
Di zaman media sosial saat ini, kebaikan tidak hanya dilakukan secara diam-diam, melainkan juga dipamerkan secara terbuka di ruang publik. Berbagai aktivitas seperti pengabdian sosial, pengajian agama, aksi kemanusiaan, bahkan sekadar ungkapan renungan kini bisa dibagikan secara cepat dan hanya dalam hitungan detik. Sayangnya, hal ini juga memunculkan stigma negatif yang langsung dilontarkan: “pansos”. Label ini seakan langsung membuang niat tulus seseorang hanya karena kebaikannya terlihat di ruang publik. Khalayak telah membaca niat yang sengaja dipertontonkan.
Fenomena ini sungguh menarik sekaligus mengkhawatirkan. Kebaikan yang seharusnya menjadi inspirasi malah sering dicurigai. Seruan yang dimaksudkan untuk memotivasi justru dianggap sebagai upaya pencitraan semata. Padahal, tidak semua orang yang mempublikasikan ingin dipuji, dan tidak pula semua yang diam murni sebuah keikhlasan. Saatnya kita berhenti sejenak untuk merenung: bagaimana sebenarnya Islam memandang fenomena ini? Di mana letak perbedaan antara pansos dan sesuatu yang sebenarnya bertujuan untuk mengajak dan memotivasi?
Istilah pansos (panjat sosial) lahir dari budaya digital yang menjadi atensi sebagai komoditas. Likes, views, dan komentar sering menjadi ukuran eksistensi. Dalam konteks ini, pansos dipahami sebagai usaha mencari pengakuan, popularitas, atau keuntungan simbolik dengan memanfaatkan isu, momentum, atau penderitaan orang lain.
Kritik terhadap pansos tentu sah-sah saja. Membaca niat sebuah amal ibadah dengan ulang menjadi penting. Islam sendiri sangat tegas soal riya dan sum’ah atau amal yang dilakukan demi dilihat dan dipuji manusia. Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin mengingatkan bahwa riya adalah “syirik kecil” yang merusak nilai amal, karena orientasinya bergeser dari Allah kepada manusia. Masalahnya, istilah pansos hari ini sering digunakan secara serampangan. Ia menjadi palu godam untuk memukul siapapun yang menampakkan aktivitas baik di ruang publik. Akibatnya, batas antara pencitraan dan penyampaian pesan kebaikan menjadi kabur. Istilah pansos berubah dari kritik etis menjadi senjata sosial.
Islam, Niat, dan Ruang Publik
Dalam islam, niat adalah inti dari segala amal. Rasulullah SAW bersabda, “sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya”. Namun islam tidak sesempit itu hingga melarang kebaikan yang terlihat. Di dalam Al-Qur,an juga menyebut bahwa menampakkan sedekah diperbolehkan selama tujuannya baik, dan menyembunyikan lebih utama jika dikhawatirkan menimbulkan riya’.
Quraish Shihab, dalam salah satu tafsirnya menjelaskan bahwa Islam tidak sekadar mempersoalkan bentuk lahiriyah dari suatu amal perbuatan, melainkan menekankan pada tujuan yang mendasarinya serta dampak nyata yang dihasilkan bagi masyarakat luas.
Menurut beliau, niat baik yang ditampakkan secara terbuka justru bisa berfungsi sebagai sarana edukasi yang efektif dan teladan sosial yang menginspirasi asalkan hal tersebut tidak disertai dengan kesombongan diri yang berlebihan atau sikap merendahkan orang lain yang mungkin kurang beruntung.
Baca juga: Membuka (Jalan) Kesetaraan
Dengan demikian, pengunggahan amal itu sendiri bukanlah akar masalah yang inheren, melainkan persoalan serius ketika pesan luhur kebaikan tersebut terkikis oleh ego pribadi yang mendominasi, serta ketika nilai-nilai mulia yang seharusnya menjadi inti justru kalah oleh keinginan membangun citra palsu. Pendekatan ini mengajak kita untuk memfokuskan perhatian pada substansi niat dan kontribusi aktual, bukan sekadar penampilan artifisial yang mudah dinilai secara dangkal.
Dalam konteks dakwah, pengunggahan suatu hal justru memiliki fungsi penting. Dakwah tidak selalu berupa mimbar dan ceramah, tetapi juga teladan nyata yang disebarkan.
Gus Dur pernah mengatakan bahwa dakwah paling efektif adalah keteladanan, bukan teriakan. Dalam banyak kesempatan, ia menekankan bahwa Islam harus hadir sebagai nilai yang membumi dan menyentuh realitas sosial.
