Stigma Feodalisme
Ilustrasi dari tebuireng.online

Belakangan dunia maya ramai oleh pemberitaan yang bisa dibilang menyudutkan kyai atau ulama dan lembaga pendidikan-pengajaran agama Islam: pesantren. Ini terjadi gegara satu tayangan stasiun televisi nasional, yakni Trans7, yang memicu perbincangan luas, ujung-ujungnya menggiring opini publik bahwa pesantren adalah sarang feodalisme. 

Tayangan tersebut memberi narasi yang tak seimbang dan dipandang melecehkan para Kyai, karena antara gambaran dan narasi yang ditampilkan sebenarnya tidak mencerminkan realitas kehidupan di dalam pesantren dan terjebak dalam stigma feodalisme. Sebagai jebolan pondok pesantren, saya merasa perlu memberi pandangan lebih jujur mengenai ini.

Pesantren adalah lembaga pendidikan Islam yang memiliki sejarah panjang di Indonesia.  Di dalamnya, para santri tidak hanya belajar ilmu agama, tetapi juga diajarkan tentang kedisiplinan, tanggung jawab, kemandirian serta adab dan sopan santun.  Di sini yang menjadi permasalahan karena tradisi atau budaya pesantren  cara salaman yang bungkuk-bungkuk,  ngesot dalam istilah Jawa “ndengkul” (jalan dengan lutut). 

Kesalahpahaman dan stigma feodalisme terhadap tradisi pesantren sering kali muncul karena cara pandang yang berbeda-beda. Banyak yang berpendapat bahwa santri persis dengan budak, dan mirisnya dianggap  praktik budaya feodalisme.  Bagi orang yang tidak memahami tradisi budaya pesantren, sikap hormat santri kepada Kyai mungkin terlihat berlebihan. Namun, di lingkungan pesantren, rasa hormat – atau biasa disebut ”ta’dzim” kepada guru – pada dasarnya merupa bentuk penghormatan atas sumber ilmu atau orang yang telah mengajarkan, mengenalkan kita kepada agama dan Pencipta, agar mendapat ilmu yang bermanfaat dan barokah.

Lihat juga: Meneladani Kanjeng Nabi: Agama sebagai Pembebas, Bukan sekedar Penenang

Ali bin Abi Thalib ra pernah berkata, “saya adalah hamba sahaya bagi siapa pun yang mengajariku satu huruf.” Ucapan ini mempunyai makna kerendahan hati seorang pencari ilmu. Dalam tradisi pesantren, seorang santri yang mencium tangan, menunduk, bukan untuk menyembah manusia, melainkan adab, tradisi agar ilmu yang diterima penuh barakah. 

Banyak santri yang berlomba-lomba membantu kyainya seperti mengepel, menyapu, dan lain sebagainya bukan bentuk perbudakan melainkan bentuk khadim yang artinya pelayan ilmu, bukan dalam arti rendah, tetapi sebagai bentuk pengabdian. 

Dengan melayani dan membantu kyai, mereka belajar langsung tentang kesabaran, keikhlasan, kedisiplinan, serta akhlak seorang alim. Banyak kyai di Indonesia juga melakukan hal ini sebelum menjadi ulama besar, mereka meyakini bahwa melayani kyai adalah bagian dari khidmah fi sabilillah (pengabdian di Jalan Allah).

Lihat juga: Ruang Akhirat

Kyai dalam pesantren bukanlah penguasa, mereka adalah sosok pendidik dan pengasuh yang berusaha bertanggung jawab atas pendidikan lahir dan batin para santri. Saya masih sangat ingat bagaimana kyai di pesantren saya berjalan kaki mengelilingi asrama tiap tengah malam hanya untuk memastikan semua santrinya tidur dengan baik dan aman. 

Pagi, siang, malam mereka dengan tulus mengajari, mendidik, dan mendoakan para santri. Dalam kehidupan pesantren, santri melihat sendiri bagaimana Kyai memberi teladan yang baik bagi kami, dari cara beliau bicara, bersikap, sampai menahan sabar. Beliau bukan hanya sekedar mengajar kitab, tetapi membentuk akhlak dan  adab. Pasalnya, ilmu tanpa adab bagai api tanpa cahaya, panasnya terasa tapi tidak memberi penerangan.

Kami para santri juga punya budaya sowan (cawis) memberi amplop kepada guru atau kyai dengan sukarela tanpa minimal nominal dan tuntutan, sebagai tanda terima kasih kami dan para orang tua dalam bentuk materi. Kyai atau guru tidak pernah meminta untuk dipuji, tapi kami senantiasa memuliakan. Mereka tidak pernah meminta untuk dimuliakan, tapi kami akan terus memuliakan, karena al ulama warasatul anbiya mereka tidak pernah meminta apa pun dari kami, kecuali niat bersungguh-sungguh dan ikhlas dalam mencari ilmu untuk bekal di dunia dan akhirat. 

Sayangnya, akhir-akhir ini media sering terjebak dalam stigma feodalisme dan menggambarkan pesantren dari sudut luar tanpa memahami konteks kultural. 

Dalam konteks historis, pesantren memiliki kontribusi besar terhadap perjuangan negara-bangsa Indonesia. Banyak tokoh nasional seperti KH. Hasyim Asy’ari, KH. Ahmad Dahlan, dan KH. Wahid Hasyim lahir dari rahim pesantren. Mereka menunjukkan bahwa nilai-nilai pesantren melahirkan pribadi yang berwawasan luas, religius, dan berjiwa nasionalis. Dengan demikian pesantren bukan semata lembaga keagamaan, melainkan juga bagian dari kebudayaan nasional yang membentuk karakter dan moral bangsa. 

Pada dasarnya pesantren tidak mengenal kasta, sebab setiap santri dari latar belakang apapun, memiliki kesempatan yang sama untuk belajar dan berkhidmah. Jadi di pesantren kedudukan dihormati bukan karena asal-usul, tapi karena ilmu dan pengabdian, sementara yang disebut feodalisme adalah struktur yang menindas dan menempatkan satu golongan di atas yang lain. 

Sebagai alumni pesantren, saya merasa bangga pernah menjadi bagian dari tradisi ini. Saya bertekad bahwa nanti keturunan saya harus merasakan dunia pesantren juga. Semoga pesantren tetap berdiri teguh sebagai penjaga adab dan akhlak. 

Bagikan
Mahasiswa PGMI UIN Raden Mas Said Surakarta

Tinggalkan Balasan

Please enter your comment!
Please enter your name here