Foto Pribadi

Semula hening menyimak, lalu sepersekian detik gemuruh tepuk tangan penonton menggenapi ungkapan apresiatif terhadap penampilan kebudayaan dalam Pentas Rebon Taman Budaya Yogyakarta (TBY) pada Rabu, 1 Juli 2026. Pentas Rebon rutin tergelar di Concert Hall TBY setiap Rabu Wage (40 hari sekali). Ia menjadi denyut kesenian masih bisa terasakan di Yogyakata.

Pentas Rebon edisi ini satu di antaranya menampilkan suguhan ketoprak bertajuk “Dalang Panjang Mas: Suluk Kang Pungkasan”. Oleh sebab kisah ini mengingatkan pada serpihan kesejarahan Mataram Islam, saya tambah tertarik menuliskannya. Ki Dalang Panjang Mas (atau Panjang Mas) seorang dalang pada masa Amangkurat I.

Dalam Babad Tanah Jawi (2021), W.S. Olthof mengisahkan Ki Dalem—Olthof menyebut Ki Panjang Mas demikian—telah menikahi anak perempuan seorang dalang wayang gedog terkenal bernama Ki Wayah. Perempuan itu bernama Retno Gumilang. Amangkurat I tahu perempuan berasma Retno Gumilang itu cantik bukan kepalang, karena itu dia ingin memperistrinya.

Amangkurat I ialah raja amat otoriter dan bermasalah secara etika. Perilakunya kadang di luar nalar. Itu tadi, dia ingin mempersunting Retno Gumilang, seorang perempuan sudah bersuami. Namun Retno Gumilang menolak permintaan Raja Mataram Islam itu. Siasat Amangkurat I terhadap penolakan itu berujung pada pengundangan Ki Panjang Mas bersama para nayaga untuk tampil di keraton.

Baca juga: Kekuatan Hukum Akta Waris Notariil dalam Sengketa Klaim Hak Waris Keluarga

Terjadilah sabotase di sana. Pada saat Ki Panjang Mas bersama penabuh tengah pentas—menurut pendapat Erwin, pendiri komunitas Jogja Walking Tour—Amangkurat I melakukan sabotase dengan membakar pendopo pentas itu. Mangkatlah Ki Panjang Mas beserta nayaga dalam insiden kebakaran itu.

Atas kematian suaminya, Retno Gumilang sedih. Olthof menuliskan Retno Gumilang siang-malam terus menyebut nama Ki Dalem, suaminya itu. Muluslah jalan Amangkurat I mempersunting Retno Gumilang yang kelak disebut dengan Ratu Malang. Bahkan saking kecintaannya pada Ratu Malang, Amangkurat lupa dengan permaisuri dan para selirnya. Dia malah mengangkat Ratu Malang menjadi Ratu Wetan.

Para istri Amangkurat I sebelumnya cemburu buta melihat perlakuan istimewa terhadap Ratu Malang. Siasat jahat Amangkurat I sudah menular pada permaisuri dan selirnya karena kecemburuan itu berusaha menyingkirkan Ratu Malang. Konon, para permaisuri dan selirnya itu meracuni makanan Ratu Malang, sehingga dia muntaber lalu meninggal dunia.

Melihat keadaan selir kesayangannya tiada, Amangkurat I stres. Saking kasmarannya terhadap Ratu Malang, Amangkurat memerintahkan jenazahnya agar tidak dikubur. Siang-malam Amangkurat menunggui jenazah Ratu Malang di liang lahat di pemakaman Gunung Kelir sana selama tujuh hari tujuh malam. Sementara para sentana dan bupati memohon agar Sang Raja kembali ke keraton, tetapi Amangkurat I tidak mau. Gegerlah masyarakat Mataram Islam pada saat itu atas lelaku tak masuk akal Rajanya itu.

