Kesurupan Tuhan
Ilustrasi dari indonesiainside.id

Di banyak ruang-ruang sosial, kita sering menjumpai orang yang tampak begitu religius. Baik dari ucapannya yang penuh dalil, penampilannya yang sopan, bahkan langkah demi langkahnya tampak dibingkai oleh keimanan.

Menjadi pribadi religius pun tidak serta merta membuat seseorang mendapatkan sambutan baik. Banyak aral rintangan yang datang dari segala penjuru. Mulai dari merasa paling benar, alim, super dari yang lain sampai pada akhirnya tergelincir pada sikap egoistik – yang sering kali menjangkiti karakter individu religius. 

Lebih ironisnya lagi, sebagian dari mereka justru mengalir kata-kata yang menghakimi, superior, seolah berkuasa bahkan amarahnya pun tak luput dari pembungkus(an) atas nama Tuhan. Fenomena ini tentu memunculkan banyak pertanyaan: mengapa sebagian orang religius justru tampak kehilangan cinta kasih dan kebijaksanaan yang menjadi inti dari ajaran agama itu sendiri?

Istilah yang kadang muncul untuk menggambarkan fenomena ini adalah “Kesurupan Tuhan”. Fenomena kesurupan Tuhan Ini tak pelak merupakan metafora tajam dan sarkas untuk menggambarkan kondisi seseorang yang menganggap dirinya sebagai juru bicara Tuhan yang sah, padahal sebenarnya ia sedang memperalat nama Tuhan untuk membenarkan ego dan keyakinannya sendiri. Merasa suci, padahal mungkin sedang jauh dari rendah hati yang menjadi ruh keberagaman sejati. 

Ego dalam Balutan Keimanan

Psikolog Erich Fromm pernah menulis dalam bukunya, Psychoanalysis and Religion (1950) bahwa manusia membutuhkan dua hal: makna dan kepastian. Ketika rasa takut dan ketidakpastian hidup terlalu kuat, manusia akan cenderung mencari iman utuh-kaku daripada iman yang hidup. Iman tersebut dapat memberi batasan tegas antara yang benar dan salah, suci dan najis, serta beriman dan kafir. Namun, kata Fromm, keimanan yang seperti itu bukanlah tanda kedewasaan spiritual, melainkan bentuk nyata pelarian dari kebebasan – yang dalam bentuknya nan solid justru malah membelenggu.

Iman seperti ini memang terasa menenangkan, namun sangat membahayakan. Membuat seseorang berhenti bertanya, meragukan sesuatu hal, dan progresi. Padahal dalam setiap keraguan yang jujur, di situlah seseorang menemukan ruang dalam memulai pencarian Tuhan. 

Dalam ketidakpastian, atau setidaknya upaya pencarian, justru kadang berubah menjadi pagar tinggi nan kokoh. Siapapun berada di luar pagar dianggap salah, tersesat. Dan siapapun yang berada di dalamnya merasa aman, benar, dan lurus. Dari fenomena itu terbentuklah keberagaman yang lebih sibuk menjaga pagar pembatas identitas ketimbang menumbuhkan taman. 

Spiritualisme Simbolik

Filsuf eksistensialis Søren Kierkegaard juga pernah menyinggung hal serupa. Ia mengkritik bentuk keberagaman yang mandek pada ritual dan simbol, tanpa keberanian untuk melakukan perjalanan batin yang sesungguhnya. Menurut Kierkegaard manusia religius yang sejati seharusnya selalu memiliki rasa semakin kecil di hadapan Tuhan, bukan sebaliknya. 

Kesalehan sejati merupakan kesadaran akan betapa jauhnya manusia dari kesempurnaan. Yang sering terjadi, manusia terjebak dalam “kulit” keberagaman. Seberapa panjang pakaiannya, seberapa banyak hafalannya, atau seberapa keras ia membela keyakinannya di media sosial. Semua itu baik, tapi tanpa keheningan-kepolosan hati, ia hanya menjadi pakaian suci bagi ego yang tak pernah tersentuh sama sekali. 

Baca juga: Jalur Sutra yang Terlupakan: Menghitung Kembali Modal Kebesaran Umayyah-Abbasiyah 

Seorang sosiolog bernama Erving Goffman dalam buku The Presentation of Self in Everyday Life menyebut bahwa dimana manusia menampilkan versi terbaik dari dirinya di panggung publik demi pengakuan sosial, dia sebenarnya terjebak dalam drama sosial. Ruang-ruang yang seharusnya sehat, justru berubah menjadi panggung baru kesalehan. Manusia tampil seolah memainkan peran yang diharapkan oleh orang lain, sebagai audiens atau viewers. Kesalehan dijadikan sebagai konten dan sering kali menuntut sensasi. Seolah menjadi ajang kompetisi kesalehan, bukan lagi kedalaman spiritual. 

