Ilustrasi dari essentiels

Karya sastra merupakan fenomena kehidupan manusia, baik yang menyangkut kejadian dan peristiwa yang dialami oleh seorang sastrawan (eksternal) maupun perasaan yang bergejolak dalam jiwanya (internal). Perasaan ini bisa dipengaruhi oleh faktor alam, kehidupan, sosio kultural, perkembangan ideologi dan aneka macam fenomena lainnya yang terjadi di tengah masyarakat kita.

Ada banyak faktor yang memengaruhi karya sastra, sebagaimana dijelaskan M. ‘Abd al-Mun’im Khafaji dalam bukunya al-Syi’ru al-jahili. Dalam kajian kritik sastra, faktor-faktor ini yang kemudian disebut dengan istilah unsur-unsur ekstrinsik (al-’anashir al-kharijiyyah), yaitu unsur-unsur luar yang berpengaruh terhadap seorang pengarang dalam menuangkan ide-idenya terhadap suatu karya sastra.

Adapun unsur-unsur ekstrinsik yang memengaruhi karya sastra pertama yaitu kesiapan naluri atau al-isti’dad al-fithri, setiap manusia tidak mesti terpengaruh oleh situasi yang mengitari dan kemudian mengekspresikannya dalam gubahan syair atau prosa. Hal ini hanya dapat terjadi jika seseorang mempunyai karakter dan rasa yang lembut serta bakat seni yang mendukung.

Kita bisa melihat perbedaan tiap manusia terhadap kesiapan ini. Misalnya, orang-orang Arab dikenal sebagai penyair adalah karena mereka mempunyai rasa sastra yang kuat, hidup dalam kebebasan dan selalu berpindah-pindah (mutanaqqilah).

Baca juga: Kisah Sastra Arab pada Masa Modern

Begitu pula dengan fenomena kehidupan orang-orang Yunani Kuno, lantaran mereka memiliki kesiapan naluri atau insting yang kuat di bidang seni. Sebaliknya, karena kehidupan orang-orang Romawi senantiasa berhadapan dengan konflik peperangan, penataan politik dan pembuatan undang-undang, maka mereka tidak dikenal sebagai penyair.

Kedua yaitu faktor iklam (al-munakh), perbedaan iklim bisa memengaruhi jiwa seseorang dan aturan-aturan yang dibuat dalam masyarakat. Selain itu, iklim juga memengaruhi etika dan pandangan hidup yang pada akhirnya berdampak kepada imajinasi yang kemudian dituangkan dalam karya sastra.

Pengaruh Antropologi

Dalam kajian antropologi maupun sosiologi, disebutkan bahwa alam atau geografi bisa memengaruhi sifat-sifat fisik dan psikis manusia, bahkan juga kepribadian dan kulturnya. Geografi tanah Arab yang tidak kondusif dan tidak ramah ini dapat memengaruhi watak, tabiat dan cara berpikir mereka, yaitu bangsa Arab. Secara psikologis, watak dan cara berpikir tersebut akan terpantul ke permukaan, salah satunya melalui media bahasa sebagai ekspresi kepribadiannya.

Ketiga yaitu karakteristik seseorang atau khashaish al-jinsi, seseorang yang hidup di pedalaman atau tertinggal oleh kemajuan, ada kecenderungan dalam mengekspresikan karya sastranya dengan bahasa yang terperinci, transparan dan sulit untuk dipahami. Keadaan ini berbeda dengan orang yang berperadaban maju, yang cenderung menggunakan bahasa yang umum, sederhana dan mudah untuk dipahami.

Perbedaan ini terjadi karena kecerdasan dan pengetahuan yang dimiliki serta keutuhan imajinasi yang terbungkus dalam bahasa sangat berbeda. Oleh karena itulah, jika kita mengamati karakteristik syair Arab Jahili, tentu akan berbeda sekali dengan karakteristik syair Yunani dan Eropa. Selain karena faktor perbedaan di atas, juga diakibatkan oleh perbedaan aliran yang diikuti dan ide yang dituangkan.

Kualitas bahasa dalam genre prosa Arab itu menjadi baik pada saat bangsa Arab mengalami kemajuan peradaban dan ilmu pengetahuan

Keempat adalah peradaban dan sosial (al-Hadloroh wa al-ijtima’), kemajuan peradaban sangat mewarnai ide-ide dan beberapa gagasan yang dituangkan dalam sebuah karya sastra. Ide dan tujuan yang dituangkan oleh al-udaba’ yang berada pada peradaban yang maju sangat berbeda dengan ide dan tujuan yang digaungkan oleh al-udaba’ yang masih hidup dalam suasana primitif. Selain itu, ciri khas dari pengungkapan pilihan kata atau bahasa juga berbeda.

Permasalahan ini dapat kita jumpai dalam karya sastra orang-orang Arab sebelum mengalami kemajuan dengan karya sastra para sastrawan yang sudah berinteraksi dengan kemajuan teknologi, seperti keadaan yang terjadi di negara Mesir, Syam, Irak dan Andalusia.

Kelima ialah kemajuan ilmu pengetahuan, faktor eksternal ini memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kapasitas intelektual dan kekuatan rasa sastra. Kemajuan ini sangat nampak pada pemakaian bahasa atau stilistika, sebagaimana yang terdapat dalam karya sastra bergenre prosa. Kualitas bahasa dalam genre prosa Arab itu menjadi baik pada saat bangsa Arab mengalami kemajuan peradaban dan ilmu pengetahuan. Pada umumnya, bahasa prosa memakai bahasa yang rasional, sementara itu puisi menggunakan bahasa yang imajinatif.

