Mereka lahir diiringi deru angin laut, merangkak di atas pasir laut, belajar berjalan di tepi laut, berlarian di atas pantai, tumbuh seiring pertumbuhan ikan-ikan, tua bersama deru ombak, mati didekap tanah berpasir tak jauh dari laut” (hlm. 23).

Dewanto Amin Sadono membentangkan dunia sebuah keluarga nelayan dalam novela Kisah Ganjil Pelaut dan Keturunannya (Rua Aksara, 2024). Novela yang mendakwa diri dengan genre “fiksi iklim” ini mempunyai latar spasial di dukuh Simonet, pesisir utara Pekalongan, Jawa Tengah. Sebagaimana novel fiksi iklim, soalan lingkungan tentu sudah menjadi elemen wajib di dalam semesta cerita. 

Novela ini mengetengahkan bagaimana Laut Jawa pelan-pelan menelan daratan di daerah pesisir. Kampung yang berada tepat di bibir pantai mesti kena imbas. Ruang hidup mereka tak lagi luas–sebab kena rendam air laut. Perkara inilah yang sebenarnya coba diatasi oleh tokoh utama dan keturunannya. 

Baca juga: Mitos Menjembatani Tradisi dan Pemahaman Modern (1)

Selain menyuguhkan aspek natural dari bentang alam, novela ini pun dibumbui unsur magis. Pembaca akan diajak tamasya melampaui dua sisi; yang realis dan yang mistis. Dewanto Amin Sadono tampak memilih siasat ini sebagai cermin bahwa masyarakat masih belum beranjak dari apa-apa yang disebut mitos. Sebelum membahas mitos, alangkah lebih baik kita singgung dulu perihal (nasib) tokoh utama dan kampung halamannya. 

Buruh Nelayan

Satu di antara tokoh utama dalam novela ini adalah Taslani. Ia punya profesi sebagai nelayan, lebih tepatnya seorang buruh nelayan. Sebab, ia tak punya perahu guna melaut. Ia menjadi buruh nelayan yang pergi melaut dengan perahu orang lain (baca: juragan). 

Bersama buruh nelayan lainnya, Taslani mencari ikan-ikan Laut Jawa dan memperoleh gaji dari sang juragan. Sepuluh tahun sudah Taslani menjalani profesi tersebut. Dari sang juragan hanya punya satu perahu sampai jadi lima–perahu yang mampu menampung sekian ton hasil tangkapan. 

Cakalang, tongkol, layang, pari, dan tuna memenuhi ruang penyimpanan kapal berkapasitas sepuluh ton itu. Taslani paham betul. Juragannya hidup makmur. Perahunya tambah banyak dan ukurannya makin lebar. Perhiasan yang dikenakan anak-istrinya tambah ramai: di leher, tangan, kuping, bahkan kaki. Meskipun demikian, para buruhnya harus puas hanya dengan mendapatkan remah-remahnya” (hlm. 21)

Penggalan cerita di atas mencandrakan keadaan yang kontras antara Taslani dengan sang juragan. Hidup Taslani tak melulu mujur, sedang juragannya hidup makmur. Taslani memilih tabah dan selalu giat mengupayakan hidup (serba) cukup. 

Caslani, bocah semata wayang Taslani, kelak di kemudian hari mengikuti langkah yang sama. Caslani punya semangat yang tak kalah tinggi dibanding bapaknya, menaruh harapan hidup pada laut. Ia pun menjadi buruh nelayan–yang bekerja di bawah keluarga juragan yang sama seperti ayahnya. 

Caslani menjadi pelaut di tempat yang sama dengan bapaknya meskipun berbeda juragan. Juragan Caslani adalah anak dari juragan bapaknya dan sama-sama pelit. Betapa lingkaran kehidupan yang dijalani Caslani telah mencapai bentuk yang sempurna.” (hlm. 70) 

Kutipan tersebut menandaskan nasib keluarga Taslani. Mereka sama sekali tak bisa melakukan mobilitas sosial, bergerak dari satu lapisan ke strata yang lebih tinggi. Sungguh, nasib pelaut tak selamanya mujur. Dengan situasi ini, pembaca diajak untuk prihatin sekaligus menaruh rasa peduli terhadap distingsi kelas–sambil memaki-maki absennya negara juga boleh. 

