
Seorang tokoh yang berpengaruh di mata publik, beberapa waktu lalu ramai dibahas terkait “childfree”. Polemik childfree di media sosial jadi tren belakangan ini.
Pernyataan dari orang kesohor itu menjadi obrolan panjang bagi warganet. Seperti gayung bersambut, dibalas gayung-gayung yang lain. Selisih dan debat dalam polemik childfree pun muncul, meski tentu saja sulit untuk menjumpai kata mufakat.
Bila kita mencari padanan kata dalam bahasa Indonesia, kata childfree itu dapat diartikan sebagai keadaan tak memiliki anak. Keputusan atau pilihan hidup dari sebuah pasangan untuk tidak memiliki anak. Baik melalui adopsi maupun proses biologis sebagaimana mestinya.
Fenomena yang berujung polemik childfree tersebut agaknya menarik, hingga menaruh rasa “perlu” menelusuri makna “anak” dalam sejarah yang telah lalu. Mulanya, saya malah teringat ungkapan seorang kawan.
Pada kementakan pembacaan terhadap situasi dan kondisi yang menyelimuti kehidupan, ia pernah berkata: “kita semua itu anak zaman”. Kalimat itu terkesan rancu, dan tak usah membayangkan kapan “zaman” itu melakukan perkawinan.
Namun, secara denotasi, yang hendak dimaksud adalah sebagai orang yang hidup di zaman ini, kitalah yang menjalani dan menghadapi segala tantangan dan peluang yang ada, yang berdiri tepat di depan mata.
Kata “anak” memang sangat melekat dengan keberadaan sebuah keluarga. Kita patut mengenang bahwa sejak rezim Orde Baru, negara ikut campur dalam mengatur keberadaan anak ke dunia. Kelahiran anak diatur oleh negara, tetapi tidak sampai dilarang—apalagi enggan.
Baca juga: KH Salman Dahlawi: Penyebar Dakwah Tarekat Naqsabandiyah Khalidiyyah di Popongan
Pembaca tahu, sebuah program yang diusulkan sejak era Soekarno baru diterima pada era Soeharto. Program berwujud Keluarga Berencana (KB) dengan prinsip: dua anak lebih baik. Keterangan mengisahkan peran Sarwono Prawirohardjo, sosok penting dalam sejarah ilmu dan pengetahuan Indonesia.
Sarwono Prawirohardjo adalah ilmuwan dan dokter dengan keahlian khusus ginekologi dan obsterti. Ia pernah menjadi dokter kepresidenan pada masa Soekarno. Ia pulalah yang sebenarnya membujuk Soekarno untuk menerapkan program KB.
Perkara anak pun mengisahkan keberadaan Bung Karno. Keinginan Bung Besar Revolusi memiliki anak dapat disimak lewat buku Sukarno: Kuantar ke Gerbang garapan Ramadhan K.H yang terbit kali pertama pada 1988.
Di hadapan kita, terbaca buku persembahan Mizan pada 2014. Buku memuat perjalanan Sukarno dan Inggit Ganarsih mengarungi samudra kehidupan—di atas bahtera rumah tangga. Suatu waktu, Inggit merelakan Bung Karno untuk kawin lagi, dengan Fatmawati. Ia tak mau dimadu. Ia minta cerai.
Ungkapan Bung Karno berhubungan dengan anak yang amat krusial dapat kita simak dalam sebuah dialog: “Bukankah sudah kuceritakan? Bukankah dahulu di Bengkulu juga sudah kuceritakan kepada Omi dan juga kepadamu bahwa aku berkeinginan mengawininya? Aku akan mengawininya. Aku mendambakan seorang anak, keturunanku sendiri.”
Konon, berdasar sebuah pidato Bung Karno pada 1964, ada pernyataan penting yang membuat Bung Karno menolak KB: “Di negaraku, banyak anak banyak rezeki”. Bung Karno meletakkan “anak” dengan imajinasi dan dimensi penuh spiritual hingga jauh dari rasionalitas. Sesuatu hal yang belum tentu mendapat kesepakatan saat diucap di zaman ini. Kelak, ada masa ketika Bung Karno menaruh perhatian akan gagasan Sarwono.
Asvi Warman Adam melalui buku Sarwono Prawirohardjo: Pembangun Institusi Ilmu Pengetahuan Indonesia (2009) memberi penjelasan: Hingga pada suatu kali, di saat Ibu Fatmawati melahirkan putra bungsunya, Guruh Soekarnoputra, Ibu Fatmawati mengalami pendarahan yang cukup serius. Sarwono yang sudah jadi dokter kepresidenan sejak Ibu Fat alami seraya mengatakan, “Ini lho, bung, akibatnya jika perempuan terlalu sering melahirkan.”
