Plastik dan Ekologi

Saat menyebut kebiasaan buruk masyarakat kita, akan sangat kurang lengkap jika tidak menyebut buang sampah sembarangan. Laku buang sampah sekenanya ini membuat sampah nyaris ada di mana-mana. Saat kita jalan-jalan atau keluar rumah, tidak bisa tidak kita akan menjumpai sampah, semungil apapun itu.

Marco Kusumawijaya, seorang arsitek dan aktivis urban, dalam buku Jakarta Metropolis Tunggang-langgang (2004) sampai menyentil masyarakat Indonesia sudah lama kondang sebagai pembuang sampah seenak udel.

Sampah ada di sepanjang jalan atau pinggiran jalan. Sampah-sampah itu lazimnya berupa tisu, bungkus permen dan camilan, bungkus rokok, botol minuman, dan sebagainya. Kebiasaan ini seolah menafikan apa yang selama ini diajarkan sejak di Sekolah Dasar, yakni ajaran membuang sampah pada tempatnya.

Bermula dari fenomena ini, yang mayoritasnya adalah sampah plastik, menjadi problem yang berkepanjangan. Plastik dan ekologi menjadi persoalan genting. Bukan sebatas kebiasaan buruk membuang sampah secara sembarangan, tetapi juga soal pengurangan, pengelolaan dan pendaur-ulangan sampah menjadi sumber daya terbarukan.

Lebih-lebih sampah plastik. Tempo mengurusi plastik, tak bisa dipungkiri, bahwa kita sebenarnya merasa kelimpungan. Apabila didiamkan di tanah, plastik akan mengusik makhluk sebangsa cacing dan mengurangi tingkat produktivitas tanah.

Jika dibakar, plastik juga akan menghasilkan emisi karbondioksida (CO2) dan melubangi ozon di atmosfer bumi. Bila dibuang ke sungai, plastik malah mencemari air sekaligus menggangg keberlangsungan hidup flora-fauna di areal sungai, bisa juga berlabuh di laut lalu mengotori samudra.

Ekosistem lingkungan yang sudah tertata dan runtut jelas akan terganggu. Meski sebelum kehilangan fungsi dan benar-benar hanya menjadi onggokan sampah, plastik digunakan untuk membantu pekerjaan manusia, baik secara individual maupun komunal.

Pelbagai sektor kehidupan pun tersokong plastik. Mulai dari industri, properti, kuliner, otomotif, hiburan, sampai fesyen. Penggunaan plastik secara masif ini, tak pelak lagi, menimbulkan sampah plastik yang melimpah. Benar-benar melimpah.

Kita bisa menengok di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA), misalnya. Di situ, sampah plastik sampai menggunung dan berjubel di antara limbah rongsokan dan alat tak terpakai lainnya.

Plastik yang berguna dalam menunjang laku kehidupan sehari-hari, rupanya juga menyimpan sisi gelap yang bisa mencelakakan manusia, bahkan planet Bumi sebagai tempat tinggal umat manusia satu-satunya. Kita akhirnya mulai berseru untuk bergeser dari plastik dan mencari alternatif. Peralihan ini tentu membutuhkan sosialisasi, dukungan, dan antusiasme dari segenap masyarakat.

Baca juga: Sketsa Masjid Sultan Muhammad Salahuddin Bima

Walau ada himbauan dari beragam pihak untuk mengurangi penggunaan plastik seminimal mungkin, kita toh juga tak bisa jauh-jauh apalagi sampai meniadakan sama sekali (penggunaan) plastik. Orang-orang masih menggunakan plastik walaupun tahu, sebenarnya plastik itu mengandung ancaman berbahaya.

Maka, tiap penggunaan plastik satu kali untuk satu orang, bakal menimbulkan satu sampah plastik. Tak jarang, satu orang menghabiskan lebih dari satu plastik. Ini belum termasuk kalkulasi dari penggunaan plastik secara kapitalis-ekonomistik di pusat-pusat perbelanjaan. Kita pasti pernah melihat orang menenteng belanjaan borongan, lewat kantong-kantong kresek-yang mencep-mencep-di tangan.

Setelah pelbagai kegiatan manusia, baik dalam rumah tangga maupun keperluan lainnya, plastik lekas berubah jadi sampah. Lazimnya, bila tidak berakhir dengan dibakar, sampah plastik akan berlabuh di sungai, mengalir bebas bersama sampah-sampah lainnya.

Kondisi ini mengakibatkan sampah yang berada di sungai, lantas bermuara di laut. Hal ini menambah (lagi) problem yang cukup serius. Saya akan sedikit menyinggung tentang akibat sampah plastik yang berujung di laut.

Lautan Plastik

Seperti yang dibentangkan Laura Parker dalam majalah National Geographic Indonesia edisi Mei 2019 bahwa, mayoritas sampah plastik berasal dari sungai atau pembuangan yang sembarangan di daratan, lalu terbawa sampai laut dengan tingkat rata-rata sekitar 9 juta ton dalam setahun.

Adapun sinar matahari, angin, dan ombak pada akhirnya juga memecah sampah plastik menjadi kepingan yang nyaris tak terlihat. Satu di antara ketidaktahuan dan keprihatinan terbesar adalah dampak mikroplastik, yang ukurannya lebih kecil dari 5 mm. Serpihan sampah plastik ini mengurangi nafsu makan dan tingkat pertumbuhan ikan. Selanjutnya, juga memengaruhi reproduksi, yang pada akhirnya adalah besarnya populasi.

