
Al-Quran sebagai kitab suci umat Islam adalah karya sastra yang luar biasa selain menjadi pedoman moral. Keindahannya dan strukturnya telah menarik perhatian para peneliti dari berbagai bidang, termasuk dalam bidang Qira’atul Quran, atau ilmu yang berkaitan dengan membaca Al-Qur’an. Qira’atul Quran adalah seni dan ilmu membaca Al-Quran dengan memperhatikan aturan pengucapan, intonasi, dan ritme.
Ilmu ini tidak hanya membahas aspek teknis dari bacaan Al-Quran, tetapi juga mengungkap kedalaman makna dan keindahan setiap ayat yang dibacakan. Pentingnya studi Qira’atul Quran adalah untuk memahami aturan yang mengatur bacaan Al-Quran. Dengan pemahaman yang mendalam tentang berbagai cara bacaan dan tafsir Al-Quran, orang Islam dapat menggali hikmah dan petunjuk yang terkandung dalam kitab suci.
Pendekatan Teks
Dalam pendahuluan ini, akan dijelaskan mengapa studi Qira’atul Quran sangat penting bagi umat Islam dan bagaimana pemahaman yang mendalam tentang bacaan Al-Quran dapat memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang pesan ilahi yang terkandung dalam kitab suci.
Kajian tentang Al-Quran, sering disebut sebagai Ulumul Quran, berasal dari kata Arab, gabungan dari kata “Ulum” yang berarti jamak dari “Ilmu”, yang berarti pengetahuan, dan “Al-Quran”, yang berarti bacaan, dan “Al-Fahmu Wa Al-Idrak”, yang bertujuan untuk menyelidiki berbagai masalah dengan pendekatan keilmuan.
Baca juga: Media sosial dan Kesehatan Mental
Al-Qur’an, wahyu Ilahi yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw. mengandung ajaran yang mendalam dan penting untuk dipahami, yang mendorong perkembangan berbagai cabang ilmu, termasuk Ulumul Quran yang menelaah keberadaan dan hukum – hukum di dalamnya.
Pelajaran Ulumul Quran sangat penting bagi semua orang, khususnya bagi umat Islam. karena itu adalah cara yang lengkap dan menyeluruh untuk membuka pintu ke dalam kandungan Al-Quran. Umat Islam secara keseluruhan terutama mahasiswa muslim yang ingin belajar lebih banyak tentang Al-Quran, secara otomatis akan diminta untuk mempelajarinya.
Untuk memahami dan mengamalkan firman Allah perlu pemahaman yang mendalam dengan berbagai aspek, seperti sebab turunan ayat dan memahami makna yang terkandung dalam maknanya karena Ulumul Quran langsung berkaitan dengan Allah maka perlukan niat yang tulus dan hati yang bersih untuk mempelajarinya.
Untuk mempelajarinya harus memiliki adab dahulu sebelum mempelajari ilmu. Karena ilmu tanpa adab hanya akan menjadi alat mengejar popularitas atau keuntungan duniawi. Ilmu yang dipelajari dari Al-Quran digunakan untuk membawa kebaikan untuk masyarakat, tanpa adab ilmu yang dimiliki hanya akan menjadi beban dan bahkan menimbulkan perpecahan.
Dengan adab yang benar, ilmu yang dimiliki akan menjadi berkah dan amal jariyah tidak hanya untuk dirinya sendiri tetapi juga bagi masyarakat. Namun kita sering kali menemukan orang yang berilmu tetapi dia tidak memiliki adab dalam kesehariannya.
Ngaji Viral
Seperti kasus yang akhir-akhir ini cukup ramai diperbincangkan di media sosial. Dari artikel tirto.id menyatakan ada pemuka agama yang viral mengolok-olok seorang pedagang es teh. Peristiwa ini terjadi ketika Gus Miftah mengisi acara sholawatan di sebuah pondok pesantren di Magelang, pada hari Senin (25/11/2024). Padahal dia hanyalah seorang kepala keluarga yang ingin berdagang untuk menafkahi keluarganya. Dari berita tersebut terjadi pro dan kontra.
Terdapat beberapa kelompok yang mengatakan bahwa hal tersebut sangat tidak pantas diucapkan oleh seorang pendakwah. Tetapi juga ada beberapa kelompok orang yang mengatakan hal tersebut wajar dikarenakan melihat dari latar belakang dari pendakwah tersebut.