Keterangan menjelaskan, dalam babak keluarga, anak itu erat hubungannya dengan ibu. Anak di mata politik dan kebijakan mendapat sentuhan akan gejolak-gejolak penting. Anak menjadi bahan ceramah, tulisan, dan hegemoni. Bila meminjam konsep filsuf Prancis, Louis Althusser dengan apa yang disebut sebagai “aparatus ideologi”. Seruan-seruan itu makin menjadi dengan kebijakan KB pada saat Orde Baru.
Baca juga: Mencegah KDRT Melalui Tafsir Al-Qur’an
Kita boleh tengok Majalah Hospitalia yang amat merepresentasikan perjalanan rezim Soeharto. Di edisi No. 58 Tahun 1982, sebuah artikel berjudul “Kebahagiaan dalam Perkawinan” termuat di sana. Penjelasan penting bahwa memiliki anak itu sangat mendasar: “Lihatlah, tidak sedikit orang-orang yang cukup harta bendanya tetapi tidak bahagia karena tidak mempunyai anak ataupun lainnya.”
Pernyataan tersebut mencandrakan urusan harta dan kekayaan itu nomor kesekian, bukan jadi yang utama atau malah disembah-sembah. Taraf paling penting adalah kebahagiaan kala memiliki anak, dengan tindak lanjut pada aspek sekaligus pola-pola pengasuhan dan pendidikan-pengajaran. Berbanding amat terbalik dengan keputusan enggan memiliki anak atau childfree.
Pengisahan ibu dengan anak pernah ditulis oleh Pia Alisjahbana melalui memoarnya, Menebus Zaman (2013). Salah satu babak yang ia tulis adalah saat kelahiran anak pertamanya. Penjelasan berupa:
“Setelah menanti lama, akhirnya aku dinyatakan hamil, justru ketika aku tiba di Jakarta. Kabar ini tentunya menyenangkan hatiku. Sudah bosan aku menjawab seluruh pertanyaan mengapa aku tak segera hamil. Kini aku sudah bisa menjawab pertanyaan itu dengan lebih percaya diri. Seluruh lelah yang kurasakan untuk menanti kehamilan ini: dari usaha biasa hingga menuju klinik Margaret Sanger di New York, seolah hilang begitu saja.”
Pia Alisjahbana menuturkan cerita betapa bahagianya ia saat menerima kabar dirinya hamil. Kehamilan mesti dilakoni dengan tulus dan sabar, pantang melakukan banyak hal demi kesehatan dan keselamatan sang anak lahir ke dunia—menghidu udara dengan lewat rongga hidungnya, melihat jagat dengan sepasang matanya.
Kehadiran anak semakin menegaskan kedirian dan eksistensi seorang ibu. Perempuan itu semakin sah menjadi ibu.
Kehadiran anak semakin menegaskan kedirian dan eksistensi seorang ibu. Perempuan itu semakin sah menjadi ibu.
Jalan hidup seorang anak manusia tak selalu mulus. Ada kisah getir yang dialami oleh beberapa orang. Kisah demi kisah dapat disimak lewat bunga rampai Perjalanan Anak Bangsa (1982). Ada catatan yang tak sebatas mengisahkan anak terhadap ibu, tetapi juga berhubungan dengan ayah. Tulisan berjudul “Bila Ibunda Membesarkan” garapan Ari Saputro memberi pemaknaan atas keberadaan ibu sebagai pengasuh usai ayah mangkat, hari-hari setelah tahun penuh gejolak dan gelimang darah, 1965.
Ia menulis: “Hari pun berganti, bulan pun mengikuti, Natal dan Tahun Baru 1966 menjelang. Untuk pertama kalinya kami merayakan Hari Natal yang agung itu tanpa ayah. Rindu kepada Bapak semakin terasa, melebihi segalanya. Melihat anak-anak tetangga bersuka ria merayakan natal bersama Bapaknya sangatlah mengganggu perasaan, atau katakanlah menimbulkan rasa cemburu.” Anak pun punya perasaan sentimental.
Masa lalu telah berlalu, anak tetap mendapat hak untuk ditafsirkan pada abad XXI meski tersandung polemik childfree. Yang menarik dengan perubahan generasi ke generasi, banyak orang menyebut mereka yang terlahir pasca 1998 sebagai anak kandung generasi digital.
Saya makin curiga dengan penyematan itu jika dikontekskan dengan pola asuh. Secara tidak sadar, kita mengamini pengasuhan akut dunia digital. Kedua orang tua (ibu dan bapak) bisa jadi kabur maknanya. Sama-sama mengandung ambivalensi. Hal tak kalah mengejutkan adalah aneka rupa budaya pop yang membuat overthinking: anak-anak semakin takut dewasa.



