
Saat peringatan Hari Guru Nasional yang jatuh pada 25 November 2022 lalu, Nadiem Makarim, mengungkap beberapa hal sehubungan dengan pendidikan, buku, dan ilmuwan. Bahwa buku yang mengembangkan mental dan kecerdasaan anak-anak di sekolah. Bacaan juga yang akan mengantarkan anak-anak mengenali-mengetahui sekian ilmuwan
Nadiem Makarim tak menampik bahwa teknologi digital melayarkan tantangan berarti dalam hidup keseharian. Namun, yang menarik adalah bahwa ia masih pamrih atas buku cetak untuk disajikan demi pendidikan dan pengajaran anak.
Buku dihadirkan dengan misi memancing gairah anak untuk menyentuh dan membacanya. Ia memberi penekanan, kunci utama bagi keluarga dalam mempersiapkan masa depan anak terdiri dari dua hal: menceritakan bacaan dan mengajak untuk membaca buku dengan membangun kultur diskusi.
Mas Menteri bahkan membuat kiasan bagaimana membacakan buku sebagai “peristiwa magic”. Hal ini agaknya menarik, terlebih di tengah ketakterhubungan antara persebaran pengetahuan dengan lajunya kecepatan teknologi digital.
Baca juga: Waktu dan Kejadian
Bayang-Bayang Digital
Orang-orang zaman sekarang tak bisa menampik kehadiran teknologi, yang benar-benar mengalir dalam denyut nadi. Ada yang menyambut capaian teknologis dengan antusiasme tinggi tanpa mengindahkan efeknya, sebaliknya, ada pula yang cukup was-was dan kritis dengan segala perkara yang menyertainya.
Suara-suara kekhawatiran itu jauh-jauh hari telah bergema dengan penuh bahasa kepasrahan. Perkembangan itu pun membawa sederet media cetak yang pamit undur diri dalam menyediakan oplah cetak. Gejala itu pula yang merambah industri buku.
Silih berganti, mereka mulai menyerah—setelah agak lama tertatih-tatih—hingga sepenuhnya memilih jalur digital, mengubahnya ke bentuk elektronik. Hal itu pula yang tentunya perlu dipikirkan dalam dunia buku. Lebih-lebih dalam konteks ini berhubungan dengan kebudayaan membaca.
Pada 2016, Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) menerbitkan buku SAINS45: Agenda Ilmu Pengetahuan Indonesia Menyongsong Satu Abad Kemerdekaan. Buku merancang dan membentangkan arah masa depan Indonesia.
Masa depan membaca jadi satu sorotan yang dibuka dengan pernyataan seorang penulis Amerika Serikat, Ray Bradbury, yang sempat berkata “tak perlu membakar buku untuk menghancurkan sebuah peradaban, tapi buatlah masyarakat berhenti membaca.”
Baca juga: Jejak Langkah Mahbub Djunaidi
Sejenak mengajak kontemplasi dengan bayang-bayang dunia digital yang menyelimuti, AIPI memberi keyakinan akan pentingnya urusan membaca. “Di masa depan justru diperlukan kemampuan membaca yang lebih mahir karena harus disertai kemampuan memilah bacaan terpercaya di antara serbuan informasi. Membaca juga membentuk kreativitas, daya imajinasi, dan kepribadian yang tak gagap menghadapi dunia yang kompetitif.”
Buku dan Anak
Membaca adalah jalan yang selalu penting, baik membaca pengetahuan yang terhampar dalam belantara teks maupun membaca keadaan sekitar. Kita berpikir ihwal bagaimana keberadaan buku dalam tumbuh-kembang anak. Salah satu fakta yang kerap terabaikan adalah telatnya pengenalan sosok ilmuwan dalam lembar demi lembar halaman buku.
Jamak terjadi, dari keterlambatan mengisahkan itu, anak-anak hanya mengenal profil ilmuwan kelak di saat masa tua. Kalau kita mendalami kasus ini, tentu begitu sulit dalam menyuguhkan imajinasi anak terhadap kisah demi kisah yang dilalui ilmuwan dalam aktivitas penelitian, pencarian, dan penemuannya.