Di era digital, dokumentasi sering menjadi jembatan antara nilai dan realitas. Sebuah foto kegiatan sosial niscaya bisa menggerakkan orang lain untuk peduli. Sebuah video singkat bisa menyadarkan bahwa kebaikan itu mungkin dan dekat. Dalam hal ini, pengunggahan sebuah dokumentasi bukan soal “aku”, tapi soal “kita”.
Masalah muncul ketika orang malas membaca konteks dan hanya berhenti pada tampilan. Padahal, seperti kata Gus Dur, “Tuhan tidak perlu dibela, tapi manusia perlu dibela”. Jika sebuah unggahan membela nilai kemanusiaan dan mengajak pada kebaikan, mengapa tidak?
Garis Tipis Antara Pansos dan Pesan
Memang perlu diakui bahwa terdapat garis tipis yang halus antara upaya “pansos” dan ajakan untuk berbuat kebaikan, namun garis pemisah ini tidak dapat ditentukan secara sederhana hanya dari satu kali unggahan semata. Penilaian yang tepat dalam membaca niat justru memerlukan pembacaan mendalam terhadap niat yang mendasari, narasi yang disampaikan, serta dampak nyata yang dihasilkan dalam jangka panjang. Dengan demikian, kita diajak untuk tidak terburu-buru memberi label, melainkan menggali esensi di balik setiap tindakan yang dipublikasikan di ruang digital.
Pansos biasanya berpusat pada elemen diri sendiri: siapa yang menjadi pusat perhatian, siapa yang disebut-sebut, serta siapa yang mengharapkan pujian atasnya. Sebaliknya, memamerkan kebaikan yang bernilai tinggi justru berangkat dari substansi pesan: apa makna mendalam yang terkandung, apa nilai luhur yang diusung, dan ke mana arah ajakannya untuk membawa perubahan positif.
Ibnu Athaillah dalam kitab Al-Hikam mengingatkan kita bahwa amal ibadah ibarat jasad yang dapat dilihat mata, sedangkan keikhlasan adalah ruh yang tak kasat mata namun menentukan apakah amal tersebut hidup memberi manfaat atau mati tanpa bekas. Ajakan kebaikan yang murni tidak bergantung pada viralitas atau pujian massa; ia tetap tenang meski tidak mendapat sorotan luas, karena fokus utamanya adalah menciptakan perubahan riil, sekecil apa pun ukurannya.
Baca juga: ‘Nama Tua’ dalam Masyarakat Jawa Kiwari
Salah satu problem terbesar media sosial saat ini adalah budaya menghakimi. Banyak orang merasa berhak menilai niat orang lain, seolah-olah bisa melihat menembus hati hanya dari luarnya. Padahal Islam sangat tegas melarang su’udzan dan menuduh tanpa dasar.
Gus Dur dengan khasnya pernah mengingatkan bahwa agama sering rusak bukan oleh musuhnya, tetapi oleh penganutnya yang gemar menghakimi. Dan ketika itu terjadi, yang rugi bukan hanya individu, tetapi masyarakat secara lebih luas. Ironisnya, kebaikan sering dituntut untuk selalu diam, sementara keburukan bebas bersuara. Orang yang mengajak sering dicurigai, sementara yang acuh dianggap paling ikhlas. Padahal, diam juga bisa lahir dari ketidakpedulian.
Menata Niat, Menjaga Etika
Pada akhirnya, refleksi membaca niat ini tidak hanya ditujukan kepada penonton, tetapi juga kepada pembuat konten kebaikan. Menata niat adalah pekerjaan seumur hidup. Imam Al-Ghazali menyebut ikhlas sebagai sesuatu yang paling sulit, karena ia selalu diuji oleh hal-hal kecil, termasuk pujian. Namun di sisi lain, masyarakat juga perlu belajar dewasa. Tidak semua yang terlihat ingin dipuji. Tidak semua dokumentasi adalah pansos. Bisa jadi, apa yang kita curigai sebagai pencitraan justru menjadi sebab orang lain tergerak berbuat baik.
Di zaman Ketika kebaikan sering disalah pahami, barangkali tugas kita bukan memperbanyak kecurigaan, melainkan memperluas khuznudzan. Sebab bisa jadi, apa yang kita sebut pansos hari ini, kelak justru menjadi sebab lahirnya kebaikan yang lebih besar. Sebagaimana pesan Rasulullah SAW, setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan. Dan pada akhirnya, bukan manusia yang menjadi hakim niat, melainkan Allah.