Jalaluddin Rumi, seorang filsuf dan penyair Persia pernah berkata bahwa, “Begitu seseorang mengira dirinya suci, cahaya yang membuatnya suci telah padam.” Kesalehan sejati tak butuh banyak sorotan. Ia bekerja diam-diam, seperti akar yang menyerap air agar pohon tetap hidup. 

Kesombongan Spiritual: Iblis Bergaun Iman

Dalam tradisi agama manapun, kesombongan spiritual selalu menjadi bahaya paling halus bahkan kadang tak terasa dan terlihat. Pada Islam, ujub dan takabur adalah sesuatu yang tercela. Apalagi sombong karena merasa amalnya lebih besar daripada orang lain. Menariknya, kita sejenak melihat ke masa lampau bahwa iblis sendiri jatuh bukan karena ia tidak mengenal Tuhan, tapi karena kesombongannya yang merasa lebih tinggi derajat daripada Adam. 

Seorang sufi besar Abu Yazid al-Busthami pun pernah berkata “Bahaya terbesar bagi orang beriman bukanlah dosa, tapi perasaan bahwa dirinya telah bersih dan dosa.” Kalimat tersebut menunjukkan bahwa kerendahan hati adalah inti dari ketakwaan. 

Baca juga: Meneladani Kanjeng Nabi: Agama sebagai Pembebas, Bukan sekedar Penenang 

Orang yang benar-benar mengenal Tuhan justru merasa paling tidak pantas di hadapan Tuhan. Berhati-hatilah dalam menjaga hati dan bersikap karena betapa mudahnya manusia tergelincir merasa suci karena merasa amalnya banyak. 

Kesombongan spiritual bisa menyelinap dalam bentuk debu paling halus. Bisa melalui perasaan si paling murni dalam keyakinan, merasa paling benar dalam tafsir, atau merasa si paling tulus dalam perjuangan. 

Kedewasaan Beragama

Seorang psikolog bernama Carl G Jung menyebutkan bahwa perjalanan spiritual sejati sebagai individu merupakan proses menjadi manusia utuh, berdamai dengan bayang-bayang dalam diri sendiri. Orang yang matang secara spiritual tidak butuh menilai orang lain untuk merasa dirinya si paling benar. Tetap tenang, karena telah berdamai dengan kekurangannya sendiri. 

Sikap religius yang matang melahirkan kelembutan bukan kekerasan. Ia menumbuhkan empati, bukan amarah. Orang-orang yang benar beriman justru lebih banyak menunduk daripada menunjuk. Sadar bahwa pengetahuan tentang Tuhan hanyalah setetes dari lautan yang tak terhingga. 

Agama yang tidak dihidupi dengan kerendahan hati mudah berubah menjadi alat kekuasaan. Baik kekuasaan politik, sosial, maupun moral. Padahal inti dari beragama adalah bentuk penyerahan diri bukan penguasaan atas orang lain.

Seseorang dengan sikap religiusitas yang matang tidak akan sibuk mengurusi bahkan mengoreksi orang lain, karena sibuk memperbaiki dirinya sendiri serta tidak merasa sok paling tahu kehendak Tuhan, musabab sadar bahwa manusia hanya penerjemah dan penafsir yang terbatas. 

Menjadi Cermin, Bukan Corong

Kesurupan Tuhan pada akhirnya menjadi sebuah fenomena yang mengingatkan kita bahwa sejatinya manusia bisa hilang arah saat merasa dekat dengan langit. Seseorang akan lupa bahwa menjadi manusia beragama bukan berarti menjadi hakim atas perbuatan orang lain. Tetapi lebih dari menjadi cermin bagi cahaya Tuhan. 

Manusia di bumi pada dasarnya bukan ditugaskan untuk meneriakan kebenaran dengan marah, melainkan manusia diberi tugas untuk menghadirkan kasih Tuhan. Karena kebenaran tanpa kasih Tuhan hanya akan melahirkan luka, sementara kasih tanpa kebenaran akan kehilangan arah. Hal ini menjadi sebuah refleksi bersama bahwa seseorang seharusnya mampu beragama tanpa harus kesurupan Tuhan.

Sebagai tambahan, menjadi tantangan bagi diri sendiri bahwa beriman dengan sebaik-baiknya tanpa kehilangan kelembutan juga mampu dan mencintai Tuhan tanpa merasa menjadi wakil Tuhan juga mampu. Jalaluddin Rumi pernah menulis dengan lembut:

“Jangan biarkan egomu berbicara atas nama Tuhan. Saat itu terjadi, yang kau sembah bukan lagi Tuhan, melainkan dirimu sendiri” 

Pada akhirnya beragama sejati bukan membenarkan diri, melainkan menundukkan diri. 

Bagikan
Mahasiswa Pascasarjana UNY (Pendidikan Profesi Guru) Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar

Tinggalkan Balasan

Please enter your comment!
Please enter your name here