Indonesia memang hanya mempunyai dua musim yakni kemarau dan penghujan. Namun, keduanya berpotensi besar menyebabkan terjadinya bencana alam, tak jarang juga sampai meregang nyawa manusia. Indonesia ibarat rumah bagi pelbagai bencana, mulai dari bencana alam sampai bencana hidrometerologi. Salah satunya, banjir. Banjir merupakan salah satu jenis bencana yang kerap melanda rumah-rumah penduduk di Indonesia, utamanya pada musim penghujan.

Pada musim itu, banjir menjelma sebagai tamu paling familiar yang kerap mengetuk pintu rumah warga. Banjir datang tanpa permisi dan tanpa mengenal waktu. Ia tak enggan menyapu apapun yang menghalangi jalannya, entah di wilayah perkotaan maupun daerah pedesaan. Bencana jenis ini dapat disebabkan oleh pelbagai faktor. Mulai dari curah hujan tinggi akibat perubahan iklim global, amburadulnya manajemen tata ruang kota maupun daerah. Masalah tersebut paling fundamental yaitu budaya membuang sampah sembarangan yang menjangkit kebanyakan masyarakat Indonesia. Konon, persoalan ini sudah menjadi mentalitas orang-orang kita.

Persoalan banjir acap kali membawa kita pada obrolan jenakan bahkan serius lewat pelbagai penelitian ilmiah yang disuguhkan oleh para peneliti. Salah satunya buku yang berjudul Tempat Terbaik di Dunia garapan Roanne Van Voorst (2020). Buku itu telah melewati cetakan ketiga dan diterbitkan oleh Penerit Marjin Kiri. Buku ini sejatinya merupakan sebuah catatan pengalaman hariannya selama tinggal di Bantaran Kali, tempat penelitian disertasi doktoralnya. Disertasi tersebut berjudul Natural Hazard, Risk and Vulnerability : Floods and Slum Life in Indonesia. Akhirnya Roanne memberoleh gelar doktor di Universitas Amsterdam pada 2014.

Baca juga: Membahasakan Penyakit

Roanne merupakan seorang antropolog yang sedang meneliti tentang masalah-masalah sosial yang disebabkan oleh bencana alam, salah satunya banjir. Kegelisahan atas minimnya kajian bencana banjir dari perspektif korban terdampak menghantarkannya sampai di tempat ini. Dengan sederhana namun lugas, ia mampu menyuguhkan cerita unik dan menarik. Bahkan, memuat informasi penting yang jarang diketahui tentang kehidupan di lingkungan kumuh itu.

Hidup Berbeda

Mula-mula setibanya di Jakarta, Roanne secara tidak sengaja dipertemukan dengan salah satu penghuni Bantaran Kali. Namanya Tikus, nama itu merupakan nama samaran. Ia berprofesi sebagai pengamen. Tikus menjadi teman pertama Roanne di kampung. Tikus juga sekaligus menjadi infoman utama dalam mengenalkan seluk-beluk kehidupan tempat terindah di dunia itu. Selama tinggal di Bantaran Kali, ia menyewa rumah kontrakan Enin yang berukuran dua puluh meter persegi. Rumah itu berdindingkan kayu, atap dari lempengan asbes dan sebagian lantainya masih berupa tanah. Sama seperti kebanyakan rumah di lingkungan itu.

Perasaan suka maupun duka silih berganti menyelimuti kondisi batinnya. Terkadang, Roanne juga dibuat takjub dengan cara-cara kreatif yang acap kali dilakukan penghuni Bantaran Kali dalam mensiasati keterbatasan hidup. Cara-cara itu berkisar dari tindakan sederhana namun cenderung canggih dan inovatif. Mereka selalu bisa mengantisipasi kuldesak dengan pelbagai cara unik nan kreatif.

Tikus contohnya, ia mampu menyulap lingkungan kumuh di Bantaran Kali sebagai tempat fitness dengan peralatan seadanya. Namun, mempunyai fungsi dan kegunaan yang sama dengan peralatan modern yang terdapat di fasilitas gym mewah. Tikus bergurau kepada Roanne, “seperti yang kubilang, Roanne. Ini adalah tempat terbaik di dunia. Semua yang kamu pengin bisa kamu dapatkan dan kamu lakukan di Bantaran Kali. Di kampung kumuh ini kami (mampu) menjalankan hidup semewah hidup konglomerat di Jakarta”, (hlm.155).