Satu waktu, di dalamnya tidurnya bersama Ratu Malang di kuburan, Amangkurat I bermimpi bertemu selir kesayangannya itu berkumpul dengan suaminya Ki Panjang Mas. Bunga tidur itu rupanya menghentikan lelaku Sang Raja untuk tak lagi tidur di kuburan Ratu Malang dan memerintahkan agar lekas menguburkannya. Amangkurat I akhirnya kembali ke keraton Plered untuk kembali fokus memimpin Mataram Islam. Peristiwa itu menurut Olthof ditandai dengan sengkalan tahun 1578.

Begitulah kira-kira gambaran pengisahan dalam pementasan ketoprak “Dalang Panjang Mas: Suluk Kang Pungkasan” dalam Pentas Rebon edisi ini. Beberapa adegan memang ada yang berbeda dengan catatan yang Olthof kisahkan. Namun, dalam penulisan sejarah lumrah kiranya perbedaan narasi mengenai pengisahan sebuah peristiwa. Memang, peristiwa itu tunggal, tapi dari sudut mana penulisan peristiwa sejarah itu berangkat akan menghasilkan pengisahan yang berbeda pula.

Baca juga: Menolak Pabrikasi Manusia: Menggugat Akar Kolonial dan Menakar Jalan Dekolonisasi Pendidikan

Menonton ketoprak di Pentas Rebon dengan mengambil tema-tema sejarah membantu saya pada ingatan-ingatan kesejarahan yang pernah saya baca dalam pelbagai buku sejarah atau dapatkan dari penuturan-penuturan wisata sejarah lewat walking tour.

Kita tahu, seni teater/pertunjukan bukan saja menyuguhkan dimensi seni di atas pangggung semata, tetapi di sana menyelipkan narasi-narasi kesejarahan yang amat lekat dengan kehidupan sosial masyarakatnya. Apalagi, pementasan itu hadir di Yogyakarta, sementara kisah Ratu Malang pun berlatar Mataram Islam semasa ibukotanya masih di Plered, Bantul, Yogyakarta.

Panggung  seni pertunjukan di Pentas Rebon bukan saja berhasil menjaga ruh kebudayaan Jawan di Yogyakarya, tetapi juga berhasil mempertautkan pelbagai rumpun ilmu-ilmu sosial. Potret ini sejalan dengan pertanyaan Koentjaraningrat dalam bukunya Kebudayaan, Mentalitet dan Pembangunan (1974) yakni apakah sebenarnya isi kebudayaan?

Koentjaraningrat melanjutkan, dari ketujuh unsur kebudayaan yang ada, ialah “sistem pengetahuan” salah satunya. Kita menyaksikan kesenian ketoprak bukan melulu sebagai bagian dari kebudayaan Jawa, tetapi ia membetot pengajaran sejarah yang tidak ditemukan dalam kelas lewat penceritaan yang monoton dan membosankan.

Sejarah terkisahkan lewat seni pertunjukan berujung pada pembentukan suatu kebudayaan. Di sekolah mungkin kita hanya diminta membaca sejarah demi sejarah sebuah peristiwa. Namun kita sulit membayangkan seperti apa sejarah masa lalu itu terwujudkan dalam konteks hari ini. Dalam pementasan ketoprak, sejarah itu terbaca bukan lagi dari teks.

Ia mewujud gambaran betapa ilustrasi teks itu benar-benar bisa terbaca lewat imajinasi. Di zaman modern, kiranya, membaca sejarah membutuhkan medium lanjutan dari hanya sebatas teks demi memberi kemengertian. Medium itu satu dari banyaknya pilihan ialah lewat seni pertunjukan, ketoprak misalnya. Kisah-kisah sejarah langsung terasa oleh pembaca (penonton). Lanskap ruang dan waktu masa lalu terasa lebih dekat dengan konsteks hari ini lewat penuturan kisah yang terpentaskan.[]

Bagikan
Alumni Mahasiswa Fakultas Syariah UIN Raden Mas Said Surakarta, sekarang sedang menempuh pendidikan Magister Hukum Litigasi di Universitas Gadjah Mada (UGM).

Tinggalkan Balasan

Please enter your comment!
Please enter your name here