Bahasa Simbol

Semua orang pasti pernah bermimpi. Mimpi dapat diartikan sebagai bahasa simbol yang melahirkan interpretasi.

Sebagian orang percaya, bahwa mimpi adalah pengalaman nyata dari jiwa yang keluar dari jasad kita saat tidur. Ada juga yang meyakini mimpi adalah wahyu dari Tuhan atau bisikan dari setan. Ada pula yang menyadari bahwa mimpi sebagai hasrat irasional atau kebajikan moral.

Sebaliknya, sebagian orang yang mengklaim dirinya realistik menganggap mimpi sebagai omong kosong yang tak ada gunanya, dan hanya bunga tidur belaka. Akan tetapi nyatanya, mimpi-mimpi yang hadir dalam tidur seseorang justru membuatnya merasa resah dan gelisah jika ia bermimpi buruk. Tatkala bermimpi baik, ia merasa riang gembira, seperti ketika Anda bermimpi bertemu dengan kekasih. Eh.

Baca juga: Mencegah KDRT Melalui Tafsir Al-Qur’an

Sama halnya mitologi, mimpi merupakan bahasa simbolis. Erich Fromm mengartikan bahasa simbolis sebagai bahasa yang mengekspresikan pengalaman, perasaan, afeksi dan pemikiran batin sebagai pengalaman sensorik, yang mengekspresikan kejadian-kejadian di luar dunia yang melampaui realitas.

Fromm mengartikan bahasa simbolis sebagai bahasa yang mengekspresikan pengalaman, perasaan, afeksi dan pemikiran batin sebagai pengalaman sensorik, yang mengekspresikan kejadian-kejadian di luar dunia yang melampaui realitas.

Bahasa simbolis adalah bahasa paling universal yang pernah dikembangkan umat manusia, seperti halnya budaya, dan berlaku sepanjang sejarah. Dan, sama halnya dengan bahasa lain, bahasa simbolis memiliki gramatika dan sintaksisnya sendiri (hlm. 12).

Bentuk-bentuk Simbol

Lalu apa arti simbol itu sendiri? Suatu simbol, jawab Fromm, kerap diartikan sebagai sesuatu yang mewakili hal lain. Jika mengikuti definisi tersebut, maka pertanyaan berikutnya, apakah antara simbol dan yang disimbolkan memiliki hubungan yang spesifik?

Jawaban pertanyaan tersebut tidaklah sederhana. Sebelum memberi jawaban, kata Fromm, kita harus membedakan antara tiga bentuk simbol; konvensional, aksidental dan universal. Dari ketiga bentuk tersebut, hanya bentuk aksidental dan universal yang dapat mengekspresikan pengalaman sensorik. Sebab, hanya kedua bentuk itulah yang memiliki elemen bahasa simbolis.

Dari ketiga bentuk simbol itu, simbol konvensional adalah simbol yang paling dikenal karena kita menggunakannya saban hari. Misalnya, jika kita membaca atau mendengar kata “meja,” maka asosiasi kita adalah benda “meja.” Adakah hubungan antara kata “meja” dengan benda “meja”? Tentu tidak.

Meja sebagai benda tidak memiliki hubungan apa pun dengan kata “meja”, dan satu-satunya alasan suatu kata menyimbolkan suatu benda adalah kebiasaan manusia menyebut benda dengan sebuah nama.

Pada praktiknya, simbol konvensional diilustrasikan dengan kata-kata dan juga gambar. Walakin, tidak semua gambar merupakan bentuk simbol konvensional. Contohnya adalah salib. Salib merupakan simbol konvensional gereja. Tetapi, secara spesifik simbol salib merujuk pada kematian Yesus, dan bisa lebih dari itu, yaitu interpenetrasi antara spiritual dan material, yang memberi hubungan antara simbol dan yang disimbolkan melampaui simbol konvensional (hlm. 21).

Selanjutnya simbol aksidental. Bentuk bahasa simbol ini merupakan kebalikan dari simbol konvensional. Yang menyamakan keduanya hanya satu hal yaitu tidak adanya hubungan antara simbol dan yang disimbolkan.

Yang membedakan keduanya yaitu simbol aksidental tidak dapat dirasakan oleh banyak orang. Fromm memberi contoh simbol ini dengan seseorang yang memiliki pengalaman menyedihkan di suatu kota. Kemudian saat ia mendengar kota itu, maka ia akan menghubungkan kota itu dengan kesedihannya. Begitu pula sebaliknya apabila ia memiliki pengalaman bahagia. Rasa tersebut hanya dapat ia rasakan sendiri, dan tidak dapat dibagikan kepada orang lain.