Untuk mempelajari Al-Quran kita harus memiliki adab dahulu sebelum mempelajari ilmu. Karena ilmu tanpa adab hanya akan menjadi alat mengejar popularitas atau keuntungan duniawi
Aksi tersebut membuat sosok Gus Miftah mendapat banyak kecaman publik. Banyak warganet yang menyayangkan sikap Gus Miftah yang terkesan merundung pedagang tersebut. Sikap Gus Miftah yang mengeluarkan kata kasar kepada pedagang yang sedang mencari nafkah. Jika konteksnya seperti ini, bukankah mestinya sang pendakwah justru iba dan tergerak membeli? “Bukan malah keluar kata goblok”
Tindakan Gus Miftah tersebut tidak hanya berdampak pada reputasinya, tetapi juga pada psikologis pedagang es teh yang menjadi korban.
Tetapi ada juga yang menggangap tersebut adalah hal yang wajar dari latar belakangnya, sebelumnya hal tersebut berdakwah di tempat-tempat yang disebut tempat maksiat. Seperti diskotik, klub malam, prostitusi, dan gereja. Menurut kuasa hukum pendakwah, beliau mengatakan bahwa hal tersebut adalah sebuah candaan dari pendakwah tersebut, dan memang seperti itu metode atau ciri khas dari dakwah beliau.
Tetapi Gus Miftah hanya salah tempat saja untuk menjadikan bahan candaan tersebut, sehingga warganet berpikir negatif yang tidak mengikuti cara pendakwahnya beliau. Dalam kesimpulan, pernyataan yang dibuat oleh Gus Miftah tampak jelas tidak menunjukkan etika publik yang biasanya diharapkan oleh para imam. Gus Miftah seharusnya mencontohkan dan memperlakukan setiap orang dengan hormat.
Sebagai hasil dari alasan – alasan ini, kita juga bisa mengatakan bahwa Gus Miftah seharusnya lebih memperhatikan etika ketika mendakwah, karena mempermalukan seseorang di hadapan umum adalah haram. Seperti yang dijelaskan dalam Al–Quran Surat Luqman berbunyi, “Dan sederhanakanlah dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.”
Dan dalam hadis menyatakan bahwa “Al adabu fauqol ilmi” yang artinya adab lebih tinggi daripada ilmu, orang berilmu belum tentu beradab tetapi orang beradap sudah pasti berilmu. Pepatah ini memiliki makna mendalam bahwa akhlak dan etika lebih penting daripada penguasaan ilmu semata.
Adab dianggap lebih penting dalam Islam daripada ilmu pengetahuan. Jika ilmu di tangan orang yang tidak beradab maka akan sangat berbahaya.
Seperti pepatah yang sering kita dengar ilmu tanpa adab seperti api tanpa kayu bakar dan adab tanpa ilmu seperti jasad tanpa ruh. Jika seseorang beradab meskipun tidak berilmu, dia lebih baik daripada orang yang beradab tetapi tidak berilmu.
Adab juga berfungsi sebagai tolak ukur dalam membentuk karakter seseorang untuk mendapatkan predikat umat yang baik harus beradab untuk menyampaikan ilmu. Mereka yang ingin menasihati harus tahu bagaimana menasehati secara moral dan etis. Karena dakwah pertama Muhammad juga berfokus pada moralitas dan etika.
Baca juga: Kuasa Media Sosial
Karenanya sebagai seseorang yang hidup di era modern yang erat dengan teknologi penting untuk memahami esensi dari mempelajari Ulumul Quran. Mempelajari Al-Quran tidak hanya sekadar menghafal saja tetapi perlu memahami secara jelas dan detail makna yang terkandung di dalamnya sehingga tidak terjadi kesalahan penafsiran dan kesalahan sikap dalam kehidupan sehari-hari yang dapat merugikan diri sendiri maupun masyarakat luas. Sejatinya, sebagai orang yang berilmu sudah sepatutnya kita dapat menjaga sikap yang baik dan benar sesuai dengan apa yang sudah tertera di dalam Al-Qur’an.
Kasus-kasus yang beredar sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya, hendaknya dijadikan sebagai pembelajaran agar tidak terjadi hal yang sama. Sebab, mencegah lebih baik daripada mengobati. Dengan merenungi kasus-kasus yang sudah terjadi dan dijadikan sebagai acuan untuk memperbaiki diri ke arah yang lebih baik, diharapkan kasus ini tidak terjadi lagi dan semakin banyak orang yang bertekad untuk memahami Ulumul Quran sebagai ajaran yang utama.