Nama-nama ilmuwan baik di luar negeri maupun dalam negeri dengan pelbagai sumbangsihnya kadang baru disadari orang ketika telah beranjak dewasa.
Di buku-buku anak, tak terkecuali buku pelajaran, kerap kali tak menjadi sorotan. Walakin, anak-anak saat berada di sekolah, hanya tahu penemuan-penemuan yang jenius tanpa mendalami kisah-kisah yang kadang heroik, ambisius, dan penuh jalan terjal yang berliku di balik laku hidup seorang ilmuwan.
Menurut beberapa penelitian, tatapan anak dengan kisah panjang ilmuwan merupakan pertemuan penuh hikmah. Perjumpaan yang menggairahkan semangat dalam belajar dan melangitkan imajinasi.
Tak ayal, ada sesuatu yang mengganjal saat mereka tahu kisah-kisah para ilmuwan hebat sebatas di masa tuanya. Hal ini pernah diungkapkan Siddhartha Mukherjee dalam buku Gen: Perjalanan Menuju Pusat Kehidupan (2021).
“Seperti musisi, seperti ahli matematika—seperti atlet elite—saintis mencapai masa keemasannya selagi muda dan merosot dengan cepat. Bukan kreativitas yang memudar, melainkan stamina: sains adalah olahraga ketahanan diri,” tulis Siddhartha Mukherjee.
Ilmuwan dalam Buku
Andi Hakiem Nasoetion (2002) sempat menyinggung kelindan antara pendidikan, buku, dan ilmuwan. Salah satu ahli statistika yang dimiliki Indonesia itu yakin bahwa bacaan masa bocah sangat berpengaruh dalam meluaskan cakrawala, tak terkecuali cita-cita terhadap profesi tertentu. Profesi-profesi yang dalam beberapa jenis terkait sains dan ilmu kealaman.
Ketersingkiran ilmuwan dalam buku-buku bacaan justru akan menjauhkan gagasan dan minat anak-anak dari bidang profesi sains, maupun orang-orang yang bertungkus lumus di dalamnya.
Dalam tulisan Bacaan Paling Berkesan Semasa Kecil itu, Andi Hakim Nasoetion menegaskan: “Itulah sebabnya kita perlu mengadakan buku-buku bacaan yang menggambarkan betapa menariknya berbagai profesi tertentu.”
Kenyataan ini tentu pantas menjadi permenungan bersama akan tugas memahamkan bagaimana menjadi seorang warga negara, secara lebih luas. Kita boleh meyakini penerapakan kurikulum merdeka sebagai bagian upaya pemerintah dalam meraih capaian Program for International Student Assessment (PISA), dalam mana praktiknya berupa penguatan literasi dan numerasi.
Ketergugahan ini tidak terlepas bahwa Indonesia sebagai kulminasi konsensus dunia dalam menggapai sumber daya manusia yang berwawasan ilmu, pengetahuan, dan teknologi.
Pernyataan Mas Menteri akan pentingnya menceritakan buku dan mengajak anak untuk membaca buku tentu penting. Sangat penting mendekatkan buku ke dalam hidup seorang anak manusia, sama pentingnya dengan setelan busana atau sepiring nasi.
Agaknya ini perlu diberi garis bawah, utamanya mengenalkan ilmuwan sebagai sosok yang memantik imajinasi sekaligus proses menapaki jagat sains dan teknologi.
Ini merupakan bagian kecil dari kesadaran kolektif. Pun membuktikan bahwa pendidikan, buku, dan ilmuwan merupakan kesatuan yang tidak bisa dilepaskan.
Pekerjaan mengenalkan profil ilmuwan ini penting, tak terkecuali dalam buku-buku pelajaran yang digunakan siswa bersekolah, kala menempatkan diri sebagai pembelajar.