Keenam yaitu agama (al-din), agama, akhlak, etika dan ideologi mempunyai dampak terhadap tema-tema baru yang diungkapkan dalam sebuah karya sastra. Misalnya saja, karya sastra drama (al-adab al-tamsili) muncul karena dipengaruhi oleh sebagian ajaran agama Yunani. Begitu juga dengan agama islam yang menginspirasikan munculnya karya sastra sufi (al-adab al-sufi), misalnya saja syair zuhud, taubah, nadm, khutbah dan nasehat-nasehat moral lainnya.

Dalam realita ini, kita bisa menelaaah bagaimana Nabighoh al-Ju’di setelah ia masuk Islam, mulai mengubah ide-ide puisinya untuk memuji nabi Muhammad SAW dan syariat yang dibawa beliau. Ketujuh yaitu kehidupan politik (al-hayah al-siyasiyyah), tatanan dan aturan politik juga memengaruhi tema-tema sastra yang dimunculkan oleh para sastrawan. Sistem pemerintahan yang diktator akan melahirkan tema sebuah karya sastra yang hipokrit, sehingga dampaknya terlalu berlebih-lebihan dalam memuji sang penguasa.

Sastra Simbol

Oleh karena itu, tidak mengherankan jika muncul tema sastra al-madh atau karya sastra yang beraliran simbolisme, dimana karya itu membicarakan tentang kedzaliman yang terjadi. Kedelapan yaitu menjalin hubungan dengan bangsa lain (al-iqomah bi al-’ilaqoh ma’a al-syu’ub al-aakhorin), menjalin hubungan dengan bangsa lain akan melahirkan pertukaran pemikiran, ide, seni dan peradaban. Sehingga dampaknya di antara kedua bangsa itu bisa saling memberi dan menerima informasi.

Dalam hal ini disebut dengan istilah simbiosis mutualisme. Kemajuan peradaban daulah Abbasiyyah di Baghdad, dan daulah Umayyah di Cordova dan Damaskus merupakan hasil dari bercampurnya bangsa yang multietnis dan multiras.

Peristiwa ini akan memengaruhi pemikiran para sastrawan dalam mewujudkan tema yang akan dituangkan, seperti yang pernah dilakukan oleh Basyar, Abu Nuwas, Ibnu al-Rumi dan para sastrawan lainnya. Fenomena terkait kebangkitan negara Mesir yang menjalin hubungan baik dengan Eropa juga sangat memengaruhi karya sastra Arab dalam gaya bahasa dan aliran yang berkembang saat itu.

Baca juga: Polemik Makna Hijrah

Kesembilan yaitu peniruan (al-taqlid), peniruan merupakan fitrah esensial bagi setiap manusia, karena tanpa itu mereka tidak dapat berbicara dan belajar. Andaikata tidak ada proses peniruan, maka tidak akan lahir sebuah karya sastra. Perlu disampaikan bahwa baik genre puisi maupun prosa, keduanya dibentuk atas aturan-aturan tertentu yang dapat diperoleh dengan cara meniru.

Puisi latin yang pernah ada merupakan peniruan terhadap syair Yunani, sebagaimana orang-orang Eropa mengikuti orang-orang Yunani dalam mewujudkan syair drama. Peristiwa ini pun juga diikuti oleh Syauqi dhoif, sehingga beliau bisa melahirkan syair drama.

Munculnya cerita pendek dan novel juga terjadi karena proses peniruan terhadap karya sastra yang pernah ada. Secara naluri, ungkap Muhammad Khamis, karya sastra suatu bangsa tidak akan terpengaruh oleh karya sastra bangsa lain hanya karena adanya pertemuan. Asimilasi terjadi jika ada proses waktu, sehingga seseorang bisa meniru karya sastra orang lain yang kemudian dituangkan dalam bentuk karya sastra baru dimana memiliki karakteristik dan ciri tersendiri.

Hal itu nampak seperti potongan prosa Ali Darwis, dalam aspek gaya bahasa atau peniruan sajak yang diekspresikan. Konon ia dianggap terpengaruh oleh karya sastra sebelumnya. Itulah beberapa faktor-faktor yang memengaruhi keberadaan karya sastra, semoga untaian kata-kata sederhana ini bisa bermanfaat bagi pembaca.

Bagikan
Saya seorang dosen di Prodi Pendidikan Bahasa Arab, Fakultas Bahasa dan Sastra, Kampus Universitas Negeri Makassar. Hobi saya adalah bermain sepak bola, futsal, catur, sepak takrow, bola voli, membaca, menulis, penelitian, jalan-jalan, hang out, main playstation, menjelajah dan semacamnya. Minat keilmuan saya yaitu ilmu nahwu, sharaf, balagah, semantik dan sastra Arab. Saya suka menulis isu-isu terkait bahasa, sastra maupun wacana bahasa Arab. Di samping itu, saya juga tertarik untuk mengupas isu-isu terkini dan aktual baik terkait isu sosial, politik, ekonomi maupun budaya di level nasional dan internasional

Tinggalkan Balasan

Please enter your comment!
Please enter your name here