Tinggal di Bantaran Kali membuat Roanne saling terhubung dengan para penghuni kampung ini. Hal demikian terjadi sebab ikatan emosional-sosial yang terbangun secara organik diantara ruang kultural di lingkungan itu. Ia menyadari bahwa hal demikian dilatar-belakangi oleh budaya Indonesia yang ia sebut dengan “budaya kami”. Yaitu sebuah aktivitas kehidupan yang mengedepankan prinsip kebersamaan (kolektif), gotong royong dan saling tolong menolong.

Dengan kata lain, prinsip kekeluargaan sangat menonjol dalam kehidupan di kampung ini. Keluarga itu sesuatu yang amat penting dalam budaya Indonesia, dan lebih penting lagi di kampung miskin seperti Bantaran Kali. Keluarga merupakan jaring pengaman sosial. Mereka adalah orang yang akan menolong jika terdapat masalah keuangan. Mereka akan berusaha mengumpulkan uang untuk biaya pengobatan atau jika tak tertolong lagi berarti membantu biaya pemakaman (hlm.162).

Aroma Ilmu Sosial

Roanne terbilang pandai menyigi beragam aktivitas yang menjadi keseharian warga Bantaran Kali. Mulai dari kegiatan mendengar alarm banjir lewat portofon (walkie-talkie), gotong-royong memadamkan kebakaran. Selain itu, Roanne juga pernah merasakan sensasi kerokan sampai mencicipi ramuan herbal (jamu tradisional). Konon dengan obat herbal tersebut dapat menyembuhkan segala penyakit, termasuk penyakit demam dan diare. Cerita-cerita demikian merupakan unit-unit penting dalam rancang bangun (pondasi) kajian antropologi.

Sebagai seorang antropolog, Roanne memang sangat jeli mengupas beragam pengisahan tentang unsur dan struktur. Hal tersebut mempengaruhi proses terjadinya suatu aktivitas kehidupan di Bantaran Kali dengan kaidah antropologis. Namun, tak jarang juga kita disuguhkan dengan pengisahan yang mengandung gejala-gejala sosiologis.

Keluarga itu sesuatu yang amat penting dalam budaya Indonesia, dan lebih penting lagi di kampung miskin seperti Bantaran Kali. Keluarga merupakan jaring pengaman sosial. Mereka adalah orang yang akan menolong jika terdapat masalah keuangan

Seperti pengakuan seorang yang memiliki sebuah portofon. Ia akan mendapat status sosial tinggi dan mendapat julukan baru sebagai “Pak Guru”. Julukan ini disematkan sebab dengan sebuah portofon. Ia dapat berkomunikasi dengan penjaga pintu air perbukitan di atas Jakarta untuk mengetahui ketinggian air atau meramal datangnya banjir. Melekatnya status sosial kepada para pemilik portofon telah menunjukkan munculnya reaksi sosiologis. Reaksi tersebut dipahami sebagai realitas umum di seluruh kampung Bantaran Kali.

Meskipun buku ini menggunakan pendekatan antropologi sebagai kerangka konseptualnya. Kita juga sering menjumpai cerita yang sarat mengandung kajian sosiologis. Hal ini terjadi karena karakteristik ilmu pengetahuan yang positif, inklusif, dialektis dan terkadang membutuhkan ilmu bantu. Walakin, bagaimana pun juga ilmu antropologi dan sosiologi masih dalam satu atap rumpun keilmuan yang sama yakni ilmu sosial.

Pentingnya Etnografi

Hubungan antara ilmu antropologi dengan sosiologi juga dijelaskan oleh antropolog kawak; Koentjaraningrat dalam buku berjudul Pengantar Ilmu Antropologi (1980). Bapak antropologi Indonesia itu dengan cermat mendedahkan persamaan dan perbedaan di antara kedua ilmu tersebut. Menurutnya, jika ditinjau dari sudut tujuan keduanya seolah sama, namun jika ditinjau lebih khusus akan tampak perbedaannya.

Di buku itu ia menulis, “Perbedaan itu terletak pada pendekatan yang dipilih. Seorang antropolog akan mencoba meneliti semua unsur kehidupan di kota. Kemudian hasil penelitian tersebut menghubungkan unsur-unsur tersebut dengan seluruh struktur kehidupan masyarakat di suatu kota sebagai sebuah kebulatan. Sebaliknya, seorang Sosiolog hanya meneliti gejala-gejala atau proses khusus dengan tidak perlu memandang dahulu struktur keseluruhannya”.

