
Peluncuran situs Nisa.co.id baru saja digelar di aula gedung PPG lt. 1 UIN Raden Mas Said Surakarta. Acara ini dilaksanakan pada hari Rabu, 8 Maret 2023 pukul 13.45 sampai 17.00 WIB. Pemilihan tanggal ini bukan tanpa sebab-musabab. Pada tanggal 8 Maret ini bertepatan dengan hari perempuan internasional (women international day).
Peserta yang datang dalam peluncuran situs Nisa.co.id cukup beragam, mulai dari mahasiswa, organisasi mahasiswa, dan tamu undangan. Sejumlah 47 peserta hadir dan menyimak dengan intens.
Acara peluncuran situs Nisa.co.id dimulai dari menyanyikan lagu nasional Indonesia Raya. Kemudian diisi sambutan-sambutan. Sambutan pertama dari pihak penyelanggara peluncuran situs yang diwakili oleh Siti Nur Maela. Mbak Maela—sapaan akrab Siti Nur Maela—memaparkan bahwa kehadiran situs baru ini bisa untuk ikut mewarnai dunia digital.
Media yang mengusung tema keislaman dan keperempuanan ini siap mengudara dan mendokumentasikan para pahlawan perempuan lokal di Indonesia. “Sebab sejarah perempuan seringkali tidak disorot media,” tutur Mbak Maela.
Sambutan kedua diutarakan dari Pembina Nisa.co.id yang diwakili oleh M. Zaenal Anwar. Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Surakarta tersebut sebagai civitas akademika ikut merasa senang, yang mana menjadi satu hal yang membahagiakan.
Artinya, kehadiran situs baru ini dianggap sebagai angin segar, bukan sebagai kompetitor. Pak Zaenal, sapaan akrab M. Zaenal Anwar, mengharapkan Nisa.co.id menjadi media informasi yang benar dan jadi rujukan di tengah maraknya media digital.
Setelah sambutan demi sambutan usai, selanjutnya adalah penandatangan pohon harapan secara simbolis. Beberapa media partner yang ikut menandatangani pohon harapan meliputi mubadalah.id, fahmina institute, damarku.id, puan merdesa, islamsantun.org, WeLead, dan nisa.co.id.

Kemudian pemutaran video profil persembahan Nisa.co.id. Video yang diputar membahas secara sekilas visi misi dan tema yang diusung, hingga menjadi identitas media baru tersebut. Pemutaran video yang kedua berupa ucapan selamat atas peluncuran media nisa.co.id.
Baca juga: Kemajemukan Toleransi Beragama
Selanjutnya adalah acara inti, yakni sesi pemaparan materi oleh narasumber. Ada Okiviana, S.Sos., M.A., Aji Najmudin, dan Siti Aminah Zuhriyah. Ketiga narasumber yang berkesempatan mengisi materi tersebut berasal dari beragam latar belakang.
Sesi pemaparan materi dipandu oleh Dwi Kurniasih selaku moderator. Dwi Kurniasih merupakan kader ulama perempuan Indonesia dan dosen UIN Raden Mas Said Surakarta.
Okiviana memaparkan materi dengan judul “Peran Perempuan dalam Politik”. Mbak Oki, sapaan akrab Okiviana, menjelaskan bahwa kaum hawa sangat perlu untuk terjun ke dunia politik. Mbak Oki membahas keikutsertaan perempuan dalam panggung politik. Posisi strategis yang dipegang oleh perempuan, menurut anggota komisi 1 DPRD Sukoharjo ini masih terbilang minim.
Keterbatasan tersebut menjadi hambatan tersendiri bagi golongan perempuan untuk mengaktualisasikan diri dan memaksimalkan potensi. Beberapa hambatan yang dialami oleh perempuan adalah pengalaman yang masih kurang. Selain, tentu saja adalah senioritas dalam birokrasi yang melahirkan perbedaan visi dan arah langkah yang tidak searah.
Sesi selanjutnya adalah pemaparan dari Aji Najmudin. Mas Aji, panggilan akrab Aji Najmudin, membaca beberapa literatur yang membahas sejarah pergerakan perempuan. Mas Aji menemukan aktivisme perempuan dari dulu sudah memasuki beragam koridor. Penulis yang berdomisili di daerah Pengging ini juga merunut asal muasal kelahiran organisasi perempuan sejak pemerintahan kolonial Hindia Belanda.
