Dilema Pengasuhan
Ilustrasi dari Kompas.id

Gaya pengasuhan bukan lagi semata urusan privasi rumah tangga, melainkan juga cerminan nilai, kelas sosial, bahkan pilihan hidup.

Beberapa waktu lalu, kanal sosial media ramai memperdebatkan terkait gaya pengasuhan atau  di zaman sekarang sering disebut parenting. Hal ini diawali oleh unggahan konten artis kondang Nikita Willy vs Mak Damis yang kontras. Nikita Willy dikenal menerapkan pendekatan gentle parenting yakni gaya pengasuhan yang mengedepankan validasi emosi, minim hukuman, serta komunikasi yang penuh kesabaran. Sementara itu, Mak Damis menerapkan gaya pengasuhan tradisional, atau yang kerap dikenal dengan pola asuh, yang turun temurun menerapkan kedisiplinan yang ketat kepada anaknya. 

Perdebatan pun meluas, menyisakan dilema pengasuhan mana yang mesti diterapkan di rumah-rumah keluarga Indonesia. Di satu sisi, banyak yang menganggap Nikita sebagai contoh ibu muda modern yang berwawasan luas dan melek ilmu parenting. Namun, tak sedikit pula yang membela sudut pandang Mak Damis selaku cerminan realitas ibu pekerja keras di Indonesia. 

Publik yang pro dengan Nikita Willy setuju dengan gaya pengasuhan yang diterapkan kepada anaknya, sehingga banyak ibu-ibu modern lain menirunya. Namun, juga ada yang kontra dengan gaya pengasuhan Nikita Willy. Pasalnya, mereka menganggap terlalu lembek dan hanya bisa dilakukan oleh orang-orang kalangan menengah. Sehingga, mereka lebih setuju dengan gaya pengasuhan yang diterapkan oleh Mak Damis yang dianggap sesuai dengan realita kehidupan.

Fenomena ini tak hanya mencerminkan perbedaan gaya pengasuhan, tetapi juga menggambarkan betapa pengasuhan kini telah menjadi isu sosial yang terbuka untuk perdebatan publik. Gaya pengasuhan bukan lagi semata urusan privasi rumah tangga, melainkan juga cerminan nilai, kelas sosial, bahkan pilihan hidup.

Dari kedua penerapan gaya pengasuhan tersebut akan menghasilkan karakter anak yang berbeda. Anak yang mendapat pola pengasuhan modern akan lebih mandiri, percaya diri, memiliki komunikasi yang terbuka, dan sadar emosi. Sementara itu anak yang mendapat pola pengasuhan tradisional akan lebih patuh kepada orang tua karena takut, komunikasi yang tertutup dan terbiasa dengan aturan yang berlaku. 

Kemelut Pengasuhan 

Di tengah riuhnya perdebatan tentang gaya pengasuhan, belakangan ini ada hal yang jauh lebih menarik, di Jawa Barat, pemerintah provinsi setempat mencetuskan ide mengirim remaja-remaja yang dianggap “nakal” ke barak pelatihan semi-militer.

 Kebijakan yang dicetuskan oleh Gubernur Jawa Barat tersebut diklaim bertujuan membentuk karakter, kedisiplinan, dan tanggung jawab di kalangan anak muda yang kerap bermasalah. Kang Dedi Mulyadi, Gubernur Jawa Barat, menyatakan bahwa pendekatan semi-militer akan memberi efek jera dan membangun ketegasan moral pada anak-anak yang dianggap telah keluar jalur.

Baca juga: Gus Dur dan Gerakan Perempuan

Langkah ini menuai pro dan kontra. Sebagian publik menyambut baik karena beranggapan bahwa anak-anak zaman sekarang sangat sulit diarahkan hanya dengan nasihat saja, apalagi nasihat-nasihat yang lembut. Namun, banyak pula yang menyayangkan langkah ini karena berpotensi mengabaikan beberapa persoalan tentang gaya pengasuhan.

Beberapa problematika ini terkait dengan kegagalan sistem pengasuhan, lingkungan sosial yang tidak kondusif, serta kurangnya dukungan kesehatan mental bagi remaja. Menyelesaikan masalah perilaku anak dengan kekerasan simbolik atau pendekatan koersif, sebenarnya, berisiko menciptakan trauma baru ketimbang solusi jangka panjang.

