Ceramah Goenawan Mohamad

Buku Pada Masa Intoleransi ini memuat seikat risalah dari teks-teks ceramah yang dibaca-suarakan Goenawan Mohamad di pelbagai kegiatan; dari pembukaan festival sampai pidato penganugerahan, dari orasi dies natalis fakultas sastra sampai pidato ulang tahun penerbit buku. Sekian acara tersebut dihelat baik di dalam maupun di luar negeri.

Teks ceramah tersebut-sebut menjadi saksi pengembaraan, bukan hanya perjalanan meruang dan menyemai gagasan, tetapi juga pergulatan pemikiran dari sosok Goenawan Mohamad, yang malang melintang dari 1994 sampai 2017, tahun di mana seikat risalah dari ceramah ini menjadi buku.

Buku ini merekam telaah panjang dari pusparagam tema yang dilakukan oleh Goenawan Mohamad. Sebab pada mulanya ditujukan untuk ceramah, tentu teks-teks ini punya sasaran audiens yang sudah pasti, relatif terbatas dan spesifik secara identitas—peserta festival sastra atau tamu undangan di sebuah penganugerahan, umpamanya.

Saat kumpulan ceramah ini dibukukan dalam sebuah antologi, tentu ada pergeseran audiens; dari yang sebelumnya duduk di sebuah ruang dan menyimak si empunya teks membacanya, sambil mendapati intonasi dan kharisma yang memendar, beralih daripada pembaca dari berbagai latar belakang yang membaca dalam keadaan soliter, mungkin hening, tanpa kehadiran penulis, dan melalui perantara satu-satunya: teks.

Para pembaca buku ini boleh jadi turut membayangkan suasana semacam di dalam ruangan, menyimak penceramah sambil mengudap camilan atau minuman ringan, saat teks ini dibacakan untuk pertama—dan terakhir kalinya.

Memikirkan Buku

Satu di antara ceramah yang termaktub dalam buku ini adalah ceramah untuk ulang tahun penerbit Mizan, yang disampaikan di Jakarta, 19 April 2001. Barangkali, audiens teks ini mulanya adalah mereka para karyawan penerbit Mizan, mitra penerbit, penulis, maupun tamu undangan. Goenawan Mohamad mengejak audiens tersebut untuk sama-sama menimbang buku bacaan, iman, serta konteks zaman, tepat saat dunia mulai merangkak dari abad XX.

Goenawan Mohamad memberi konteks yang dalam mengenai abad yang baru saja lalu, yang punya banyak faset, sebelum membabarkan bagaimana media dan keadaan literer di Indonesia, “dari suatu lingkungan yang tak pernah membaca ke dalam suatu lingkungan yang tak hendak membaca…”

Soalan buku agaknya memang menjadi perkara tak kunjung usai. Buku belum menjadi santapan sehari-hari yang sama pentingnya dengan pangan dan papan. Sekian orang mungkin menganggap buku hanyalah jilidan kertas tanpa bernas, tak ada dampak signifikan bagi laku hidup. Buku, yang menjadi rumah kata, juga di dalamnya—meminjam lirik Efek Rumah Kaca (2008) “mengalir berjuta cahaya”—pun nyaris jarang, untuk tak menyebutnya tidak pernah, masuk dalam daftar penting pengeluaran keluarga-keluarga di Indonesia.

 “Buku memang sejenis makhluk yang harus dilindungi—mungkin lebih terancam kelanjutan hidupnya ketimbang tokek dan ular sawah. Tetapi tak banyak usaha ke arah situ, yang di negeri lain umumnya didukung oleh dana-dana publik. Di Indonesia hampir tak ada lagi perpustakaan kota, apalagi desa, dan universitas-universitas punya bangunan yang lebih megah untuk upacara ketimbang untuk ruang menimpan bacaan.”

