Agama dan tantangan modernitas
Ilustrasi dari Kompas.id

Agama Islam adalah agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW, membawa ajaran–ajaran yang baik dan benar bagi umat Islam agar selamat dan sejahtera di dunia maupun di akhirat atau sering disebut juga rahmatan lil ‘alamin.

Namun faktanya seringkali kita melihat Islam hanya sebagai sebuah agama teredukasi oleh sikap – sikap yang jauh dari kata keselamatan, ketenangan, dan kedamaian. Masih banyak orang yang menganggap agama Islam hanya sebagai ajaran saja. Padahal di zaman sekarang banyak problem yang menyangkut agama Islam.

Dan yang sering kita jumpai di media sosial adalah tentang pendustaan agama. Jadi, seolah-olah agama Islam hanya dijadikan sebagai permainan saja, dianggap hanya menyampaikan ajaran-ajaran saja tanpa ada sangkut pautnya dengan Tuhan.

Dan pendustaan agama yang sedang viral  baru-baru ini adalah adanya warga negara Indonesia yang bernama Lukman dolok saribu, asli warga Papua. Memiliki kasus mengenai pendustaan agama yang berupa penghinaan yang ditujukan kepada Nabi Muhammad SAW. Dan meminta warga Israel untuk membantai warga negara Indonesia yang sedang berada di Gaza, Palestina.

Dan yang selanjutnya masih banyak orang yang memandang ibadah hanya sebagai formalitas saja, seperti halnya melakukan puasa hanya sekadar menahan haus dan lapar, tetapi tidak bisa menjaga atau mengontrol sikap dan hawa nafsu diri sendiri.

Baca juga: Membuka (Jalan) Kesetaraan

Tantangan umat Islam saat ini, kita seringkali menjumpai atau menemui banyak orang yang meninggalkan salat, seolah-olah salat disepelekan dan hanya dianggap sebagai formalitas bagi orang yang beragama Islam. Dan mungkin orang yang meninggalkan salat beranggapan bahwa pada saat senjang usia nanti akan taubat sendiri. Padahal kita tidak tahu kapan ajal akan menjemputnya. Banyak anak-anak yang masih berusia muda sudah pada meninggal entah itu karena kecelakaan atau disebabkan lainnya.

Menurut Prof Hamid Fahmi Zarkasyi, menjelaskan dalam melaksanakan salat, hendaknya tidak tergesa–gesa ataupun malah bermalas-malasan, perilaku buruk bagi umat Islam terkadang menjadikan salat sebagai alat untuk mencari popularitas ataupun riya’ semata. Padahal, inti dari salat itu dapat mengubah perilaku manusia menjadi lebih baik.

Ketika lagi viralnya salat tarawih yang hanya dikerjakan dalam waktu kurang lebih 7 menit, itu sebenarnya tidak ada kaitanya dengan kutipan yang disampaikan oleh Prof. Hamid. Itulah yang disebut dengan yasriku fi sholatihi (mencuri salatnya).

Ruku, itidal, sujud,dan duduk di antara dua sujud itu harus tuma’ninah atau kira-kira 3 detik dalam satu gerakanya, sedangkan yang lagi viral ini satu detik pun tidak ada. Seolah-olah hanya melaksanakan salat tarawih sebagai formalitas saja.

Baca juga: Meneladani Kanjeng Nabi: Agama sebagai Pembebas, Bukan sekedar Penenang

Maka dari pandangan tersebut saya dapatkan setelah mempelajari mata kuliah metodologi studi Islam pada saat semester 1, yakni saya lebih bisa mempelajari Islam secara komperhensif atau dengan mempelajari Islam secara teliti, luas, dan menyeluruh. Yaitu dengan cara pendekatan-pendekatan.

Hal demikian perlu dilakukan, karena dengan pendekatan tersebut kehadiran agama secara fungsional dapat dirasakan oleh penganutnya. Sebaliknya tanpa mengetahui berbagai pendekatan tersebut, tidak mustahil agama menjadi sulit dimengerti atau dipahami oleh masyarakat, tidak fungsional, dan akhirnya masyarakat mencari pemecah masalah kepada selain agama, dan hal ini tidak boleh terjadi.

Berbagai pendekatan tersebut meliputi pendekatan teologis normatif, antropologis, sosiologis, historis, kebudayaan, dan pendekatan filosifis. Adapun yang dimaksud pendekatan di sini adalah cara pandang atau paradigma yang terdapat dalam suatu bidang ilmu yang kemudian digunakan untuk memahami agama lebih dalam dan menyangkut seluruhnya.[]

Mungkin di era globalisai ini semua orang sepakat bahwa keutuhan manusia tetap terpelihara dengan baik. Dan ilmu pengetahuan diharapkan menjadi salah satu alternatif penyelesaian maslah-masalah mereka. namun demikian ilmu pengetahuan yang dinilai sekarang ini sudah mulai kewalahan atau hampir gagal dalam memberikan kerangka untuk menyelesaikan masalah pada era globalisasi ini. Hal demikian disebabkan karena dasar – dasar dan prinsip – prinsip yang dijadikan landasan ilmu pengetahuan tersebut berasal dari barat yang bertolak belakang terhadap cara berpikir orang islam.

Maka untuk itu, saya juga mengajak para pembaca unuk mempelajari agama islam secara menyeluruh, bukan hanaya sekedar ajaran saja namun juga harus menyangkut pautkan dengan tuhan. Agar terhindar dari perilaku pendustaan agama yang baru-baru ini terjadi. Dan untuk kedepannya, saya berharap agama islam harus dikenal dengan agama, bukan hanya sekedar ajaran – ajaran saja.

Yaitu dengan mengajarkan metodologi studi Islam kepada seluruh orang terkhususnya para pelajar secara detail tanpa terburu – buru mengejar target materi, kuncinya yang pertama yaitu membuat pelajar paham tentang apa itu islam. Emang pelajar sekarang lebih suka yang instan-instan tanpa peduli tentang proses. Maka untuk itu, juga mengajarkan untuk mandiri.

Bagikan
Mahasiswa Hukum Ekonomi Syariah UIN Surakarta

Tinggalkan Balasan

Please enter your comment!
Please enter your name here