
Sekitar beberapa candra ini, jagad media sosial ramai dengan kerumunan orang yang berjoget nikmat, barangkali senikmat air dari telaga Firdaus. Berpenampilan aneh bin nyeleneh, dengan membawa radio sampai pompa ban, mereka khusyuk menikmati alunan lagu yang berdendang. Keramaian itu rupanya amarga OM Lorenza yang sedang manggung, sebuah orkes dangdut dengan mengusung slogan “dangdut jadulnya Indonesia”.
OM Lorenza, orkes melayu dari Desa Sidorejo, Kecamatan Bendosari, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, laksana pusat gravitasi yang punya medan magnet kuat. Pasalnya, grup musik tersebut-sebut mampu menarik para penggandrung musik dangdut, khususnya kalangan menengah ke bawah.
Seperti yang saya alami. Malam itu, Jumat, 14 Februari 2025. Bertempat di Alun-alun Sambi, Desa Sambi, Kecamatan Sambirejo, Sragen ribuan Sahabat Lorenza berjalan tumpah-ruah menuju panggung di mana OM Lorenza hendak pentas.
Para hadirin berjoget-ria. Salah seorang membopong radio klasik di pundaknya. Ada yang membawa ban bekas. Dibalut dengan pakaian mereka yang nyentrik; rambut palsu bermacam warna, celana cutbray, kacamata hitam, topi ala cowboy. Meski bumi sedang dirundung hujan, Sahabat Lorenza tetap asyik-masyuk bergoyang di lokasi penonton; tanpa suatu halangan maupun beban.
Lagu Lama, Suara Kini
OM Lorenza mendobrak popularitas dengan tema jadul, membawakan lagu-lagu dari masa lampau. Sebut saja lagu Tambal Ban. Lagu ini menjadi semacam national anthem-nya. Sebuah lagu yang diciptakan kelompok dangdut asal Surabaya, Usman Bersaudara pada tahun 1970-an. Lagu ini bercerita tentang geliat seorang tukang tambal ban, yang mencoba bertahan di tengah kerasnya kehidupan. Begini penggalan liriknya:
Aku iki tukang tambal ban/ Rejekine untung-untungan/ Nasib apik duit kantongan/ Wayah apes wetengku kroso keroncongan/ Mak jedor mak jedor dor ono ban pecah/ Wah iki mesti rejeki teko/ Mak jedor mak jedor dor ban pecah maneh/ Isih esuk rejekine tambah nglumpuk oe.
Dari lirik di atas, kita mengerti bahwa rezeki orang itu sesungguhnya tiada terkira. Dari lagu ini pula, mungkin kita bisa membayangkan bagaimana pahit-getirnya yang dicecap seorang tukang tambal ban–yang mendapatkan rezeki secara tidak terencana, seperti ban yang pecah tiba-tiba. Rezeki yang tak pernah kenal waktu. Meski sedang lelap, mendengkur di tengah malam gelap.
Satu lagi, yang bikin OM Lorenza menggema di masyarakat adalah lagu Singkong dan Keju. Lagu yang dipopulerkan oleh Bill dan Brod (1986) itu, juga menjadi lagu wajib kiwari. Sebuah lagu yang pernah tenar di masanya karena lirik yang bertema cinta dan harta, membikin garis demarkasi antarpreferensi dua orang insan. Berikut liriknya:
“Kau bilang cinta padaku/ Aku bilang pikir dulu/ Selera kita/ Terlalu jauh berbeda/ Parfummu dari Paris/ Sepatumu dari Itali/ Kau bilang demi gengsi/ Semua serba luar negeri
Manakah mungkin mengikuti caramu/ Yang penuh hura-hura
Aku suka jaipong, kau suka disko/ Oh, oh, oh/ Aku suka singkong, kau suka keju
Oh, oh, oh/ Aku dambakan seorang gadis yang sederhana/ Aku ini hanya anak singkong/ Aku hanya anak singkong”
Nukilan di atas meneguhkan kita bahwa tiada cinta tanpa harta. Perbedaan status sosial juga merupa pembeda utama, seperti judulnya Singkong dan Keju–yang merepresentasikan distingsi strata sosial dan jurang pemisah antara orang kaya dengan orang miskin. Memang, kita boleh sepakat bahwa cinta tidak memandang harta. Tetapi, bukankah dengan harta cinta itu ada?
Arus Lain
Kita tiada bisa memungkiri arus popularitas OM Lorenza yang sangat deras hingga memunculkan antitesis; utamanya dalam selera musik dan fesyen penggemarnya. Tentu saja, musik dan fesyen menjadi hal integral. Bagai jodoh antara laki-laki dengan perempuan, musik dan fesyen selalu terus bergandengan tangan, hidup bersama.
Namun, kedatangan OM Lorenza dengan Sahabat Lorenza-nya di pusaran skena musik tanah air, tampak mendobrak tatanan nilai dan norma musik plus fesyen yang sudah mapan, jarang ada gebrakan. Keduanya hal tersebut sebelumnya begitu mendarah daging di masyarakat, sampai-sampai jadi tren. Kalau tidak menghanyutkan diri dalam gaya komunal, sebagian kelompok masyarakat–khususnya anak-anak muda–bakal merasa asing, kurang up-to-date, merasa berada di dunia lain, bahkan dikucilkan sampai terdiskriminasi.
