Membunuh tanpa jejak

Aktivitas manusia semakin dipermudah oleh teknologi. Tidak ada yang bisa nenampik hal ini. Sayangnya, banyak orang menyalahgunakan teknologi, seperti untuk mengejek orang lain di media sosial dengan komentar -komentar yang kadang mengandung unsur SARA. Salah satunya masalah yang selalu menjadi topik hangat adalah bullying.

Hal tersebut masih terus terdengar di mana-mana, tidak hanya menimbulkan luka batin pada diri korban, melainkan luka fisik hingga kematian. Benar-benar membunuh tanpa jejak. Sangat disayangkan sebenarnya ketika mengetahui pelaku bullying berada di usia yang terbilang muda. Mereka menganggap perundungan adalah hal yang wajar untuk main-main dan mereguk air kesenangan.

Dikutip dari Times Indonesia, banyak anak di Banyuwangi, Jawa Timur tak mau sekolah akibat jadi korban bullying, beberapa kasus di antaranya adalah tragedi bocah yatim yang memilih mengakhiri hidup dengan bunuh diri, lantaran tidak kuat lagi mendapat ejekan. Ia diejek karena tidak memiliki seorang ayah.

Selain itu juga ada kasus seorang siswi inisial ML yang putus sekolah karena kerap menjadi korban bullying, korban mengaku tidak percaya diri karena dihina teman sebayanya. Ia diejek karena perekonomian keluarganya sulit dan orang tuanya sedang sakit.

Baca juga: Waktu dan Kejadian

Sungguh miris melihat perlakuan pelaku kepada korban. Pada kasus pertama, korban kehilangan sosok heroik di hidupnya, seorang kepala keluarga, dan sedang menata ulang kekuatan yang tersisa di dalam diri tetapi lingkungan tidak mendukung hal itu.

Bukan memberi motivasi dan belah kasih, yang diterima korban adalah cemooh dan hinaan yang menembus ulu hati. Tidak semua orang dapat menerima perilaku buruk yang diterimanya dengan ikhlas. Ketika dari luar sudah mendapatkan hantaman dan diri tidak mampu menghalaunya, tentu saja sudah tidak ada harapan lagi yang menggenggamnya.

Pelaku perundungan adalah orang yang turut andil dalam pembunuhan, karena baik disengaja maupun tidak, pelaku adalah orang yang membunuh psikis korban—baik verbal mamupun nonverbal.
Pada kasus kedua, karena perundungan yang dialami korban cukup masif, korban sampai mengalami trauma.

Hal ini tentunya akan berdampak pada masa depan korban. Lalu apakah pelaku akan bertanggung jawab atas perbuatannya? Tentu saja tidak, sekedar kata “maaf” tidak mampu membayar apa yang telah dirusak baik mental dan fisik korban.

Andai kata pihak keluarga ataupun sekolah lebih peka sejak awal, kemungkinan kejadian-kejadian ini dapat ditepis atau diminimalisir. Hal-hal yang dikira sepele, rupanya perlu perhatian dan pengawasan khusus lagi intens.

Konon supaya sang anak dapat berkembang, tapi tidak ada effort yang lebih untuk memperhatikan tumbuh kembang sang anak. Percuma diberi kasih dan sayang, tapi bungkam ketika anak melakukan kesalahan. Tidak memberikan arahan yang lebih benar, asal tidak menangis. pola pengasuhan macam ini tentu kurang tepat.

Karakter anak memang dibentuk sejak kecil, dan orang tua sangat berperan dalam hal ini. Jika anak melakukan suatu kesalahan besar siapa yang akan menanggung malu, bukankah buah jatuh tidak jauh dari pohonnya?
Punya attitude baik saja tidak cukup sebatas mengenal, perlu adanya pengawasan dan penerapan dari orang-orang sekitar untuk memberi pemahaman yang kelak dipakai untuk membedakan mana yang benar dan salah, mana yang baik mana yang tidak.

Baca juga: Ilmu Menurut Ajaran Jawa

Selain itu, sekolah masih memiliki tanggung jawab untuk membentuk karakter anak, karena pengaruh lingkungan amatlah berperan. Contohnya, turut membuat seminar atau training mengenai kesehatan mental, memberikan pengertian saat mengajar di kelas, dan membuat peraturan-peraturan yang diawasi ketat agar anak dapat lebih displin dalam bertindak. Pun memupuk rasa kebersamaan satu sama lain dan menerima apapun keadaan dan latar belakang seseorang yang menjadi bagian dari kelompok mereka. Perilaku membunuh tanpa jejak ini bisa diminimalisir bilamana ada rasa kebersamaan dan solidaritas tanpa pandang bulu.

Dari kedua kasus yang sudah saya sebut di atas, tentu banyak aspek yang kurang, baik kepribadian anak, orang tua, dan lingkungan.
Membuat korban bunuh diri atau mengalami trauma apakah bisa disebut bentuk kepuasan dari bersenang-senang?

Memang, saat melakukan kesalahan, dan orang sekitar tidak memberi teguran hal itu akan dianggap hal wajar.
Normalisasi tindakan-tindakan yang salah sehingga tumbuh menjadi orang yang merasa paling benar, keras kepala, dan congkak. Sebelum hal itu lebih parah, anak harus merasa dekat kepada orang tuanya. Agar merasa nyaman ketika ingin meluapkan kelesah.

Jangan lewatkan sedikit perhatian kepada anak.
Bila merasa ada perubahan sikap anak, orang tua harus lebih peka untuk menanyakan kondisi hatinya saat ini. Mencari tahu kenapa mengalami perubahan signifikan, dan mencarikan solusi hingga mengembalikan sikap yang seperti biasanya.

Pemahaman mengenai perundungan harus sangat diperhatikan, karena sikap yang buruk tidak hanya berdampak kepada diri sendiri melainkan juga orang lain, berpengaruh juga terhadap pergaulan sosial. Melukai seseorang baik secara fisik maupun psikis tidak pernah bisa dibenarkan, apalagi sampai menyebabkan kematian. Sikap dan kebiasaan membunuh tanpa jejak ini harus dibuang sampai jauh.

Pelaku perundingan adalah pecundang-pencari mangsa yang lebih lemah dibanding dirinya. Menganggap hal itu sebuah candaan, tapi tidak memikirkan apakah itu lucu atau justru membuat malu bagi korban.
Pahami satu prinsip hidup di dunia, jangan menindas orang lain, dan jangan mau untuk ditindas-direndahkan. Tanyakan pada hati kecil Anda. Tidak ada seorang jua yang ingin ditindas, bukan?

Tinggalkan Balasan

Please enter your comment!
Please enter your name here