
Jauh sebelum pamflet serangkaian acara Patjarmerah di Solo menghiasi lini masa media sosial, saya sudah menaruh hati dan antusiasme yang tinggi tentang buku dan peristiwa. Ketertarikan saya tentu bukan tanpa sebab-musabab. Sebagai orang yang berjalan di dunia perbukuan, mendengar festival buku keliling Indonesia yang sudah kesohor ini dihelat di Solo—sebuah kota yang saya tinggali beberapa tahun belakang—sungguh sebuah anugerah.
Festival Patjarmerah diselenggarakan di Ndalem Djojokoesoeman sejak tanggal 1-9 Juli 2023. Lokasi festival yang juga menjadi cagar budaya ini cukup representatif untuk menjadi ruang pertemuan-perjumpaan dan senarai acara dalam Patjarmerah. Taman dan bangunan joglo yang cukup luas, juga pepohonan yang masih asri, memberi nuansa tersendiri.
Para pengunjung berjalan-jalan, duduk di bangku taman, mendengar gemericik air mancur, melihat hamparan buku, menyimak sesi diskusi, hingga memuaskan nafsu berbuku. Burung-burung pun ikut mampir di taman, seperti hendak menyaksikan.
Orang-orang datang dengan bayangan akan bertemu buku. Mereka bergerak ke Ndalem Djojokoesoeman dengan niat dan tekat memuliakan buku. Selain, juga untuk silaturahmi. Hal yang terakhir ini benar-benar ada di lubuk hati saya. Saya berharap di sana berjumpa teman-teman lama—yang sudah jarang bersua—dan teman baru, tentunya.
Baca juga: Pesantren: Melanggengkan Tradisi, Menjaga Silaturahmi
Selaku orang yang nyaris tiap hari ke sana, saya melihat para pegiat literasi—dari berbagai usia dan komunitas—di Solo berkumpul, berbagi cerita. Salah seorang kawan yang datang setiap hari ke Ndalem Djojokoesoeman sempat bilang kepada saya, “ya kapan lagi lho. Mumpung di Solo.” Patjarmerah jadi peristiwa yang tidak boleh dilewatkan tanpa kedatangan dan perhatian.
Ragam wacana
Beberapa sesi yang cukup menarik turut mewarnai Patjarmerah di Solo. Dari mulai lokakarya penerbit independen, penerjemahan sastra, sejarah kuliner, memoar penyintas ’65, filsafat, bacaan anak, temu komunitas, nonton bareng, sampai patjar-patjaran—sebuah agenda melingkar bersama untuk berbagi pengalaman membaca sesama pembaca buku.
Sebelum hari pertama, ada sesi prafestival yakni lokakarya dengan judul “Story Telling Tourism: Mengembangkan Narasi Pariwisata dan Identitas Destinasi” di The Sunan Hotel. Sesi prafestival ini diisi langsung oleh penggagas Patjarmerah, siapa lagi kalau bukan, Windy Ariestanti. Saya tidak ingin ketinggalan menyimak acara prafestival yang tidak kalah menarik ini. Sudah gratis, lokasinya di hotel pula. Sesi prafestival ini jaraknya sepekan sebelum hari pertama festival bergulir.
Sesuai aturan, setiap peserta yang ingin mengikuti sesi diskusi maupun lokakarya, mesti daftar lewat website resmi patjarmerah dan harus konfirmasi kehadiran sebelum hari pelaksanaan festival. Saya menyimak betul sturan ini. Pendaftaran setiap sesi rupanya dibuka di website sejak tanggal 23 Juni.
Sedari pagi, saya sudah was-was tho. Saya mesti perang tiket dengan peserta yang lain—yang saya tidak tahu berapa jumlahnya. Beberapa sesi langsung diserbu-diserang oleh pendaftar dan lekas penuh, tiada lagi kuota peserta yang kosong. Beruntungnya, saya berhasil mendaftar beberapa sesi yang saya ingin simak.
Sesi yang saya nanti-nanti, satu di antaranya adalah lokakarya penerjemahan. Lokakarya yang digelar tanggal 2 Juli ini diisi oleh Asri Pratiwi Wulandari, Gita Nanda (Labirin Buku), dan Andri Setiawan (Haru). Ketiga nama ini sudah tidak asing lagi dalam dunia penerjemahan mutakhir. Mereka membabarkan bagaimana ruang dan proses kerja yang dilakoni selama menggeluti dunia penerjemahan. Saya menyimak sekaligus mencatat apa saja yang bisa saya catat.
Gita Nanda menguraikan bahwa seorang penerjemah harus benar-benar memahami naskah terjemah. Penerjemah yang aktif menerjemahkan sastra Amerika Latin kontemporer ini menyebut bahwa penerjemah, selayaknya paham bagaimana logika sekaligus alam pengetahuan/budaya—meminjam istilah Anton Kurnia (2022)—bahasa asal dan bahasa tujuan. Yang tidak kalah urgent, bukan hanya soal struktur dan isi teks, melainkan hal-hal di luar teks: posisi penulis dalam peta sastra dan ideologi yang dianut penulis.