Fenomena di Kampung Pesisir(an)

Seperti yang sudah saya singgung di muka, dukuh Simonet merupa dukuh kecil yang tepat di pesisir. Dukuh ini memang menyajikan latar suasana yang menenteramkan, membikin hati nyaman. Sewaktu pagi, matahari seakan terbit di tengah-tengah lautan, memancarkan sabda alam. Saat malam, ada riuh debur ombak dan embusan angin sepoi-sepoi. 

Bayangan memukau tersebut rupanya hanya sebagian nikmat saja. Separuhnya lagi, adalah tantangan dan kuasa alam. Yang penduduk kampung risaukan adalah tanah di pesisir pantai–yang lamat-lamat tergerus, seiris demi seiris. 

Kampung mereka pelan tapi pasti tergenang lalu tenggelam. Beberapa warga bersikukuh untuk melindungi-menyelamatkan tanah di selingkar rumah. Seperti Taslani yang berusaha menjaga kebun melati di dekat rumahnya dari amukan gelombang pasang. 

Fenomena alam tersebut-sebut bagi masyarakat lokal adalah sebuah kutukan. Mereka melakukan pelbagai siasat untuk mengakhiri derita. Taslani pergi ke sebuah dukun di Kandangserang. Tak mempan. Ia kemudian pergi sowan untuk meminta bantuan Dewi Lanjar selaku penguasa lautan. Masih belum ada perubahan.

Baca juga: Senarai Kisah Pelancong Buku

Yang terjadi malah Taslani hilang tak tahu rimbanya. Upaya mengehentikan laju air laut yang terus mencaplok daratan ini dilanjutkan oleh Caslani–yang memohon doa seorang kiai. Sama saja. Dari sekian percobaan, tak ada yang berbuah manis. 

Sampai pada cucu Taslani, yang bernama Tolani, upaya menghentikan gerak laut yang merangsek ini terus bergulir. Namun, Tolani tak lagi meminta bantuan orang lain yang dianggap sakti mandraguna atau dari ranah metafisika. 

Sebagai seseorang yang bisa membaca dan menulis sebab mengenyam bangku sekolah, Tolani mendapat informasi saintifik menyoal kondisi lingkungan di mana dia lahir & tumbuh. Tolani membaca artikel hasil penelitian akademik di internet bahwa Simonet dan pesisir utara Jawa punya struktur tanah yang unik. 

Jenis tanah di wilayah pantura, aluvial. Wujudnya berlubang-lubang seperti spon dan akan runtuh jika terkena tekanan. Hal itu masih diperparah dengan pembuatan sumur artetis yang melebihi ketentuan” (hlm. 121). 

Dengan penjelasan ini, runtuh sudah anggapan bahwa keadaan alam di Simonet akibat dari kutukan. Sebuah kepercayaan yang diamini entah berapa generasi, yang jelas lebih dari tiga. 

Selain karena lapisan tanah yang memang rawan, fenomena tersebut rupanya diperparah oleh sumur artetis yang melebihi ketentuan. Tak heran apabila hal ini memicu tanah amblas dan menganggu ekosistem alamiah di sekitar lokasi.  

Secara keseluruhan, novela ini menarik pembaca untuk lebih peka dan punya kesadaran ekologi yang tinggi. Sebuah kisah di daerah pesisir yang merefleksikan problem ekologi dan menjadi persoalan umat manusia untuk bersungguh-sungguh merawat lingkungan–tanpa melulu mengunggulkan antroposentrisme!

Bagikan
Pengajar bahasa Inggris dan peresensi buku. Sekarang ia sedang menyiapkan buku himpunan esai pertamanya. Bisa disapa via instagram @dibbaroya atau surel adib.baroya@gmail.com

1 Komentar

  1. Kisah ganjil pelaut dan keturunannya, aku melihatnya sebuah keluarga yang mencoba melawan perubahan alam yang barangkali sulit untuk mengikuti kehendak pelaut, hanya dengan pendidikan akhirnya memahami keadaan alam yang dipertahan oleh kakeknya…, keberanian yang mengharukan, joos gandhos ini cerita yang wajib dibaca orang2 pesisir yang seperti Simonet, orang2 yang memiliki nasib yang sama atau mirip…..

Tinggalkan Balasan

Please enter your comment!
Please enter your name here