
Surakarta, 1 November 2025 — Suasana aula utama Kantor Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Surakarta pagi ini terasa berbeda. Sejak matahari belum tinggi, ratusan jamaah sudah memadati ruangan: para santri, dosen, akademisi, serta kader muda NU dari berbagai wilayah di Solo Raya datang dengan semangat keilmuan yang membuncah.
Mereka hadir mengikuti kajian turats monumental yang dipimpin oleh KH. Ahmad Muhamad Mustain Nasoha, aktivis Bahsul Masail sekaligus pengajar fiqih dan ushul di berbagai lembaga keilmuan Islam. Dalam kesempatan ini, Gus Mustain — sapaan akrab beliau menuntaskan kajian kitab karya Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari berjudul Risālah fī Ta’akkud al-Akhdzi bi Madzahib al-Arba‘ah.
Kajian tersebut menjadi momen bersejarah karena menandai khataman kitab penting yang jarang dikaji secara mendalam di tingkat cabang. Kitab ini, yang ditulis langsung oleh pendiri Nahdlatul Ulama, membahas pentingnya komitmen terhadap empat mazhab besar Islam: Hanafi, Maliki, Syafi‘i, dan Hanbali sebuah tema yang sangat relevan di tengah arus zaman yang serba instan dan serba bebas tafsir.
Dalam pembukaannya, Gus Mustain menjelaskan bahwa Risālah fī Ta’akkud al-Akhdzi bi Madzahib al-Arba‘ah bukan sekadar karya hukum Islam, tetapi manifestasi cara berpikir ilmiah dan spiritual KH. Hasyim Asy’ari. Menurutnya, kitab ini lahir dari keprihatinan atas munculnya gerakan modernis Islam awal abad ke-20 yang menolak taqlīd (mengikuti pendapat ulama) dan menganggap mazhab sebagai penghalang kemajuan berpikir.
Kemajuan Berpikir
“Hadratussyaikh menulis risalah ini bukan untuk membatasi kebebasan berpikir, tetapi untuk menuntun arah berpikir agar tetap bersandar pada ilmu dan sanad ulama. Tanpa bimbingan mazhab, tafsir agama bisa liar, bahkan berpotensi memutarbalikkan ajaran Islam,” jelas Gus Mustain di hadapan para jamaah dengan nada tegas namun lembut.
Baca juga: KH. Muhammad Nur Nashuha: Ulama Pejuang Pendidikan Islam
Ia menambahkan bahwa keunikan kitab ini terletak pada kemampuannya menggabungkan tiga kekuatan utama:
- Kedalaman dalil klasik (naqli) yang berpijak pada Al-Qur’an dan hadis.
- Ketegasan metodologi ilmiah (ushul fiqh) yang menunjukkan disiplin berpikir ulama salaf.
- Kecerdasan membaca realitas zaman, menjadikan risalah ini tidak terperangkap masa, melainkan relevan lintas generasi.
“Kitab ini tidak sekadar mengajarkan hukum fiqih, tapi membangun kesadaran epistemologis — kesadaran berpikir. KH. Hasyim Asy’ari mengajarkan bahwa memahami agama bukan hanya hafal teks, tapi memahami cara berpikir para mujtahid yang menafsirkan teks itu,” terang Gus Mustain.
Dalam penjelasannya, Gus Mustain juga menyinggung fenomena keagamaan masa kini yang sering kali jauh dari tradisi sanad. Maraknya “ustaz instan”, video dakwah pendek tanpa landasan ilmiah, hingga interpretasi bebas di media sosial menjadi tantangan serius bagi generasi Muslim modern.
“Di era digital ini, semua orang bisa bicara agama. Tapi tidak semua punya sanad ilmu. Di sinilah pesan KH. Hasyim Asy’ari menjadi tameng. Bermadzhab bukan berarti menutup akal, tapi menjaga agar akal tidak liar. Mazhab itu pagar metodologis agar pikiran manusia tetap dalam rel kebenaran wahyu,” tutur Gus Mustain yang juga aktif dalam berbagai forum Bahtsul Masail.