Yang menarik, penulis buku Menyambut Satu Abad NU ini menemukan bahwa penggunakan istilah pada masa penjajahan adalah perempuan. Seperti pada tanggal 22-25 Desember 1928 di Yogyakarta yang bergulir Kongres Perempuan Indonesia. Kongres perempuan pertama itu menjadi tonggak bagaimana aktivisme perempuan mulai dipancangkan. Sebanyak 30 organisasi perempuan di kota-kota di Jawa dan Sumatera datang demi menyatukan visi dan menggapai cita.
Saat Jepang tiba menjajah Indonesia, beberapa organisasi mengalami kesulitan dalam mengayunkan langkah kaki, tak terkecuali organisasi perempuan. “Nippon Cahaya Asia” itu kemudian membuat Fujinkai. Sebuah organisasi perkumpulan perempuan bentukan Jepang.
Mas Aji juga merunut arah gerakan perempuan pascaperang. Selama pertengahan dekade 1940-an ini, bergulir beberapa pertemuan akbar organisasi perempuan. Pada tanggal 24-26 Februari 1946 diadakan Kongres Wanita kedua, yang kata Mas Aji berlangsung tidak jauh, yakni di Solo. Hasil dari kongres ini adalah pembentukan Badan Kongres Wanita Indonesia.
“Zaman kolonial sudah memakai istilah perempuan, setelah merdeka justru menggunakan kaa wanita,” tutur Mas Aji. Redaktur NU Online Jawa Tengah ini menyatakan bahwa ada konotasi politis dalam peralihan istilah tersebut. Setiap kata tentu tidak bisa lepas dari konteks dan tujuan kata tersebut digunakan.
Baca juga: Mengingat Kembali Bahasa Simbol
Sebagai praktisi media, Mas Aji menyinggung bahwa kini dunia telah memasuki wajah baru. Saat media cetak (fisik) mulai bersaing dan mesti bertahan di hadapan media digital. Transformasi yang butuh sarana prasana dan tingkat melek literasi yang tinggi.
Mas Aji juga membabarkan sekilas kaitannya dampak-dampak dari kebebasan media. Sampai muncul adagium yang disitir Mas Aji, “hukum tidak ditentukan oleh penegak hukum, tetapi oleh netizen.” Meskipun media digital memiliki segudang catatan dan efek berkepanjangan bagi kita, Mas Aji optimis ahwa media bisa menjadi ruang mobilisasi.
Pemaparan terakhir disampaikan oleh Siti Aminataz Zuhriyah. Direktur utama Nisa.co.id ini membuka penjelasan dengan menyampaikan fakta bahwa media sosial sangat mempengaruhi konsentrasi manusia.
Selain mempengaruhi tingkat konsentrasi, media sosial yang isinya mayoritas receh-receh lebih cepat menjalar di tatapan mata kawula muda tinimbang “website yang kompatibel”. Adapun dampak yang tanpa disadari adalah gaya hidup (life style) dan budaya yang latah meniru dari luar, dengan tanpa disaring-dipilah.
Sebagai pimpinan redaksi pula, Mbak Aminah—sebutan akrab Siti Aminataz Zuhriyah—mengutarakan visi dari media yang baru diluncurkan ini. Nisa.co.id hadir untuk menjawab berbagai tantangan dan menjaga nyala api semangat, antusiasme, hingga aktivisme perempuan dan sebagai role model. Demikian juga “mengangkat lagi tokoh-tokoh perempuan lokal yang berdaya dan memberdayakan perempuan.”
Selepas masing-masing pemateri memaparkan materinya, dibuka cermin tanya jawab. Beberapa peserta tampak menaruh perhatian tinggi pada isu perempuan dan gender. Pembahasan pada sesi terakhir ini lebih mengarah pada penegakan keadilan hukum bagi perempuan dan ikhtiar bersama dalam menanamkan kesetaraan gender bagi masyarakat.
Sebab masih banyak PR yang mesti diselesaikan, yang acap membuat perempuan ada di posisi peripheral—terlebih siapa saja bisa menjadi agen patriarkal.
“kita mulai dari diri kita sendiri,” jelas Mbak Oki.






