang, masyarakat urban memilih berlibur ke daerah perbukitan semacam untuk melepas penat, mengusir rasa suntuk di tengah hari yang padat. 

Satu di antara bukit yang menarik di daerah Jawa Barat adalah Bukit Sanghyang Dora, Desa Leuwikujang, Kecamatan Leuwimunding, Kabupaten Majalengka. Bukit tersebut-sebut menawarkan nuansa rekreasi alam yang indah dengan biaya retribusi yang ramah di kantong. 

Pengunjung akan disuguhi pemandangan Gunung Ciremai yang menawan. Trek menuju puncak pun punya tantangan sendiri yang menjadi daya tarik bagi mereka, khususnya yang menyukai dunia pendakian dan trail run. Adrenalin para petualang juga ditantang. 

Baca juga: Membahas Plastik, Menyinggung Ekologi

Seiring meningkatnya popularitas tempat wisata, tentu saja mobilitas para pengunjung semakin tinggi. Sayangnya, rasa tertarik menapak di kawasan hijau ini tidak seimbang dengan rasa menjaga alam. Dari sini, tak ayal bila banyak sampah yang terbuang tidak pada tempatnya. Pengunjung yang datang seolah belum sepenuhnya sadar akan pentingnya menjaga kebersihan. Pada akhirnya, sampah-sampah pun berserak dan menggunung. 

Hal inilah yang memacu kami, Jabar Bergerak Zillenial Kabupaten Majalengka, guna membentuk suatu gerakan lingkungan yang bernama “Sapu Bukit”. Kegiatan yang bertema ini “Zillenial Bersatu untuk Bumi” ini mengajak segenap peserta untuk sama-sama aktif dalam memuliakan lingkungan. 

Rasa abai terhadap segala hal yang berhubungan dengan lingkungan selingkar, sudah sepantasnya dibuang jauh-jauh. Dengan agenda bersih alam ini, daerah sekitar jadi bersih dan relasi antara manusia dengan alam bisa (kembali) lebih kuat. 

Peran aktif Zillenial dalam memelihara lingkungan ini adalah hal baik dan perlu disebarluaskan kepada seluruh pihak, khususnya masyarakat umum, agar rasa “memiliki” dan “menjaga”  lingkungan lebih ada. 

Menanam Harapan

Tahun ini, tepatnya pada tanggal 28 Oktober 2024, kita memperingati perayaan ke-96 tahun Hari Sumpah Pemuda. Sapu Bukit dilaksanakan pada hari spesial tersebut. Hari baik, bulan baik. 

Selain pihak internal, agenda sapu bukit ini juga secara antusias diikuti oleh beberapa kaum muda. Seperti ekstrakurikuler pramuka dan pecinta alam ke beberapa sekolah di sekitar lokasi aksi. Aksi ini dihadiri oleh 165 orang volunteer.

Bukit Sanghyang Dora, yang menjadi lokasi acara ini, dipilih bukan tanpa alasan tentunya. Tren mendaki gunung di kalangan anak muda menjadikan lokasi ini sangat ramai dikunjungi wisatawan. Banyak pendaki yang FOMO (Fear of Missing Out), yakni mengalami rasa takut maupun tertinggal informasi yang viral dan fenomenal di media sosial. 

Baca juga: Ajakan Peduli Krisis Iklim

Yang menjadi masalah adalah tidak sedikit diantara mereka yang kurang peduli atas kebersihan lingkungan, sehingga banyak sampah kecil yang tertinggal di sepanjang jalur pendakian. Karenanya, perlu ada gerakan sapu bukit ini untuk membantu pengelola dalam memelihara dan merawat jalur agar tetap bersih dari sampah, sekaligus mengedukasi para pendaki di kemudian hari. 

Para peserta (volunteer) tampak cukup Antusias menjadikan kegiatan ini berjalan dengan baik. 

Selain bersih-bersih, ada rangkaian lain yakni menanam bibit pohon. Penanam ini punya makna layaknya menanam kebaikan dan harapan baru karena dapat membantu menjaga kelestarian alam dan lingkungan hidup yang sehat, seimbang dan terawat. 

Merawat Lingkungan

Melalui aksi nyata ini, kebersihan dan keindahan Bukit Sanghyang Dora tetap terjaga dan semakin menjadi daya tarik pariwisata di Kabupaten Majalengka. Untuk para pengunjung sekedar naik dan turun maupun yang hendak camping, jangan mengambil apapun selain foto, jangan tinggalkan apapun kecuali jejak kaki, dan jangan bunuh apapun selain waktu.

Tidak hanya sekadar aksi sapu bukit dan menanam bibit pohon, Jabar Bergerak Zillenial Kabupaten Majalengka juga melakukan edukasi mengenai lingkungan kepada para pengunjung dan volunteer dengan mengundang Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Majalengka dan aktivis lingkungan yaitu kang Fajar Amali untuk turut berkolaborasi sebagai pemateri di sesi Zillenial Talk (Z-Talk). 

Ibu Dini Megawati Putri, S.Si sebagai narasumber dari DLH Kabupaten Majalengka sangat mengapresiasi aksi sapu bukit ini. Beliau menekankan kepada adik-adik pramuka dan pecinta alam untuk bisa menerapkan 3R (Reduce, Reuse, dan Recycle) dalam kehidupan sehari-hari. 

“Reduce mengurangi sampah, misalnya saat kita berbelanja sebaiknya membawa kantong belanja sendiri, Reuse yakni penggunaan kembali barang plastik misalnya saat kita mengkonsumsi air mineral botol, botol bekasnya dapat kita manfaatkan sebagai pot bunga atau tempat pensil, dan yang terakhir Recycle yakni mendaur ulang sampah,” tuturnya.

Pemanfaatan dalam pengelolaan sampah tanpa mencemari lingkungan mampu mengurangi penyebaran sampah plastik secara drastis. Sementara itu, penanaman pohon juga dapat membantu menjaga kelestarian lingkungan yang baik untuk konservasi alam. Ujar Kang Fajar, aktivis lingkungan.

Lebih jauh, kegiatan ini tidak cukup hanya sampai di sini saja, tetapi terus berlanjut menjaga lingkungan sampai ke tempat-tempat lainnya, bersatu untuk bumi yang (hanya) satu. 

Salam lestari! Kami Muda Siap Aksi! 

Bagikan
Mahasiswi Fakultas Sains & Teknologi di Universitas Terbuka Bandung Fouder komunitas literasi KUACI (Kumpulan Anak Cinta Baca), aktif di beberapa komunitas dan kegiatan sosial-pendidikan.

Tinggalkan Balasan

Please enter your comment!
Please enter your name here