
Masa peralihan pemimpin dari Soekarno ke Soeharto menjadi langkah awal berdirinya Orde baru yang menuai banyak versi dalam penulisan sejarah Indonesia.
Mulai dari Surat Perintah Sebelas Maret atau sering disebut dengan SUPERSEMAR, sampai pada pencarian dalang di balik penggulingan Soekarno.
Tidak hanya itu, pembantaian orang-orang yang terindikasi Partai Komunis Indonesia (PKI) juga menjadi perhatian penting—bahkan sorotan dunia—dengan korban terbesar kedua dunia untuk peristiwa genosida usai Nazi pimpinan Hitler di Jerman.
Hal penting lain yang perlu kita ketahui adalah kepemimpinan Soeharto, yang mampu mempertahankan kekuasaannya selama kurang lebih 32 tahun. Soeharto mampu memainkan strategi cukup baik dan rapi dalam menghegemoni masyarakat untuk menghancurkan PKI sampai ke akar-akarnya.
Namun, tak hanya propaganda saja yang dilakukan rezim Orde Baru, teror juga dilakukan untuk membungkam masyarakat Indonesia supaya tidak melakukan perlawanan hingga mematikan daya kritis.
Dalam menghalau perlawanan rakyat, Soeharto mendirikan pasukan keamanan khusus dengan nama KOPKAMTIB (Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban) yang memiliki wewenang khusus lagi istimewa di atas POLRI dan TNI.
Baca juga: Ruwah dan Ritus Sebelum Ramadhan
KOPKAMTIB adalah tangan kanan pemerintah dalam penumpasan orang-orang komunis di Indonesia, dengan bantuan beberapa ormas yang terhasut propaganda rezim Orde Baru, tentunya.
Namun, tidak hanya PKI saja yang menjadi korban kebiadaban Orde Baru. Mahasiswa sebagai kolaborator kritis juga kehilangan kebebasan mimbar akademik.
Beberapa buku dilarang oleh pemerintah Orde Baru untuk dibaca ataupun didiskusikan dengan ancaman hukuman penjara ataupun siksaan secara tidak manusiawi, bahkan yang paling menakutkan adalah hilang tanpa jejak. Hal ini dilancarkan oleh pemerintah Orde Baru untuk mengurangi perlawanan dari kaum intelektual.
Akan tetapi tekad mahasiswa tidak pernah surut dalam memperjuangkan kebebasan dalam mendalami setiap pengetahuan. Mereka tetap mendiskusikan buku-buku terlarang, seperti Tetralogi Pulau Buru karya Pramoedya Ananta Toer. Meski harus rela menyembunyikan identitas buku dengan diberi sampul polosan, serta harus waspada dengan aparat pemerintah yang seringkali ikut menyusup masuk dalam ruang-ruang diskusi.
Seperti dalam ingatan Laut sewaktu mencari tempat diskusi dan penangkapan para aktivis yang diceritakan dalam novel Laut Bercerita (2017) karya prosais Leila S. Chudori.
Laut mengatakan “tahun berapakah ini? Kawan-kawanku tampak masih muda, aku terlempar ke masa mahasiswa ketika masih mencari-cari tempat untuk berdiskusi sekaligus bermalam dengan aman, jauh dari intaian intel. Serta peristiwa penangkapan tiga aktivis itu masih terasa panas dan menghantui kami (hlm. 10).”
Begitulah perlawanan mahasiswa terhadap pemerintah melalui literasi, dengan membaca buku-buku yang bertemakan revolusi dan tetap konsisten mendiskusikan buku-buku terlarang. Namun, kegiatan para aktivis mahasiswa tidak hanya berhenti dalam ruang-ruang diskusi.
Seperti halnya Laut dan kawan-kawan dalam novel Laut Bercerita, pada akhirnya mereka juga turut memperjuangkan hak-hak rakyat dengan melakukan pendampingan pada petani Blangguan. Mereka melakukan aksi tanam jagung, dan beberapa aksi mahasiswa lainnya yang menentang kelazaliman rezim Orde Baru.
Selain dalam buku Laut Bercerita, gerakan mahasiswa yang melakukan perlawanan terhadap rezim Orde Baru juga dijelaskan oleh Julie Southwood-Patrick Flanagan dalam buku Teror Soeharto (2013). Di dalam buku tersebut membagi menjadi tiga Periode. Periode pertama, aksi angkatan 1966 yang pada mulanya mendukung kelompok Soeharto kemudian berangsur-angsur menjauh.
Baca juga: Ajakan Peduli Krisis Iklim
Periode kedua, adalah intensitas pergerakan mahasiswa yang mencapai puncaknya pada unjuk rasa Malari 1974, yang bersamaan dengan kunjungan Perdana Menteri Jepang Tanaka ke Indonesia. Periode ketiga, adalah gelombang protes di awal 1977 dan berujung sejumlah persidangan yang digelar pada 1979.
Selanjutnya gerakan mahasiswa 1977-1978 juga disebut sebagai ‘pergerakan mahasiswa’ dibandingkan dengan pelopornya. Karena gerakan ini mengekspresikan komitmen mahasiswa terhadap patriotisme, gerakan populis, dan keadilan sosial—hak-hak asasi manusia yang banyak diserukan dan didukung. Pergerakan mahasiswa ini juga menyatukan kolaborator-kolaborator dari berbagai kalangan mahasiswa termasuk Islam, Katolik, Protestan, Jawa dan Sumatera.
Pergerakan ini juga susah dimanipulasi oleh militer atau dituduh sebagai gerakan komunisme. Karena dukungan dari tokoh-tokoh terkemuka seperti Jendral Nasution, Dharsono (mantan intelijen Orde Baru), Ismail Suny (pengacara dan Rektor Universitas Islam), Adnan Buyung Nasution, Rendra (penyairi, dramawan, sutradara dan aktor), Sjuman Djaya, Bung Tomo (sutradara film dan pahlawan nasional), Mahbub Djunaidi (jurnalis silam berpengaruh).
Tokoh-tokoh tersebut setidaknya menyampaikan kritik konstruktif terhadap pemangku kebijakan tidak sekadar melalui kelisanan, akan tetapi mereka pandai dalam etos manyampaikan gagasan melalui tulisan.
Kesadaran menulis inilah yang sebenarnya harus diperhatikan oleh mahasiswa, bahwa orang pandai berbicara itu sudah hal biasa dan akan sirna!