Baca juga: Ponpes Hanacaraka: Membumikan Walisongo lewat Lirik Lagu
Dalam hal ini, kita bisa membaca artikel dari peneliti budaya populer guna meminjam kacamata untuk melihat fenomena tersebut. Kita membaca esai Ariel Haryanto di Majalah Prisma Vol. 28, No. 2, Oktober 2009 bertajuk Budaya Pop Indonesia: Kehangatan Seusai Perang Dingin.
Tulisan itu memusatkan diri pada pembahasan dinamika kebudayaan pop pada awal abad ke-21 yang beriringan dengan globalisasi. Proses ini memungkinkan terjadinya sejumlah perubahan-pergeseran penting di Indonesia. Perubahan itu terus berjalan dari masa ke masa dan mempengaruhi masyarakat satu dengan yang lain.
Perubahan di atas ditandai dengan perbedaan status sosial setiap anggota dan kelompok di masyarakat, dan dari sinilah budaya pop lahir. Beberapa kelompok mengidentikkan diri paling lekat dengan budaya pop.
Beberapa orang, khususnya pemain-pencipta industri budaya pop, menjadi tokoh yang turut mengatur tren. Mereka memanfaatkan kebudayaan populer (musik dan fesyen) sebagai komoditas untuk dipasarkan dengan target konsumen golongan kelas atas. Tetapi, di lain pihak, hal ini menjadi malapetaka masyarakat golongan rendah yang tidak bisa menyesuaikan diri dengan kebudayaan populer karena keterbatasan ekonomi sehingga mereka teralienasi dari sirkel tersebut, juga akibat mengakarnya kebudayaan lama yang kaku akan kebudayaan baru.
Pasar baru
Dari bahan yang kita peroleh di atas, mari kita komposisikan munculnya OM Lorenza yang nampak mencoba membangun norma dan nilai sosial yang baru. OM Lorenza boleh kita sebut sebagai antithesis kebudayaan populer–yang sudah langgeng. Bagaimana tidak? Grup orkes itu menghasilkan masyarakat yang anti kemapanan, yang dilahirkan kapitalisme lewat kebudayaan populer di masyarakat.
Dari musik, OM Lorenza mendobrak popularitas dan meluluhkan skena dangdut koplo yang telah tercampur–untuk tidak menyebutnya “terdistorsi”–aliran pop. Adapun sebagian orang merasa aneh dengan musik-musik dangdut sekarang. Rasanya berbeda. Juga nir-makna liriknya. Orang kemudian membandingkannya dengan dangdut-dangdut jadul era H. Rhoma Irama. Garapan musik Sang Raja Dangdut begitu nikmat. Liriknya mulia nun bermakna. Sebut saja tembang Perjuangan dan Doa. Dengan liriknya:
“Pahit rasanya empedu/ Manis rasanya gula/ Sakit-sakit dahulu, susah-susah dahulu/ Baru kemudian bahagia.
Berjuang (berjuang)/ Berjuang sekuat tenaga/ Tetapi jangan lupa/ Perjuangan harus pula disertai doa”.
Sepintas, dari lirik diatas, Bang Haji mengajak kita untuk seimbang. Seimbang antara perjuangan dan doa. Seimbang dunia dan akhirat. Juga mengajak agar melibatkan Tuhan di setiap urusan (duniawi) yang fana dan tiada kata puas. Inilah kerinduan sebagian kelompok masyarakat kita, yang barangkali membikin OM Lorenza sebagai wadah untuk menghadirkan narasi jadul di zaman sekarang.
Baca juga: Kondisi Iklim, Keberlanjutan Ekologi dan Kritik (lewat) Musik
Selain itu, OM Lorenza berhasil mendobrak tatanan fesyen populer dewasa ini. Kiwari, masyarakat, khususnya anak-anak muda sering menjadikan mode pakaian sebagai justifikasi bahwa ia seorang yang elit, punya strata sosial yang tinggi, dan hidup dengan nyaman dan mewah.
Namun, nuansa glamor tadi sirna di hadapan para Sahabat Lorenza. Mereka hadir dengan dandanan nyleneh sebagaimana tersaji di muka. Fesyen tadi, yang membawa kita ke masa-masa Orde Baru, pada gilirannya menjadi trend center mode pakaian. Meskipun tampak murah, tetapi tidaklah murahan. Malahan busana itu terlihat mewah sebagai legalitas dari tagar: #wayaewonglawastampil
Begitulah OM Lorenza yang mampu mendobrak popularitas. Dengan kejadulannya, ia menghadirkan nuansa vintage dan mencipta pasar baru di tengah “pasar”. Sebagaimana kita ingat tembang dari Efek Rumah Kaca bertajuk Pasar Bisa Diciptakan yang terdengar liriknya:
“Menembus rimba dan belantara sendiri (pasar bisa diciptakan)/ Membangun kota dan peradaban sendiri.”
Lalu, pertanyaannya adalah, apatah “pasar” ini bertahan lama?



