Lantunan shalawat menggema lembut dari pengeras suara sepanjang acara, menciptakan suasana tenang dan sarat dengan nuansa spiritual. Aroma bunga melati dan dupa menambah kesakralan majelis, sementara para santri membaca kitab secara bergiliran dari satu kelompok ke kelompok berikutnya hingga kitab setebal 128 halaman tersebut tuntas dikhatamkan empat kali.

Setiap kali satu khataman selesai, jamaah bersama-sama melantunkan doa dan shalawat, diiringi isak haru sebagian peserta. “Kami ingin doa ini terus mengalir. Semoga ruh beliau mendapat ketenangan dan cahaya yang tak padam,” ujar salah seorang santri yang turut dalam khataman tersebut.

Kitab Dalāil al-Khairāt merupakan karya monumental Imam Muhammad bin Sulaiman al-Jazuli, ulama besar asal Maroko yang hidup pada abad ke-9 Hijriyah. Kitab ini berisi kumpulan shalawat, doa, dan dzikir kepada Nabi Muhammad ﷺ yang disusun dengan keindahan bahasa dan kedalaman makna spiritual.

Kitab setebal 128 halaman ini dibagi ke dalam delapan bagian mingguan (awrad yaumiyyah) sehingga dapat diamalkan setiap hari. Isinya mencakup doa-doa agung yang berisi permohonan ampun, keselamatan, keberkahan, dan pujian kepada Rasulullah ﷺ yang diyakini membawa keberkahan serta menjadi penolak bala.

Baca juga: Geopolitik Jalur Sutra: Menilik Kemajuan Islam Era keemasan

Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatul Muhibbin sekaligus Ketua Komisi Fatwa MUI Kota Surakarta, KH. Ahmad Muhammad Mustain Nasoha, dalam tausiyahnya menyampaikan bahwa pembacaan Dalāil al-Khairāt merupakan bentuk perjalanan hati menuju Rasulullah ﷺ.

Dalāil al-Khairāt bukan sekadar bacaan, tetapi perjalanan ruhani menuju Rasulullah ﷺ. Semakin sering dibaca, semakin halus jiwa seseorang dan semakin dekat kepada rahmat Allah. Empat kali khatam ini adalah tanda cinta dan pengharapan agar ruh PB XIII dilimpahi cahaya dan ampunan,” tutur KH. Mustain.

Beliau menambahkan bahwa kegiatan ini sekaligus menjadi pengingat bagi umat Islam agar senantiasa menjaga keseimbangan antara ilmu, adab, dan spiritualitas.

“Keraton dan pesantren sejatinya memiliki satu ruh yang sama: menjaga peradaban Islam dengan ilmu dan cinta. Khataman ini menyatukan dua warisan itu dalam satu majelis,” imbuhnya yang disambut takbir para hadirin.

Ketua Yayasan Raudlatul Muhibbin, Ustaz Wassim Ahmad Fahruddin, dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan tersebut merupakan bentuk ta’ziyah ilmiah dan spiritual yang diwariskan para ulama salaf.

“Kita tidak hanya berduka atas kepergian seorang raja, tetapi juga bersyukur atas warisan adab dan kebijaksanaan beliau. PB XIII adalah sosok pemimpin yang menjaga harmoni antara adat, agama, dan rakyat. Melalui Dalāil al-Khairāt, kita meneruskan cinta itu dalam bentuk doa dan amal,” ujar Ustaz Wassim.

Beliau juga mengajak jamaah menjadikan kegiatan ini sebagai inspirasi bagi generasi muda untuk melestarikan tradisi ilmu dan dzikir.

“Kalau dahulu para raja mendekat kepada Allah melalui wirid dan majelis ilmu, maka hari ini kita meneruskan dengan cara yang sama. Itulah makna nyambung sanad barokah,” tambahnya.

Menjelang tengah malam, ketika khataman keempat selesai, aula pesantren dipenuhi suasana haru. Para jamaah berdiri, mengangkat tangan, dan melantunkan Shalawat Thibbil Qulub dengan nada lirih. Setelah doa khatmil Dalāil dibacakan oleh KH. Mustain Nasoha, seluruh hadirin menundukkan kepala seraya meneteskan air mata.

Baca juga: Menolak Stigma Feodalisme

Kegiatan khataman empat kali ini tidak hanya menjadi bentuk penghormatan kepada almarhum PB XIII, tetapi juga menegaskan eratnya hubungan antara pesantren dan Keraton Surakarta. Keduanya memiliki akar sejarah yang sama dalam peradaban Islam Jawa — satu menjaga nilai-nilai budaya dan kepemimpinan, yang lain menjaga ruh keilmuan dan spiritualitas.

Peringatan tujuh hari ini menjadi simbol silaturahmi ruhani antara ulama, umara, dan umat, serta memperlihatkan bahwa tradisi keislaman dan kebudayaan Jawa dapat berpadu secara harmonis dalam bingkai cinta kepada Rasulullah ﷺ. Acara ditutup dengan doa bersama yang dipimpin KH. Mustain Nasoha.

“Semoga Allah merahmati almarhum PB XIII, menerima segala amalnya, dan menjadikannya bagian dari hamba-hamba pilihan yang wafat dalam husnul khatimah,” ucap beliau. Doa tersebut diikuti lantunan “Aamiin” panjang dari seluruh jamaah di Aula Raudlatul Muhibbin, menandai berakhirnya acara dengan penuh kekhidmatan dan keharuan.

Tinggalkan Balasan

Please enter your comment!
Please enter your name here