Risalah karya KH. Hasyim Asy’ari ini, lanjutnya, menunjukkan kebesaran jiwa ulama Nusantara yang mampu menyeimbangkan antara ijtihad dan ittibā‘, antara akal dan wahyu, serta antara intelektualitas dan spiritualitas.
Selain aspek hukum, Gus Mustain menyoroti bagian penting dalam risalah tersebut: adab mencari ilmu dan menjaga sanad. KH. Hasyim Asy’ari mengingatkan bahwa ilmu tidak cukup dikuasai melalui bacaan atau terjemahan, tetapi harus diwariskan melalui hubungan guru dan murid yang penuh adab dan keberkahan.
“Salah satu penyakit zaman ini adalah ketika orang merasa cukup dengan ‘browsing’ dan membaca terjemahan. Padahal, KH. Hasyim Asy’ari menegaskan bahwa ilmu harus bersanad, karena cahaya ilmu hanya turun lewat hubungan guru dan murid,” lanjut Gus Mustain disambut anggukan para peserta.
Ketua PCNU Surakarta, KH. Masyhuri, dalam sambutannya menyampaikan rasa bangga dan apresiasi atas terselenggaranya kajian tersebut. Menurutnya, kegiatan ini menjadi bukti bahwa NU tidak hanya berdakwah melalui mimbar dan sosial kemasyarakatan, tetapi juga melalui pendalaman turats dan penguatan sanad keilmuan.
“Kegiatan seperti ini sangat penting di tengah derasnya arus digitalisasi dan liberalisasi pemikiran. PCNU Surakarta berkomitmen menjadikan kantor ini bukan hanya tempat rapat, tapi rumah ilmu — tempat lahirnya pemikiran-pemikiran yang bersanad, beradab, dan berpijak pada tradisi ulama salaf,” ujar KH. Masyhuri disambut gema takbir dan doa para hadirin.
Beliau menambahkan, kegiatan halaqah turats semacam ini akan terus digelar secara berkala untuk melahirkan generasi muda NU yang berilmu, berakhlak, dan berakar kuat pada manhaj Ahlussunnah wal Jamaah.
Selama hampir tiga jam, suasana kajian berlangsung hangat dan dinamis. Peserta tidak hanya mendengarkan, tetapi juga aktif berdiskusi. Beberapa santri bertanya tentang bagaimana prinsip mazhab diterapkan dalam kehidupan modern, mulai dari hukum ekonomi hingga etika bermedia sosial.
Baca juga: Menguatkan Tradisi Aswaja, PCNU Surakarta gelar Kajian Kitab Kuning
Di akhir sesi, kajian ditutup dengan khataman kitab dan doa bersama yang dipimpin oleh para kiai sepuh. Suasana berubah haru ketika Gus Mustain menutup dengan doa khatmil kitab, memohon agar ilmu yang dipelajari menjadi ‘ilm an-nafi‘ — ilmu yang bermanfaat dan menumbuhkan keberkahan bagi masyarakat.
“Semoga cahaya ilmu Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari senantiasa menyinari perjalanan umat Islam di Surakarta dan seluruh Nusantara,” ujar Gus Mustain menutup acara dengan nada lirih namun penuh makna.
Kegiatan ini sekaligus menegaskan kembali peran PCNU Surakarta sebagai pusat dakwah, pendidikan, dan penguatan tradisi keilmuan Islam yang moderate, tawassuth, dan bersanad. Melalui kegiatan semacam ini, NU di Surakarta menampilkan wajah Islam yang teduh, mendalam, dan berakar kuat pada khazanah keilmuan ulama klasik — sekaligus adaptif terhadap tantangan modernitas.
Semangat hubbul ‘ilm wa hubbul ulama — cinta ilmu dan cinta ulama — menjadi napas acara ini. Sebuah nilai yang terus dihidupkan oleh para kiai dan santri agar warisan keilmuan KH. Hasyim Asy’ari tidak hanya dipelajari, tetapi dihayati dalam kehidupan sosial umat.






