
Festival Jagat digelar 29-30 Agustus 2026 di Jombang. Jaringan GUSDURian usung teologi ekologi untuk kelestarian alam & keadilan sosial.
JOMBANG – Urusan perusakan lingkungan di Indonesia makin hari makin bikin ngelus dada. Masifnya investasi ekstraktif dan proyek pembangunan skala besar terus mengancam keselamatan alam. Di saat bersamaan, wilayah adat dan ruang hidup warga kerap dicaplok atas nama Proyek Strategis Nasional (PSN) maupun konsesi pertambangan.
Menjawab situasi krisis tersebut, Jaringan GUSDURian menggandeng Pesantren Khoiriyah Hasyim untuk menggelar Festival Jagat 2026 (Jejaring Agama untuk Gerakan Alam dan Toleransi). Acara ini dijadwalkan berlangsung selama dua hari di Seblak, Jombang, yakni pada Sabtu dan Minggu, 29-30 Agustus 2026.
Isu lingkungan yang diangkat tidak main-main. Mengusung tema “Agama untuk Alam Semesta: Merusak Alam Sama dengan Merusak Kemanusiaan”, hajatan ini ingin mengingatkan bahwa urusan menjaga bumi bukan cuma beban aktivis atau pemerintah semata. Nilai-nilai keagamaan perlu dihadirkan sebagai kekuatan moral untuk menolak keserakahan ekologis.
Selama ini, peta gerakan lingkungan di Indonesia masih terfragmentasi ke dalam berbagai corak, mulai dari advokasi kebijakan, pendampingan akar rumput, litigasi, hingga gerakan sosial keagamaan. Atas dasar itulah konsolidasi lintas simpul gerakan menjadi sangat mendesak.
Festival Jagat diselenggarakan untuk mendiseminasikan gagasan agama dan ekologi sekaligus mempertemukan tokoh agama, akademisi, aktivis, dan masyarakat dalam satu ruang interaksi. Selain menjadi ajang menyebarluaskan praktik baik (best practices) kerja pelestarian ekologi di akar rumput, agenda ini bertujuan merumuskan Risalah Gerakan Lintas Iman sebagai komitmen bersama mengadvokasi keadilan ekologi secara berkelanjutan.
Forum Lingkar Jagat, Doa Lintas Iman, hingga Ziarah Makam Gus Dur
Rangkaian acara Festival Jagat dimulai pada Sabtu pagi, 29 Agustus 2026 pukul 09.00 WIB. Pembukaan diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, sambutan Pengasuh Pesantren Khoiriyah Hasyim dan Koordinator SekNas Jaringan GUSDURian (Jay Akhmad), serta Orasi Ilmiah bertajuk Agama dan Keadilan Ekologi oleh Alissa Wahid.
Setelah pembukaan, kegiatan langsung berlanjut ke Forum Lingkar Jagat atau Majelis Keadilan Ekologi yang terbagi ke dalam tiga sesi utama:
- Sesi 1 (10.00–12.00 WIB): Mengangkat tema “Tobat Ekologi: Tanggung Jawab Agama Terhadap Krisis Ekologi” bersama Lukman Hakim Saefudin (Gerakan Nurani Bangsa), Zainal Abidin Bagir (IRS UGM/ ICRS), Hening Parlan (Wakil Ketua MLH PP Muhammadiyah), dan Mgr. Agustinus Tri Budi Utomo (Uskup Keuskupan Surabaya).
- Sesi 2 (13.00–15.00 WIB): Mengusung tema “Merawat Bumi Dari Akar Rumput” yang diisi oleh Inaya Wahid (Board Greenpeace & GUSDURian Peduli), Prigi Arisandi (Pendiri ECOTON), Tri Mumpuni (Ketua Yayasan IBEKA dan Dewan Pengarah BRIN), serta Bambang Tri Daxoko (RMI-Indonesian Institute for Forest and Environment).
- Sesi 3 (15.30–17.00 WIB): Berfokus pada Perumusan Risalah Jagat yang dipandu oleh Zaimatus Sa’diyah (Akademisi UIN Walisongo Semarang), Eko Cahyono (Sayogjo Institute), Roy Murtadho (Ponpes Misykat Al-Anwar Bogor), dan Dewi Anggraeni (Akademisi UIN Gus Dur Pekalongan).
Sepanjang hari Sabtu, arena festival juga diramaikan oleh kegiatan Fun Games Jagat untuk santri dan pelajar. Sesi pagi (10.00-12.00 WIB) diisi dengan permainan Ruang Cerita, Puzzle Ekologi, Ular Tangga Ekologi, Kartu Sampah Organik & Anorganik, serta Kartu 9 NU Gus Dur. Kemudian sesi siang (13.00-15.00 WIB) dilanjutkan dengan Ular Tangga Mangrove, Puzzle Mangrove, Tebak Kata Mangrove, Engklek, dan Quartet Card.
Suasana bergeser lebih santai dan semarak pada Sabtu malam di Panggung Jagat (19.00-22.10 WIB). Pengunjung disuguhkan penampilan musik Klenteng Gudho, dilanjutkan nonton bareng film dokumenter Mata Air Yang Hilang Di Wonosalam, Jombang, pertunjukan Banjari dari Pesantren Seblak, Tari Abu Semeru dari Sanggar Seni Wilwatikta, musikalisasi puisi oleh Zulfa Yusuf, komedi tunggal dari Dodok Jogja, serta pertunjukan musik penutup dari Hamid Uye.
Memasuki hari kedua pada Minggu, 30 Agustus 2026, fokus kegiatan bergeser ke aksi edukasi dan kepedulian sosial. Sejak pagi hingga siang (10.00-15.00 WIB), Kelas Belajar (Ekologi) Jagat membuka pelatihan khusus pengolahan sampah di pesantren, sekolah, dan rumah ibadah.
Selain itu, ada pula kelas tematik pembuatan lilin aromaterapi dari minyak jelantah, bank sampah anorganik, pengelolaan sampah organik (pupuk cair, maggot, dan kompos), hingga pengolahan kopi. Pada rentang waktu yang sama, tim GUSDURian Peduli mengomandoi aksi bakti sosial berupa cek kesehatan gratis dan donor darah bagi warga setempat.
Seluruh rangkaian perhelatan ditutup dengan Ziarah Makam Gus Dur di kompleks Pesantren Tebuireng pada Minggu sore (15.00-17.00 WIB). Setelah perjalanan rombongan dari Pesantren Seblak, acara diawali dengan tahlil bersama, dilanjutkan sambutan Koordinator SekNas Jaringan GUSDURian (Jay Akhmad), testimoni sosok Gus Dur oleh Mgr. Agustinus Tri Budi Utomo, nasehat dari Ibu Nyai Hj. Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid, pembacaan Doa Lintas Iman, serta prosesi tabur bunga sebagai penutup khidmat.
Adapun Festival Jagat akan digelar pada Sabtu-Minggu, 29-30 Agustus 2026, berpusat di Pesantren Khoiriyah Hasyim, Seblak, Jombang, Jawa Timur, serta Pesantren Tebuireng Jombang. Untuk pendaftaran atau partisipasi dalam kegiatan ini dapat diakses melalui tautan di bawah ini.
Link Pendaftaran Festival Jagat 2026: s.id/festivaljagat