Pengasuhan yang Ideal

Berkaca dari dua fenomena di atas, memunculkan pertanyaan besar mengenai gaya pengasuhan yang ideal untuk anak. Pengasuhan yang baik bersifat kontekstual dan harus disesuaikan dengan kebutuhan anak, kondisi keluarga, lingkungan sosial, dan nilai-nilai yang dianut oleh sebuah keluarga.

Para ahli psikologi perkembangan, Jean Piaget, Erik Erikson, Sigmund Freud, Urie Bronfenbenner menyepakati bahwa pola pengasuhan yang sehat adalah dengan menggabungkan kehangatan emosional dan ketegasan struktur. Dalam istilah psikologi, dikenal authoritative parenting, di mana anak merasa dicintai-diarahkan secara jelas. Melalui pendekatan ini akan memberikan ruang dialog, namun juga menanamkan batasan yang konsisten.

Banyak yang menganggap bahwa gentle parenting terlalu lunak jika digunakan dalam pengasuhan, tapi jika penerapannya tepat dan konsisten, maka akan membentuk anak yang percaya diri, empatik, dan mampu mengelola emosinya. Di sisi lain, pendekatan pengasuhan yang terlalu keras dan penuh tekanan, mungkin saja efektif dalam jangka pendek, tetapi akan cukup berisiko meninggalkan luka psikologis dan perasaan tidak aman pada diri anak. 

Para ahli psikologi perkembangan, Jean Piaget, Erik Erikson, Sigmund Freud, Urie Bronfenbenner menyepakati bahwa pola pengasuhan yang sehat adalah dengan menggabungkan kehangatan emosional dan ketegasan struktur

Dalam pengasuhan, tentu saja tidak pernah berdiri sendiri, pasti terdapat beberapa konteks yang terdapat di dalamnya seperti: tekanan ekonomi, relasi antaranggota keluarga, lingkungan sosial, serta budaya yang melekat. 

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam proses pengasuhan, yang pertama adalah memahami akan perkembangan anak sehingga orang tua tahu kapan harus bersikap tegas, kapan memberi anak ruang, dan kapan mendampingi anak lebih intensif. 

Baca juga: Hilangnya Masa Kecil Anak

Kedua, memperhatikan kesehatan mental orang tua. Ketika orang tua sibuk dengan anaknya, tanpa sadar kesehatan mentalnya terabaikan. Hal ini tentunya tidak boleh terjadi, karena orang tua yang lelah secara emosional, atau membawa luka masa lalu yang belum selesai, tanpa disadari cenderung menciptakan pengasuhan yang destruktif.

Ketiga, pengaruh sosial dan ekonomi. Memang, tidak semua keluarga memiliki waktu, energi, atau sumber daya untuk menerapkan gaya pengasuhan yang ideal. Namun, dari sinilah peran penting negara dan masyarakat dalam menyediakan pendidikan pengasuhan yang terjangkau, yang dapat diakses melalui platform digital, contohnya.

Kecanggihan dunia digital memang akan menambah tantangan sendiri bagi orang tua, yang pada akhirnya mencipta dilema pengasuhan. Orang tua harus berpandai-pandai memanfaatkan platform digital untuk melakukan literasi sebagai upaya pembentukan karakter anak dalam menghadapi budaya populer, juga sebagai sarana untuk merealisasikan gaya pengasuhan ideal.

Pada akhirnya, pengasuhan anak adalah proses panjang dan sangat kompleks. Dilema pengasuhan sepertinya memang harus ada, tetapi tak perlu dibuat beban berat. Tentu saja, bukan soal siapa yang paling benar antara Nikita Willy dan Mak Damis, atau soal setuju dan tidak setuju dengan kebijakan pendidikan ala barak militer. 

Lebih dari itu, pengasuhan adalah kerja cinta yang dilakukan setiap hari dengan kesadaran dan harapan bahwa setiap anak tumbuh dan menjadi.

Bagikan
Mahasiswa Psikologi Islam UIN Raden Mas Said Surakarta

Tinggalkan Balasan

Please enter your comment!
Please enter your name here