Buku Sebelum Tidur
Ilustrasi dari Skor.id

Ada ujaran yang mengatakan “buku adalah jendela dunia”. Tentu saja ini adalah metafora. Sebuah buku jadi kendara yang mengantar setiap pembaca menjelajahi dunia yang tidak mungkin ditempuh oleh ayunan kaki. Kisah dalam sebuah buku memang bisa melambungkan imajinasi.

Dan menjelang tidur, bagi siapa saja yang kamarnya dekat daun jendela, akan senang memandangi jendela; melihat kepingan dunia. Menyenangkan memang.

Namun, ada cara lain untuk meneropong dunia dan seisinya yang bisa kita lakukan menjelang terlelap. Bagi orang yang bilik tidurnya hanya memiliki ventilasi udara tanpa jendela, membaca buku sebelum tidur bisa jadi solusi. 

Beberapa pengalaman menyenangkan seperti muka yang kejatuhan buku, liur yang membasahi buku, dan buku lecek ketindihan. Pengalaman ini jadi contoh yang tak terlupakan dari adegan membaca buku sebelum tidur.

Pada zaman dahulu, pihak penerbit berlomba-lomba mencetak buku saku agar kita semua dapat merasakan pengalaman-pengalaman di atas. Buku saku yang kecil, ringan, dan pas di genggaman menunjang aktivitas membaca menjelang tidur. 

Bagi anak kecil yang belum lancar membaca, penceritaan kisah 25 nabi dan rasul atau kisah teladan lainnya menemani mata yang terlelap setiap malam. Selain untuk membentuk karakter anak melalui penanaman suri tauladan, hal ini dapat mempererat pertalian emosional pada anak terhadap orang tua, seperti yang dijelaskan Hildred Geertz dalam “Keluarga Jawa”. Pengisahan membuat anak lamat-lamat memahami tata sosial dan kultural. 

Baca juga: Pendidikan, Buku, dan Ilmuwan

Dalam sebuah kuliah umum di University of California pada tahun 2001, Ray Bradbury sempat berpesan bagi para penulis. Untuk memperbaiki tulisan-tulisan yang sedang dihasilkan, ia menganjurkan untuk melakukan program 1000 hari menjelang tidur. Ia menyarankan untuk membaca satu puisi dari maestro, membaca esai tentang apapun dari seorang ahli, dan membaca cerpen dari pesohor. Niscaya, kata Ray Bradbury, tulisan kita akan mengalami perbaikan.

Pengalaman-pengalaman ini memang terasa menyenangkan. Namun, untuk ukuran saat ini, sangat jarang kita akan tidur dengan mendekap buku. Akhir-akhir ini muka kita sering tertimpa gawai yang lepas (mrucut) dari genggaman. 

Dalam tidur kita pun, lebih sering mendekap gawai. Tidak jarang, gawai itu masih memutar konten yang terakhir kita tonton sebelum mata benar-benar terpejam. 

Cerita pengantar tidur juga lebih lazim kita dengarkan melalui podcast di kanal-kanal di platform kesayangan. Mata dan telinga kita, belakangan ini rasa-rasanya lebih menaruh perhatian pada hal semacam ketimbang bahan bacaan cetak. Buku-buku lantas merindukan remang lampu kamar, air liur yang membasahi, dan dekapan hangat kita. 

Gawai telah menggantikan posisi buku sebagai pengantar tidur. Dengan gawai kita tak lagi memandang jendela, kita tiap malamnya memandangi gerbang dunia. Platform yang sangat luas. Beraneka ragam konten tersaji dalam satu kesempatan sehingga fokus kita terpecah belah ke segala arah. 

Seperti halnya buku, kita bisa menjalankan anjuran Ray Bradbury dalam sekali klik. Dalam sekali pencarian puisi sang maestro siap menemani kita. 

Gawai telah menggantikan posisi buku sebagai pengantar tidur. Dengan gawai kita tak lagi memandang jendela, kita tiap malamnya memandangi gerbang dunia. Platform yang sangat luas. Beraneka ragam konten tersaji dalam satu kesempatan sehingga fokus kita terpecah belah ke segala arah

Baca juga: Menelisik Kembali  Filsafat Islam

Bergesernya kebiasaan ini dituliskan Joko Pinurbo dalam puisinya yang berjudul “Telepon Genggam”. //ia terbaring telentang masih dengan kaus kaki//dan jas yang dipakainya ke pesta//dan telepon genggam yang tak lepas dari cengkeraman//telepon genggam:  surga kecil yang tak ingin ditinggalkan//. 

Sebagai teman tidur, buku telah terganti oleh gawai. Namun, bukan berarti buku tak lagi diminati. Penggunaan gawai sebagai pengganti buku dalam menemani lelap, dapat mencegah kerusakan pada buku akibat tidur kita yang kakehan polah. Gawai mencegah buku basah oleh air liur. Namun, perlu diingat gawai merusak fokus kita pada satu titik. Selain itu gawai adalah pihak ketiga yang membuat renggang hubungan antara manusia dan buku cetak. 

Tapi begitulah adanya, dalam bentuk cetak ataupun elektronik buku tetaplah benda yang memberikan sensasi menyenangkan. Terlepas dari pengeringan pada mata akibat membaca sambil tiduran, membaca buku selain meningkatkan wawasan juga dapat meningkatkan rasa kebahagiaan. Sedang dalam penelitian lain membaca buku 3,5 jam per minggu dapat menurunkan resiko kematian sampai 23 persen.

Sudah baca buku belum pekan ini?

Tinggalkan Balasan

Please enter your comment!
Please enter your name here