Hadir di tengah-tengah upaya menumbuhkan gagasan dan ide kreatif dalam melihat dinamika Islam dalam bermasyarakat dan bernegara. Muktamar Ilmu Pengetahuan mewujud kegiatan yang membangun ruang dialektika yang membumi. Pasalnya, muktamar tersebut menjadi ajang untuk menyusun arah gerak dalam menjelang masa-masa mendatang. 

Kegiatan ini diselenggarakan oleh Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah – dan merupakan Muktamar ke 2 – yang dilaksanakan pada tanggal 7-8 Desember 2024, di Auditorium Universitas Sebelas Maret Surakarta. 

Seperti pada muktamar sebelumnya, muktamar kali ini turut menghadirkan para ilmuwan dan cendekiawan baik dari pondok pesantren maupun dari universitas atau perguruan tinggi dari berbagai wilayah di Jawa Tengah. Tidak hanya itu, muktamar ini juga mengangkat tema yang sangat menarik, “Merefleksikan Kembali Peran NU Sebagai Civil Society”. 

Tujuan agenda monumental ini adalah merefleksikan dan merancang strategi peran Nahdlatul Ulama (NU) dalam menghadapi tantangan global, sosial, dan geopolitik saat ini.

Setidaknya, muktamar ilmu pengetahuan ke-2 ini menghadirkan tiga tema diskusi besar; swasembada pangan dengan pertanian organik, strategi pemberdayaan dan pengabdian NU, dan Indonesia dalam peta geopolitik terkini. 

Dengan adanya tiga tema besar tersebut, Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) berharap dapat menghasilkan gagasan kunci guna memperkukuh peran NU sebagai elemen civil society serta dapat memberikan sumbangsih riil atas pengembangan masyarakat, juga kebijakan “birokrasi” negara, khususnya di Jawa Tengah.

Baca juga: Fiksi Sains dan Perubahan Imajinasi 

M. Zainal Anwar sebagai ketua Lakpesdam NU Jawa Tengah turut memberikan harapannya terhadap Muktamar Ilmu Pengetahuan PWNU Jateng ini, yakni demi mendorong lahirnya ide-ide besar yang relevan dalam menjawab berbagai persoalan & tantangan zaman sekaligus menyelaraskan gerak Lakpesdam di pelbagai daerah. Kehadiran para narasumber menjadi harapan besar untuk menebar wawasan dan pikiran cemerlang yang aplikatif dan ideal.

Ketua panitia, H. Khairul Imam dalam sambutannya juga menyampaikan, bahwa muktamar ini menjadi pertemuan yang tidak hanya sebagai dialektika pengetahuan, tetapi juga sebagai momentum penting bagi NU untuk memperkuat peran sebagai civil society di berbagai bidang strategis; pangan, pemberdayaan masyarakat, dan dinamika politik. 

Selanjutnya, Khairul Imam juga berharap pertemuan ini bisa menjadi ruang temu intelektual yang melibatkan berbagai perspektif, merentang dari tokoh-tokoh nasional sampai pakar lintas disiplin.    

Adanya perhatian NU terhadap pengetahuan merupakan bentuk elektabilitas yang harus dijunjung tinggi sebagai bagian dari peradaban yang harus dihidupi. KH. Ubaidullah Shodaqoh dalam Khutbah Iftitahnya menyampaikan bahwa ilmu pengetahuan punya peran penting dalam kehidupan masyarakat, terutama dalam upaya memajukan sumber daya sosial, ekonomi dan negara-banga. Inilah yang disebut sebagai Ilmun yutafa’ubih, yaitu ilmu yang tidak hanya bermanfaat di ruang agama, pendidikan, budaya, politik tetapi juga di ruang-ruang lain yang mungkin & lebih luas. 

Baca juga: Dialog Lintas Agama: Orang Jepang dan Agamawan Indonesia 

KH. Ubaidullah menegaskan peran pesantren maupun perguruan tinggi adalah rumah pengetahuan yang memiliki visi dan misi yang sama sebagai pelopor & penggerak yang banyak melahirkan peradaban bangsa ini.

Kendati demikian, permasalahan ilmu pengetahuan juga tak luput sebagai persoalan yang harus ditanggapi. Pasalnya, banyak di antara kalangan pesantren dan perguruan tinggi masih memandang-menerapkan ilmu pengetahuan hanya sebagai basis teoritis sehingga kurang taktis. 

Dari sini KH. Ubaidullah meminta kepada para cerdik dan cendekia pesantren maupun kampus, supaya memaksimalkan peran vital ilmu pengetahuan yang tidak hanya sebagai fondasi ontologis yang dapat dipahami secara nalar ilmiah-akademik, tetapi juga sebagai basis praktis yang dapat dijalankan dengan norma-norma yang berlaku. 

Lebih jauh, beliau menambahkan bahwa lahirnya Muktamar Ilmu Pengetahuan menjadi jembatan akan tumbuhnya pemikiran-pemikiran baru yang tak hanya lahir dari kalangan pesantren tetapi juga dari para sarjana dan cendikia dari perguruan tinggi.  

Tentunya, penting bagi kita untuk memahami sebuah pengetahuan yang tak hanya lahir sebagai refleksi nalar kritis, tetapi juga mampu menghidupkan, mengembangkan, & menguraikan yang telah diketemukan. Tak kalah penting, adanya Muktamar Ilmu Pengetahuan PWNU Jateng yang kedua ini menjadi bukti konkrit bahwa NU menaruh visi besar dalam membangun sumber daya manusia dengan mengutamakan nilai-nilai strategis, pluralis, dan harmonis. 

Bagikan
Mahasiswa Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir UIN Raden Mas Said Surakarta

Tinggalkan Balasan

Please enter your comment!
Please enter your name here