Saya jadi ingat penjelasan Sapardi Djoko Damono dalam buku Alih Wahana (2018). “Penerjemah sastra pada dasarnya adalah pengarang yang mencipta dengan batasan dan kungkungan, dan ikatan yang berasal dari karya yang diterjemahkannya.” Karya sastra kemudian terbit dan hidup kembali dengan bahasa yang lain, terbaca publik dengan latar belakang budaya yang beda. Kisah-kisah dari satu bahasa/benua tak pelak melanglang buana, tak terhalang sekat pemisah berupa bahasa yang sudah dijembatani oleh kerja-kerja penerjemah.
Karya sastra kemudian terbit dan hidup kembali dengan bahasa yang lain, terbaca publik dengan latar belakang budaya yang beda
Malamnya, seusai lokakarya penerjemahan, Ronny Agustinus, penerjemah kondang dan pendiri Marjin Kiri, membuat takarir di akun Instagram pribadinya @sastra.alibi. Bahwa perbukuan Indonesia boleh gembira dengan penerjemah muda yang karya-karyanya, Ronny yakin, “akan mewarnai sastra terjemahan kita ke depan”.
Takarir garapan Ronny benar-benar menebalkan iman saya untuk membawa pulang—dengan menukarnya dengan beberapa lembar uang tentunya—salah satu terjemahan Gita Nanda. Apalagi kalimat Ronny yang berbunyi, “Anda termasuk golongan merugi kalau belum membaca terjemahan mereka.” Duh, Gusti. Hindarkanlah saya dari golongan orang-orang yang merugi.
Pasar Buku
Festival Patjarmerah diikuti oleh banyak penerbit di Indonesia. Para penerbit baik mayor maupun indie, turut memajang koleksi mereka di meja-meja bazar. Sekian buku seolah-olah melambai, ingin dibeli dan dibelai. Mereka pun seperti benda hidup, yang bisa jadi teman terbaik sepanjang waktu—sampai usia meredup.

Mengunjungi pasar buku seperti pengesah kehadiran. Kurang lengkap rasanya, bila seorang pengunjung sekadar keliling-keliling tanpa mengunjungi pasar buku. Beberapa tokoh penting, seperti Mas Gibran (Walikota Solo) dan Pak Ganjar (Gubernur Jawa Tengah), tak lupa jalan-jalan ke bazar dan memborong beberapa buku. Satu buku yang kedua tokoh ini beli adalah buku Kanonisasi Budaya: Masyarakat Indis Surakarta di Tengah Arus Pergolakan Budaya (2023) karya Pak Santo, dosen sejarah UNS.
Baca juga: 50 Tahun Majalah Bobo: Kenangan dan Kasmaran
Pasar buku di festival Patjarmerah dibagi menjadi tiga tempat. Pasar buku utama, yang terletak di bawah Joglo, menjadi pemandangan pertama setelah para pengunjung melewati pintu masuk. Pengunjung lekas melihat deretan buku keluaran penerbit indie, baik fiksi maupun non fiksi. Pasar buku ini menjadi alternatif untuk mencari-mengoleksi buku, seperti buku-buku yang susah dicari maupun yang harus dipesan lewat lokapasar.
Genre dan tema yang ditawarkan oleh masing-masing penerbit di meja bazar sangat variatif. Hal ini memberi tawaran yang beragam bagi calon pembeli untuk memilih bacaan. Philip G Altbach & Damtew Teferra dalam Bunga Rampai Penerbitan dan Pembangunan (2000) menerangkan bahwa meski punya segmentasi yang kecil, buku-buku semacam fiksi, sejarah, analisis politik, telaah peristiwa mutakhir, sangat penting guna menambah intelektualisme masyarakat. Buku jadi punya peran membentangkan wawasan dan mempengaruhi perubahan sosial.
“Penerbitan,” tulisnya, “karena mutlak esensial bagi kehidupan budaya, ilmiah dan pendidikan bangsa, memiliki sifat penting yang melampaui peran ekonominya yang terbatas.” Buku masih mungkin dihadirkan pada pembaca meski dalam batasan dan perhitungan.
Seminggu lebih festival Patjarmerah di Solo menjadi tidak terasa, sebab waktu cepat berlalu. Ada buku yang berhasil dibawa pulang, ada yang tinggal. Demikian juga kenangan yang tertinggal. Foto-foto pun menumpuk di galeri, seperti cucian baju di minggu pagi. Mengingat tema festival ini adalah “denyut”, semoga semakin lancar darah yang mengalir-mengisi laju pembuluh literasi di Kota Bengawan ini ya!






