
Banyak peradaban di dunia tak dapat dilepaskan dari membaca buku. Ketika mengingat tanggal 17 Mei sebagai Hari Buku Nasional, saya justru terperanjat pada pengalaman seorang kawan saat mengisi forum diskusi di beberapa waktu yang lalu. Ia berbagi pengalamannya yang membentangkan dimensi ruang dan waktu terhadap buku. Ia bercerita akan tindakan yang sublim—laku sebagai pembaca menjadikan buku-buku “dianggap” sebagai makhluk hidup.
Pada saat menata di rak yang ada di dalam rumahnya, ia meletakkan buku dalam posisi berdiri. Tak mau memosisikan buku bertumpuk, sebab merasa kasihan pada buku yang diletakkan bagian bawah yang harus menanggung beban berat.
Peristiwa itu, mungkin akan mudah dianggap sebagai sebuah halusinasi. Namun bagi saya adalah wujud keberadaan panggilan buku. Dengan sendirinya, kemudian mengoneksikan pemilik dalam mencipta makna atas kesanggupan dalam membaca buku.
Baca juga: Anak sebagai Lakon Ciptaan Pengarang
Kesanggupan membaca buku tentu berhubungan pada kemauan meresapi dan menafsirkan keberadaan teks di dalamnya. Ini menguatkan beberapa anggapan banyak orang akan kemauan belanja buku didasarkan pada kepemilikan buku terlebih dahulu, sebab dirinya tidak memiliki garansi kapan waktu yang pasti untuk menyelesaikannya. Sederhananya adalah buku dihadirkan dengan pertimbangan bahwa akan ada banyak kemungkinan dalam waktu cepat atau lambat, pasti tergunakan oleh sang pemilik.
Naga-naganya hal itu menyiratkan makna penting keberadaan buku yang dapat melintasi dimensi ruang dan waktu, seakan tanpa ada batasan. Saya teringat dengan esai kosmolog dan filsuf perempuan, Karlina Supelli berjudul “Membaca dan Menulis: Sebuah Pengayaan Eksistensial”. Esai itu termaktub dalam bunga rampai berjudul Buku dalam Indonesia Baru (Yayasan Obor Indonesia, 1999). Pengalaman Karlina saat mulai merasakan keterhubungan terhadap teks bacaan, muncul adanya semacam loncatan dimensi ruang dan waktu.
Penjelasannya begini: “Buku-buku itu menjadi ‘kepunyaan’ saya. Saya mendengarkan bunyi-bunyian suara yang senyap, tarikan-tarikan nafas yang hening, atau nyanyian sunyi di dalam aliran deras huruf-huruf yang menghanyutkan benak saya. Waktu menjadi elastis, dulu — kemarin — sekarang hadir bersama, dan ruang-ruang yang entah ada di mana itu menjalin ke dalam diri saya.”
Dialog
Pada bagian lain dari teks tersebut, Karlina menolak akan anggapan ketika buku hanya sebatas dimaknai sebagai jendela dunia. “Buku bukan hanya merupakan jendela dunia sebagaimana sering kita dengar, tetapi di dalam buku ada hidup dan kehidupan itu sendiri,” begitu tegasnya. Saya membayangkan bahwa keterhubungan dengan teks dalam proses membaca itu ialah kehadiran “dialog” pembaca terhadap penulis dalam dimensi yang dirasakan pembaca. Ada daya magis, yang mungkin tak dapat dijelaskan secara logis.
Kesanggupan membaca tentu berhubungan pada kemauan meresapi dan menafsirkan keberadaan teks di dalamnya
Buku dan pembaca adalah kesalinghubungan yang mencuatkan atas apa yang disebutkan Hernowo sebagai “misteri teks”. Istilah itu dimunculkan dalam sebuah bukunya, Main-Main dengan Teks Sembari Mengasah Potensi Kecerdasan Emosi (Penerbit Kaifa, 2004). Menurutnya, “…bahwa mustahil kita dapat memecahkan ‘makna’ teks sebagaimana makna itu diinginkan oleh sang pencipta atau penyusun teks. Sebaik apa pun pendekatan yang kita gunakan untuk memahami teks, tentulah ada hal-hal yang ‘mrucut’ tak bisa kita tangkap.”
Keterangan itu agaknya mendedahkan budaya membaca dalam konteks mutakhir di lingkungan kita. Saat merebaknya teknologi digital yang makin efektif dan efisien, namun masih ada pihak yang mau bersentuhan dengan buku bentuk fisik. Bahkan, mereka dalam kepentingan untuk menunjukkan “daya magis” membaca, dari upayanya itu kemudian mengampanyekan di media sosial serta membentuk komunitas membaca macam nama kota yang diikuti istilah “Book Party”.
Paparan Teknologi
Tindakan tersebut kiranya membabarkan dua hal mendasar. Pertama, sebagai upaya untuk menormalisasi membaca buku di ruang publik. Sering kali kemauan membaca masih disandarkan pada kelompok kecil yang dalam ruang publik mudah muncul stereotip oleh kalangan masyarakat kita. Harusnya situasi tersebut menjadi gayung sambut bagi berbagai pihak dalam strategi menciptakan kebudayaan membaca.
Kedua, berhubungan dengan kemudahan ekses teknologi yang terlampau cepat. Meski kita dengan mudah mencari informasi, menemukan buku, dan membaca secara digital, rasanya ada cara pandang yang muncul akan keberadaan teknologi. Teknologi bermuara pada mekanis, yang itu didasarkan pada logika dan pemrograman biner—menjadikan manusia menemukan kehampaan.
Hal itu tentu berkelindan pada gugatan keberadaan teknologi yang dengan ragam tantangannya berpengaruh pada selera interpretasi terhadap teks. Berbeda seperti halnya sentuhan pembaca terhadap buku, yang memungkinkan pembaca untuk terus setia kendati mengharuskan proses pengulangan.
Baca juga: Djokolelono, Fiksi Sains, dan Sastra Anak
Buku demi buku yang mengisi dalam rak adalah sebuah panggilan secara terus menerus dan tidak mengharuskan pembaca perlu paham secara sekejap. Pengertian ini seturut dengan pengisahan astronom Carl Sagan (1996), yang dalam terjemahan bahasa Indonesia berjudul The Demon-Haunted World: Sains Penerang Kegelapan (Kepustakaan Populer Gramedia, 2018) mengenai proses intim terhadap teks di dalam buku.
Ucapnya: “Buku bersikap sabar sewaktu kita lambat memahami, memungkinkan kita mengulang-ulang bagian yang sulit sesering kita mau, dan tidak pernah mengkritik bila kita gagal. Buku adalah kunci memahami dunia dan ambil bagian dalam masyarakat demokratis.”
Itu agaknya meyakinkan bahwa keberadaan buku akan terus relevan meski teknologi makin bertransformasi. Buku tak dapat digantikan oleh apa pun dan senantiasa menghadirkan lintas dimensi serta pengalaman tersendiri bagi pembacanya dalam memecahkan misteri teks.[]