Dengan lugas, ia menjabarkan tentang perbedaan pendekatan yang diambil oleh kedua disiplin keilmuan itu. Arkian, kendati terdapat perbedaan menonjol. Di akhir pembahasan, Koentjaraningrat menyodorkan suatu sintesis. Sintesis itu berbunyi, “Meskipun keduanya mempunyai kompleks metode yang berbeda, namun pada hakekatnya tujuan dari kedua ilmu itu sama. Antropologi dan sosiologi adalah dua ilmu yang mempunyai dua kompleks metode yang saling dapat isi-mengisi dalam proyek-proyek penelitian di masyarakat”.

Lagu Lama

Sebagai kelompok yang termarjinalkan, warga Bantaran Kali selalu menjadi objek ketidakadilan akibat sistem yang korup, lacur dan banal. Praktik pemerasan, premanisme, diskriminasi sampai korupsi maupun suap lazim terjadi disini. Perilaku nakal ini sering kali dilakukan oleh penguasa setempat (illegal) sampai oknum dari instansi legal pemerintahan. Entah Pegawai Negeri Sipil (PNS) maupun Polisi.

Tindakan koruptif seperti ini disinyalir semata-mata agar urusan mereka segera rampung. Atau setidaknya mendapat jaminan keamanan dari pihak berwajib dengan cara sedikit memberikan uang. Meskipun, layanan resmi dari pemerintah seharusnya tak dipungut biaya (gratis). Uang dipandang sebagai alat pelicin dalam hubungan sosial, yang dapat mempererat hubungan pribadi antara pemberi dengan penerima. Sekaligus jadi metode paling mujarab dalam melincinkan segala urusan (hlm.86).

Baca juga: Membentuk Karakter Anak Melalui Pendidikan Inklusif

Kekhawatiran atas tindakan koruptif, sejatinya jauh-jauh hari sudah tersampaikan oleh Mochtar Lubis di Taman Ismail Marzuki pada 6 April 1977. Mochtar Lubis berpidato berjudul Manusia Indonesia. Lewat pidato itu, Mochtar menguraikan enam ciri-ciri pokok watak manusia Indonesia pada umumnya. Menurutnya, kebanyakan manusia Indonesia itu mempunyai sifat hipokrit (munafik) dalam segala hal, utamanya ihwal urusan citra (didepan layar). Konon, sifat ini merupakan sisa-sisa warisan feodalisme yang sudah lama mengakar di kepulauan ini.

Ia mencontohkan tentang persoalan pemberantasan korupsi. Kita mengutip pidatonya. “Kita semua mengutuk korupsi atau istilah barunya “komersialisasi jabatan”. Tetapi kita terus saja melakukan korupsi dan dari hari ke hari korupsi bertambah besar saja”. Sekonyong-konyongnya, ia mengeluhkan jargon anti korupsi hanya sebatas bualan belaka tanpa tindakan nyata.

Mochtar sangat khawatir jika situasi demikian terus terjadi. Indonesia hanya akan dituntun oleh nafsu rakus dan tamak yang mengesampingkan kompas etika dan moralitas. Arkian, Indonesia hanya menunggu detik-detik tergelincir menuju jurang kehancuran.

Syahdan, lewat buku ini Roanne ingin mengajak kita merenungkan bahwa Jakarta tak hanya dipahami sebagai pusat kekuasaan politik. Akan tetapi Jakarta juga menjadi sentral ekonomi makro di Indonesia. Kota Jakarta juga kiblat fashion dan gaya hidup modern maupun gemerlap ingar bingar hiburan malam.

Lebih dari itu, ia malah mengajak kita untuk memahami hidup warga Bantaran Kali. Sebab mereka menghadapi kemiskinan ekstrem, ancaman banjir dan penggusuran. Pengisahannya tentang bencana alam dibalut kehidupan miskin serta praktik lacur sesama warga negara. Semakin menegaskan wajah Indonesia di hadapan sidang pembaca. Tabik!

Bagikan
Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam UIN Raden Mas Said Surakarta. Peminat kajian Islam dan Budaya

Tinggalkan Balasan

Please enter your comment!
Please enter your name here