James Clear

Saat berusaha untuk mengubah jalan hidup atau menentukan visi tentang masa depan, mayoritas orang-orang kerap luput membuat perubahan kecil, alias terjebak pada hal-hal yang besar nan jauh. Banyak orang pun mendambakan masa-masa gemilang, penuh capaian prestasi, tapi tidak berusaha membuat perubahan kecil dalam laku sehari-hari, seperti menghilangkan kebiasaan buruk dan membentuk habit baru.

Penulis dan penceramah James Clear dalam buku Atomic Habits (2023) membentangkan bagaimana kiat-kiat untuk menanggalkan kebiasaan buruk atau kurang bernilai menuju rutinitas ampuh dan berguna. Meski punya predikat penceramah, khususnya di bidang kebiasaan & perubahan lanjutan, James Clear menulis buku ini tanpa kesan didaktis.

Pasalnya, setiap bagian dalam buku ini, James Clear merunut kisah yang representatif baru kemudian menuturkan poin-poin penting. Kisah-kisah tersebut merentang dari manajemen atlet sepeda balap Inggris, eksperimentasi seorang dokter umum di Massachusetts General Hospital di Boston, sampai kajian tentang para tentara Amerika pecandu heroin pasca perang Vietnam usai.

James Clear menandaskan bahwa lingkungan adalah arena paling penting dalam membentuk kebiasaan. Hal ini disebabkan oleh segala benda yang ada di sekitar manusia memberikan impuls-impuls untuk melakukan sesuatu. Di sini, sebenarnya ada jaring-jaring yang menghubungkan suatu benda pada suatu aktivitas tertentu, yang seolah melambai-lambai.

Sebagai contoh, orang akan pengin memain gitar jika ada instrumen musik tersebut di ruang tengah, seorang kutu buku akan penasaran untuk melihat koleksi buku-buku yang terpajang di dalam rak saat mengunjungi perpustakaan pribadi orang lain, atau seorang penyesap kopi niscaya lekas terpancing menyeduh tatkala melihat alat-alat seduh manual ada di meja bar.

Hanya dalam sekali pandang, sirkuit di otak bisa lekas terpantik untuk memberikan respons dan menuruti hasrat. Seperti deretan aktivitas di atas. Inilah yang membuat indera penglihatan mempunyai kemampuan sensoris paling hebat.

James Clear mengutarakan bahwa tubuh manusia, Homo Sapiens, punya sebelas juta reseptor sensoris. Sedang kira-kira sepuluh juta di antaranya dialokasikan khusus untuk penglihatan. Konon, ada pakar yang menaksir setengah sumber daya otak digunakan untuk menopang penglihatan.

Dengan pengerahan tenaga semacam ini, tak pelak bila perkara visual dapat jadi penentu tindakan manusia selanjutnya. Orang-orang lantas bisa merasa trenyuh, resah, cemas sampai antusias. James Clear berseloroh bahwa “… perubahan kecil pada apa yang Anda lihat dapat mengantar ke perubahan besar apa yang Anda lakukan.”

Menarik Hubungan Benda-benda

James Clear menaksir bahwa ada relasi antara benda-benda yang ada di sekitar kita. Bagaimana cara kita menaruh barang sehari-hari – seperti pengaturan posisi – mampu memberi dorongan di dalam otak kita supaya melakukan aktivitas yang berkaitan dengan barang tersebut-sebut.

Ambil contoh seseorang yang mau membangun kebiasaan membaca buku. Ia tak punya waktu lagi baik di pagi maupun sore hari karena waktunya sudah tandas buat bekerja. Ia hanya punya waktu di malam hari, tepatnya sih sebelum tidur.

Supaya tak lupa baca barang sebentar sebelum jatuh terlelap, ia baiknya menaruh buku di sekitar area bantal. Jadi, saban hendak tidur, ia akan teringat untuk membaca buku terlebih dulu, yang pada akhirnya membangun koneksi area tidur dengan proses membaca buku.

Pembiasaan baca buku sebelum tidur ini akan berbeda jika letak buku jauh dari kasur, bertengger di rak tinggi, atau tersimpan di lemari nan rapat.

Baca juga: Menua bersama Ikan Lele 

Saran konstruktif dari penulis buku ini – bagi orang yang memulai kebiasaan baru – adalah dengan memangkas hambatan dalam melakukannya. Sesederhana menempatkan barang di dekat jangkauan tangan kita.

Sebaliknya, jika terlalu banyak benda di sekitar kita, apalagi berada dalam kondisi yang semrawut, ini akan membuat koneksi barang-barang tersebut dengan sirkuit di otak akan berantakan. Sistem canggih di otak kita bakal kewalahan – biar nggak nyebut “kebingungan” – untuk mengidentifikasi hubungan kita dengan mereka & apa-apa yang mesti dilakukan segera.

James Clear menandaskan kepada kita untuk “berhenti berpikir tentang lingkungan yang terisi benda, mulailah berpikir tentang lingkungan yang terisi dengan hubungan.” (hlm. 101)

Ilusi In Motion

Buku ini pun menyinggung bagaimana orang-orang kerap terhambat karena ilusi in motion. Hal ini dikarenakan mereka – meski mendambakan sebuah progress yang benar – rupanya sama sekali belum melakukan hal yang sesungguhnya. Bisa jadi baru melangkah atau menapak ke arah action. James Clear secara jitu membedakan dua hal yang mungkin orang-orang anggap sama persis.

In motion adalah masa ketika kita membuat rencana, hanya urutan langkah-langkah, dan sama sekali belum membuahkan hasil. Ini beda dengan action, yang merupa praktik sekaligus memberikan hasil nyata dan objektif di pengujung aktivitas.

Baca juga: Meneladani Kanjeng Nabi: Agama sebagai Pembebas, Bukan sekedar Penenang

Sebagai contoh, saat kita sedang mendaftar sebagai anggota di sasana kebugaran, diskusi dengan personal trainer, mengamati orang-orang menggunakan alat olahraga, atau menonton konten tentang fitness di gawai sampai merasa ah gerakan ini gampang, masih dalam kategori in motion. Saat kita sedang berlatih gerak di atas matras atau mengangkat barbel di tempat gym, nah, ini baru action.

Sering kali in motion justru memerangkap kita ke dalam ilusi kemajuan. “Kita melakukannya karena in motion memungkinkan kita merasa seolah-olah kita mendapatkan kemajuan tanpa menempuh risiko gagal… In motion membuat Anda merasa sudah mengerjakan sesuatu.”

Pada akhirnya, buku ini menarik pembaca untuk menemukan ritme anyar atau menggali habitus yang baru dengan sodoran fakta-fakta menarik dan argumentasi yang asyik.

James Clear sudah selesai menulisnya, tinggal kita mempraktikkannya.

Judul : Atomic Habits

Penulis : James Clear

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Cetakan : kedua puluh sembilan, Januari 2023

ISBN : 978-602-06-3318-3

Bagikan
Pengajar bahasa Inggris dan peresensi buku. Sekarang ia sedang menyiapkan buku himpunan esai pertamanya. Bisa disapa via instagram @dibbaroya atau surel adib.baroya@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Please enter your comment!
Please enter your name here