Baca juga: Seusai Polemik Childfree, Memaknai Anak (Lagi) 

Ketiga, simbol universal. Yaitu simbol yang memiliki hubungan intrinsik antara simbol dan yang disimbolkan dan tidak terjadi secara kebetulan. Fromm memberi tamsil simbol api. Ketika kita menggunakan api sebagai simbol, kita mendeskripsikan pengalaman batin yang mempunyai karakter yang sama dengan pengalaman indrawi kita terhadap api; energi, keringanan tubuh, gerakan, semangat, dan lainnya (hlm. 22-23).

Bahasa dari simbol universal merupakan bahasa yang dikembangkan oleh umat manusia, yang hidup dalam mitologi dan mimpi. Akan tetapi bahasa tersebut dilupakan ketika manusia telah berhasil mengembangkan bahasa konvensional.

Mazhab Tafsir Mimpi

Fromm memercayai mimpi adalah ekspresi yang bermakna dan signifikan atas segala bentuk aktivitas mental selama tertidur. Ia memandang mimpi sebagai ekspresi dari fungsi paling irasional sekaligus tertinggi dan paling berharga dari pikiran kita (hlm. 33).

Sementara itu, sebelum Fromm, Sigmund Freud, telah memberi pandangannya  tentang aktivitas bermimpi. Ia menegaskan bahwa mimpi adalah pemenuhan atas hasrat paling irasional yang direpresi saat kita terbangun.

Menurut Freud, semua manusia memiliki hasrat irasional dalam dirinya yang telah kita represi karena suatu tuntutan, tetapi tidak dapat kita singkirkan sepenuhnya. Lalu saat kita tertidur, kontrol kita atas kesadaran melemah dan hasrat irasional tersebut bangkit menunjukkan dirinya melalui mimpi. Pandangan Freud tersebut terhubung dengan teori fungsi tidur; kebutuhan fisiologi yang selalu kita coba penuhi sebagai organisme (hlm. 58-63).

Alhasil, Freud sampai pada asumsi bahwa esensi mimpi adalah pemenuhan halusinatorik atas hasrat irasional kita yang berfungi agar kita tetap tertidur. Misalnya, ada seseorang baru saja makan dan belum sempat minum sebelum tidur, dan ia merasakan kehausan saat tertidur. Ia mungkin bermimpi sedang menikmati segelas air yang dingin dan menyegarkan. Melalui mimpi tersebut, ia memberikan kepuasan halusinatorik agar ia tetap tertidur lelap.

Itu asumi pertama Freud. Asumsi keduanya adalah bahwa hasrat irasional yang diekspresikan dan dipenuhi dalam mimpi berakar dari masa kecil yang tersembunyi dan bangkit dalam mimpi kita. Asumsi Freud ini berdasar pada beberapa alasan. Salah satunya adalah analisa atas mimpinya sendiri, dan ia terkejut akan fakta bahwa dalam diri seorang dewasa yang normal dan sehat secara mental, masih ditemukan dorongan irasional seperti kebencian, kecemburuan dan ambisi (hlm. 64-68).

Berbeda dengan Freud yang memahami mimpi sebagai hasrat irasional, Carl G. Jung secara dogmatis menafsirkan mimpi sebagai ekspresi kebajikan dalam alam tak-sadar. Ekspresi kebajikan yang muncul dalam mimpi itu, menurut Jung, bukanlah suara kita sendiri, melainkan dari sumber yang melampaui diri kita (hlm. 106-107).

Lalu di mana posisi Fromm? Jawabannya tidak pada keduanya. Ia tidak mengikuti Freud dan menjadi Freudian, tidak pula mengikuti Jung dan menjadi Jungian. Ia berada di tengah dan memiliki pandangan dan pendekatan sendiri dengan menggabungkan dua aliran tersebut. Yaitu memandang bahwa mimpi mengekspresikan segala bentuk aktivitas mental dan dorongan irasional sekaligus akal dan moralitas kita.

Ala kulli hal, mempelajari bahasa simbol itu penting. Sebab ia akan membantu kita memahami tingkat pengalaman manusia dan membawa kita pada lapisan terdalam kepribadian. Dan, Fromm menuntun kita melalui bukunya ini.

Judul: Bahasa yang Terlupakan; Pengantar Tafsir Mimpi, Dongeng dan Mitos

Penulis: Erich Fromm

Penerbit: IRCiSoD

Tebal: 299 hlm.

ISBN: 978-623-7378-25-9

Tinggalkan Balasan

Please enter your comment!
Please enter your name here