Jika kita menilik ikan yang baru lahir, makan berarti sama dengan hidup satu hari lagi; jika makanan pertama mereka adalah plastik, ikan-ikan mungil itu tidak mengonsumsi kalori yang dibutuhkan untuk menyokong kehidupan mereka sampai makanan berikutnya. (National Geographic Indonesia, Mei 2019)

Yang jelas, adanya plastik di lautan itu tidak datang dengan sendirinya. Ada tangan-tangan yang menjadikannya berada di sana. Jika tidak dari kesengajaan buang sampah di pantai, sampah-sampah itu bermula dari daratan, konsentrasi tempat tinggal manusia dengan segala aktivitasnya.

Sementara itu, sungai mendapat persentase terbanyak yang memungkinkan bocornya sampah plastik menuju lautan, sebanyak 80%. Sedangkan, 20% yang lain terdapat dari kalkulasi para pembuang sampah yang langsung ke laut. (Kompas, 19 September 2020)

Sebagian besar dari kita setidaknya pernah melihat pinggiran sungai yang penuh sampah. Sampah plastik sepertinya tidak pernah abstain di sungai. Entah dalam kondisi baru saja dipakai, atau telah tertinggal cukup lama hingga sangat tidak mirip dengan bentuk awalnya.

Kesadaran Kolektif dan Kelimpahan

Kita sebenarnya sadar, bumi tak hanya menaungi manusia semata. Tetapi juga makhluk hidup lainnya. Namun, keberadaan manusia beserta tingkah polahnya nan eksploitatif justru mampu menggeser dan menjarah hak hidup makhluk lain. Bahkan tak jarang, melenyapkan makhluk hidup yang lain hingga mengguncang populasi spesies tertentu.

Bermula dari persoalan plastik, bisa merembet ke pelbagai spektrum. Plastik rupanya memang berguna, tapi juga benar-benar menyisakan dilema. Kita memang tak bisa menutup-nutupi imbas dari plastik. Kala menjelang krisis ekologi ini, sudah seyogyanya kita mengerti dan memahami betul urgensi atas penggunaan plastik.

Baca juga: Ritual Mahesa Lawung di Alas Krendowahono

Sebut saja dengan langkah-langkah kecil semacam tidak menggunakan ulang plastik sekali pakai, ke mana-mana membawa botol minum sendiri, mendaur ulang sampah, memilah sampah organik dan anorganik, mengayuh sepeda angin atau jalan kaki bila menempuh jarak dekat, dan seterusnya.

Tindakan terakhir ini juga mengurangi emisi karbon. Saya pikir gerakan ini, cukup bermanfaat, dan bila dilakukan oleh segelintir orang tapi cukup sering (masif), punya dampak signifikan bagi lingkungan dan tempat kita tinggal. Oleh karenanya, plastik dan ekologi layak menjadi konsensus bersama.

Satu konsep yang bisa diajukan untuk menanggulangi problem ekologis—di tengah kondisi perpuataran ekonomi macam sekarang—adalah kelimpahan (plenitude) dari Juliet B. Schor.

Intelektual cum aktivis sosial asal Amerika ini menyebut destabilisasi iklim, kenaikan harga pangan, dan energi seantero jagat perlu dipahami sebagai peringatan bahwa, satu-satunya planet yang kita tinggali ini sedang mengalami tekanan akibat ulah homo economicus. Maka, pergeseran arah dan implementasi sistem ekonomi alternatif ada di dalam konsep kelimpahan itu.

Sementara, fenomena yang bergulir sekarang adalah menggenjot sektor industri dan perbaikan-percepatan ekonomi tetapi memalingkan diri dari aspek lingkungan. Senyatanya, lingkungan beserta habitat binatang di dalamnya memang sulit dikembalikan dan amat sering jadi korban.

“Kelimpahan merupakan pengaturan yang cermat atas sumber-sumber kekayaan yang berangkat dari pesan sederhana, yaitu sukarela dan mendengarkan kritik atas budaya konsumen yang boros sehingga menerima spirit ‘lebih sedikit lebih baik’ dan ‘mendapatkan lebih banyak dengan lebih sedikit kerusakan,” terang Heru Nugroho dalam buku Melintas Perbedaan: Suara Perempuan, Agensi, dan Politik Solidaritas (2021). Jadi, mesti ada pertimbangan ekologis dulu sebelum melakukan sesuatu.

Upaya ini perlu didukung dengan kesadaran kolektif. Tanpa kesadaran bersama, baik dari kalangan masyarakat maupun para pembuat aturan, kita sangat mungkin menjumpai lebih banyak—bahkan lebih buruk—dari konsekuensi ekologis kelak.

Yang pasti, kita butuh prospek ambisisus dan istiqamah guna memperbaiki (tata kelola) yang sudah parah. Kelindan antara plastik dan ekologi adalah perkara yang harus segera tuntas diselesaikan. Kita mesti berjihad secara ekologis, termasuk mengurangi sampah plastik dan sampah-sampah yang lain, sekaligus menjaga keutuhan-keberlangsungan ekosistem alam.

Bagikan
Pengajar bahasa Inggris dan peresensi buku. Sekarang ia sedang menyiapkan buku himpunan esai pertamanya. Bisa disapa via instagram @dibbaroya atau surel adib.baroya@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Please enter your comment!
Please enter your name here