
Sedih adalah emosi yang muncul ketika manusia menghadapi kehilangan, kekecewaan, kesusahan hati, duka, dan dalam situasi pilu. Dulu, kita mengetahui bahwa sedih artinya privat. Ia dirayakan dalam kesunyian, di balik pintu kamar, tertutup, atau dalam obrolan bersama keluarga dan sahabat karib. Tetapi hari ini, paras kesedihan mengalami peralihan paradigma.
Media sosial kini memodifikasi sebuah kesedihan menjadi estetika. Banyak berseliweran video yang menggunakan visual melankolis, filter temaram, musik latar yang lambat dan sendu, serta narasi menyentuh. Fenomena ini dinamai Sadfishing yaitu sikap mengobral kesedihan secara berlebihan untuk mendapatkan simpati, dan validasi dari orang lain.
Memang di satu sisi ini adalah bentuk ekspresi terhadap diri sendiri, tetapi kemudian di sisi lain tumbuh pertanyaan: Apakah kita berusaha untuk sembuh, atau sebenarnya kita terikat akan meromantisasi kesedihan untuk tetap tinggal?
Konten Kesedihan
Kita tahu bahwa media sosial menuntut visual yang memikat, sekalipun hal-hal yang menyakitkan. Kemudian timbul kecenderungan di mana sedih dianggap tidak nyata dan tidak valid jika tidak “terlihat” atau dibagikan ke media sosial. Tabir ini menciptakan standar baru dalam meluapkan ekspresi.
Baca juga: Puasa Media Sosial
Bayangkan ketika seseorang mengunggah foto dengan mata yang sembab diberi racikan caption yang penuh kepiluan, sejatinya ia sedang membuka gerbang untuk ribuan manusia masuk ke dalam ruang pribadinya. Fokus kita bergeser dari “merasakan emosi” menjadi “bagaimana orang melihat emosi kita”. Disitulah nilai kejujuran emosional berganti dengan kecanduan likes dan komentar simpatik.
Media sosial kini memodifikasi sebuah kesedihan menjadi estetika
Hal berbahaya dari ini sebenarnya dapat menghambat proses pemulihan yang sesungguhnya. Karena ketika otak terbiasa mendapatkan atensi saat sedang hancur, otak juga akan memprogram bahwa “mengumbar kesedihan adalah cara untuk dicintai”. Seseorang menolak untuk sembuh sebab takut kehilangan perhatian yang mereka dapat saat terluka. Racun itu akhirnya membelenggu dan mengubah identitas menjadi “korban” atau “orang yang menderita”
Validasi Digital
Validasi Digital memang ibarat meminum air garam di tengah dahaga kekeringan. Alih-alih mengurangi rasa haus, ia sebaliknya memberikan sensasi kering yang jauh membakar dan tak berkesudahan. Setiap likes dan komentar yang didapat hanyalah dopamin instan yang memberikan ilusi bahwa kita sudah “sembuh” dan “dimenegrti”. Kita lupa bahwa sifat dari dopamin instan ini semu. Ia menguap dalam hitungan detik dan memberikan lubang di sana.
Dari sana kita terjebak dalam sifat adiktif untuk meromantisasi kesedihan dan mengurangi luka untuk mendapatkan dosisi atensi berikutnya. Tanpa disadari semakin banyaknya menenggak pengakuan dari orang lain, kita semakin kehilangan kemampuan untuk menyembuhkan diri secara independen. Kita lupa sejatinya ketenangan tidak akan pernah ditemukan dalam riuh atau rendahnya validasi dari publik.
Berbicara tentang media sosial tak mungkin melupakan algoritma. Sistem digital yang satu ini memegang peran besar dalam mempertahankan romantisasi kesedihan. Ketika kita kerap berinteraksi dengan konten-konten yanag melankolis, sudah pasti algoritma melanggengkan hal-hal serupa. Kemudian terjebak dengan narasi-narasi yang penuh dengan kegalauan, pengkhianatan, dan keputusasaan.
Ini membingkai persepsi bahwa dunia memang seburuk itu dan semua orang merasakan penderitaan yang sama. Tujuan untuk bangkit dan pulih justru semakin jatuh dengan mentolerir dan menormalisasi kondisi mental yang stagnan. Di sini resiliensi kita akhirnya di uji. Apakah mampu untuk memtuskan tali konten tersebut, atau membiarkan diri terus menerus terpuruk dalam informasi yang mendepresi.
Resiliensi Sehat
Pertanyaannya kemudian berlanjut, apakah kita dilarang bersedih di media sosial? jawabannya jelas tidak. Memperlihatkan kerentanan adalah hal yang wajar dan sudah menjadi bagian dari manusia. Kuncinya terletak padaa niat dan batasan. Di sinilah kita membutuhkan kemampuan melakukan Cognitive Defusion, konsep Acceptance and Commitment Therapy (ACT) yang mempersuasif kita untuk berjarak pada pikiran kita sendiri.
Alih-alih mengatakan “saya sedang sedih” konsep ini mengajarkan untuk mengatakan “saya menyadari bahwa saya sedang sedih”. Kita belajar untuk sekadar menyadari. Teknik ini tidak mengajarkan bahwa kesedihan sebagai identitas mutlak yang harus dipamerkan dan mendapatkan validasi. Tetapi sebagai angin yang lewat dalam pikiran.
Baca juga: Media sosial dan Kesehatan Mental
Defusi kognitif memberikan pemahaman bahwa kita tidak harus bertindak sesuai dorongan emosional yang muncul, termasuk dorongan memposting luka ke media sosial. Kita bukan lagi tawanan dari emosi yang kita rasakan.
Kita harus menyadari bahwa media sosial hanyalah alat. Pilihannya ada dua, menjadi jembatan empati atau penjara emosi. Meromantisasi kesedihan di media sosial mungkin memberikan kenyaman, tapi itu hanya sebentar dan tidak akan pernah membawa kita pada pintu kesembuhan. Rasa sedih, biarlah menjadi guru yang mendewasakan, bukan menjadi pajangan di etalase digital.
Pemulihan yang autentik tidak pernah membutuhkan panggung, apalagi riuhnya tepuk tangan dari penonton kesedihan kita. Menutup drama di media sosial bukan berarti melarikan diri tetapi sebuah tindakan secara sadar dalam menjaga kewarasan emosional. Lagi-lagi kita diingatkan bahwa mencari validasi digital adalah hal yang semu.[]



