
Tahun 2026 menjadi kali kedua saya mengikuti gelaran sadranan di kecamatan Cepogo, Boyolali. Sebuah ritus kebudayaan Jawa pada bulan Sya’ban (Ruwah) yang dimulai dengan mengunjungi makam leluhur, membawa tenong, lalu terpungkasi dengan silaturahmi dari rumah ke rumah. Mengunjungi keluarga, kerabat, atau kenalan.
Menurut penuturan warga Cepogo sendiri, mereka yang tak punya hubungan kerabat pun amat boleh berkunjung. Tuan rumah malah senang kedatangan tamu yang bahkan mereka sama sekali tak mengenalnya, karena di situlah adanya jalan bagi mereka untuk mengikat tali persaudaraan antarsesama. “Siapapun boleh hadir, bahkan kalau kamu tersesat (kebetulan) di situ, tuan rumah bakal menyambut dan mempersilakan,” terang Yusuf Nur Aziz, kawan saya warga Boyolali asli yang sudah malang melintang melaksanakan prosesi kebudayaan ini.
Saya biasa memanggilnya dengan sebutan Pakde. Sekira dua bulan sebelumnya, Pakde tak henti mengingatkan saya ihwal kegiatan sadranan ini. “Tolong tanggal sekian di Februari kosongkan jadwal, ada sadranan di Cepogo,” begitu kira-kira isi pesannya. Saya tentu menyambutnya dengan lapang dan senang. Tawaran mengikuti kegiatan ini tidak boleh saya lewatkan begitu saja, sekali pun itu berbenturan dengan kegiatan saya yang lain.
Saya tak punya kerabat dan kenalan di desa-desa yang saya kunjungi, tapi saya diterima dengan baik di sini. Kami ngobrol, memakan kudapan, dan menyantap hidangan. Lelaku ini memang tidak wajib sebenarnya, tapi akan lebih bikin senang hati tuan rumah jika para tamu yang berkunjung menikmati makanan yang telah mereka sediakan.
Grebeg Sadranan
Tahun sebelumnya, 2025, saya juga turut dalam gelaran tahunan ini. Malah di tahun itu lebih meriah karena diawali dengan Grebeg Sadranan di Alun-Alun Pancasila, Cepogo. Perwakilan dari tiap desa menyunggi tenong dan memanggul gunungan, lengkap dengan renik-renik kreasinya. Grebeg Sadranan ini tidak diadakan tiap tahun, sehingga setiap kali digelar, antusias dan animo warga Cepogo, dan masyarakat luas umumnya tersedot untuk datang menyaksikan.
Banyak juga penggemar fotografi dan YouTuber yang mengabadikan momen ini dalam bentuk gambar dan video. Mereka hilir-mudik mencari posisi apik di mana peranti mereka bakal digunakan. Inilah warisan dan khazanah tradisi kebudayaan yang masih dijaga masyarakat Cepogo, yang sekaligus memikat mata khalayak untuk tak absen mendokumentasikannya.
Sadranan tahun ini digelar pada 31 Januari-10 Februari. Saya hadir di tanggal pertengahan, tepatnya tanggal 4 Februari. Saya mengunjungi rumah di desa-desa yang tak jauh dari pusat Kecamatan Cepogo; Mliwis, Sukabumi, dan Sumbung. Tahun ini tak seperti kemarin ketika saya pagi-pagi mengikuti kunjungan ke pemakaman Puroloyo di salah satu dusun di Sukabumi.
Baca juga: Janturan: Ruang dan Pesan
Pagi itu, genderang musik hadrah dari area makbarah terdengar. Sementara saya bersama Pakde menitip motor di pelataran rumah seorang warga, lanjut jalan kaki bersama mereka yang menyunggi tenong. Tua-muda rukun dan guyub berbondong-bondong menuju tempat peristirahatan terakhir leluhur mereka di makbarah Puroloyo. Di pintu gerbang makbarah, panitia menggelar kontak infaq berupa kotak. Sementara di area makam, sebagian panitia mengatur letak posisi tenong yang dibawa masyarakat agar sesuai dengan tempatnya.
Rangkaian acara sadranan di makbarah Puroloyo diawali dengan seremoni singkat. Pembacaan ayat Al-Qur’an, tahlil, ceramah, dan ditutup doa. Pada pembacaan doa tenong-tenong itu dibuka oleh pembawanya dengan maksud supaya doa-doa yang terlantun itu merasuk ke makanan yang tersaji di dalamnya. Menjelang selesai doa, warga saling siaga untuk berebut tenongan (isi tenong). Pembawa tenong bersyukur jika isiannya ludes, artinya niatan persembahan bagi ahli kubur bisa bermanfaat bagi mereka yang menerima-mengambilnya.
Histori Sadranan
Dalam ceramah itu, Mbah Kiai Dahlan menjelaskan riwayat pelaksanaan tradisi Sadranan yang telah lama sekali warga Sukabumi khususnya, dan Cepogo umumnya, laksanakan. Sadranan artinya merumat arwah leluhur, kata beliau. Mereka yang hadir dalam sadranan adalah insan yang berusaha merawat jalinan pada leluhur atau guru mereka yang berjasa semasa hidupnya.
Sadranan, lanjut Mbah Dahlan, bisa dimaknai tilik atau besuk dalam peristilahan rumah sakit. Namun, tilik ke kuburan mesti dengan ragam peralatan, misalnya dengan membawa bunga. Ada dua bunga yang dijelaskan Mbah Dahlan sering ditaburkan di atas kuburan memiliki makna filosofis Jawa; kantil (ngantil) dan kenanga (terkenang).
Kantil artinya tansah kumantil atau selalu melekat/ingat. Itulah gambaran dan tujuan daripada sadranan. Kembali melekatkan ingatan terhadap jasa-jasa para leluhur dan nenek moyang kita. Lalu kenanga maknanya terkenang. Ragam cerita dan kisah para mendiang yang telah bersemayam niscaya terus anak-cucu kenang sebagai bagian dari pelajaran dan bekal hidup.
Baca juga: Menenun Jaring-Jaring Sejarah di Ruang Kelas
Ingat sadranan di Cepogo, ingat juga tradisi munggahan di telatah Sunda. Kegiatan kultural ini mirip-mirip. Semacam syukuran atau persembahan di menjelang/menyambut bulan Ramadan kepada leluhur (ahli kubur; orang tua; kakek-nenek, buyut, dan sebagainya) lewat ziarah kubur dan saling berkunjung-berkumpul antar keluarga. Menariknya, di desa saya, kebudayaan munggahan memiliki kepanjangan ritme. Bukan saja sekedar berziarah kubur atau berkumpul keluarga, tapi antar tetangga dan kerabat saling mengantar/mengirim makanan.
Itu yang saya alami bertahun-tahun selama mengikuti tradisi munggahan. Akhirnya di satu hari munggahan itu saya bisa makan dengan pelbagai lauk. Karena di dapur banyak sekali menu kiriman dari para tetangga, uwa, dan kerabat lain.
Walhasil, dua tradisi tadi rupanya berbeda secara geografis tapi punya satu makna. Saya melihatnya spirit dalam praktik nyadran tidak beda dengan munggahan. Bagaimana mereka yang masih hidup (bernyawa) berkunjung kepada mereka yang sudah hidup di alam lian (ahli kubur). Tentunya sebagai pengingat bagi yang-masih-hidup akan masa depan yang bakal mereka lalui, serta wujud syukur akan jasa para mendiang semasa hidup.