Baca juga: Ki Ageng Ganjur: Harmoni Dakwah Kebudayaan

Secuil kutipan di atas merupa kritik tajam saat distribusi buku masih terpusat, benar-benar belum merata, dan arsitektur ruangan institusi pendidikan jauh lebih megah dan menarik tinimbang gedung perpustakaan, tempat di mana buku mungkin jadi penghuni minim pengunjung, atau buku yang hanya jadi formalitas tanpa dedahan intelektualitas.

Selain melontarkan kritik, baik bagi masyarakat yang menjadi segementasi pembaca maupun kultur literer bangsa, Goenawan Mohamad juga mengapresiasi secara khusus hadirnya penerbit Mizan di tengah-tengah kondisi perbukuan Indonesia. Penerbit yang bisa dikata berdiri dalam koridor penerbit buku-buku perihal Islam yang punya peran tak terbantahkan di masa lalu, sebagaimana Bulan Bintang dan Tintamas.

Sebuah penerbit buku yang, “secara konsisten menunjukkan niat untuk tidak hanya mengulang kaji, untuk tidak memamah biak, ajaran dan argumentasi yang menyenangkan yang sudah dikemukakan para penulis dan pemikir Islam terdahulu.” Buku-buku produksi penerbit yang bermarkas di Bandung ini lantas memberi tawaran bacaan yang bukan hanya mewarnai, tetapi juga menggugah atas apa-apa yang berkelindan dengan agama.

Dengan demikian, kalangan pembaca di Indonesia mempunyai figur penerbit mengenai kajian Islam yang canggih dan visioner dengan mutu tinggi. Secara lebih jauh, jaringan ini pula mengungkap relasi antara dua pihak; pembaca dan penerbit. Kedua pihak yang, setidaknya saling menopang, dan selayaknya terus-menerus merajut korelasi dalam industri buku dan budaya.

Fragmen

Selain sebagi penyair, Goenawan Mohamad kondang sebagai penulis esai dan pengisi kolom tetap Catatan Pinggir di majalah Tempo. Saban minggu, di satu kadang dua halaman majalah dengan slogan “enak dibaca dan perlu” tersebut, ia rutin hadir-menyapa dengan keping-keping pengamatan dan permenungan. Sekarang, ia sudah pensiun dari mengasuh rubrik yang dikelolanya kurang lebih 46 tahun, yang jadi identik dan khas daripada Goenawan Mohamad.

Sebagai mesin rekam, tilikan dari Goenawan Mohamad tersebut menangkap hal-hal yang mungkin luput, tak tergapai. Percikan refleksi dalam format fragmen ini pun tampak tak hendak menggurui, tapi mau mengerti dan memahami gerak roda zaman yang kian menderu-melaju, tak menentu.

Baca juga: Media Sosial dan Sentimen Moderasi Beragama

“Banyak hal jadi usang dan ditinggalkan zaman dalam tempo yang kian lekas, seakan-akan masa depan memergoki kita tiap dua hari sekali, dan pelbagai bidang yang kita ketahui semakin berserpih-serpih,” tutur Goenawan Mohamad, saat menerima anugerah Bakrie Award 2004. Dari sinilah Goenawan Mohamad menggambarkan sekaligus mempertanyakan kondisi zaman yang mengharapkan “sebuah sintesa, untuk kembali pada satu totalitas, tampaknya hanya menggantang asap”.

Keadaan semacam kian diperkuat oleh pergerakan teks, baik dalam bentuk verbal maupun nonverbal, yang kian masif dan tak terbendung; hilir mudik kesana-kemari.

Saat mobilitas informasi sangat cepat dan batas-batas antara yang receh dan luhur jadi kabur, seperti kini, kontemplasi dari ceramah-ceramah persembahan Goenawan Mohamad, yang termaktub dalam buku Pada Masa Intoleransi, dapat jadi pengingat sekaligus wahana bagi pembaca untuk jeda dari segala hiruk pikuk dunia, menyigi kembali apa yang masih pantas direngkuh dengan arif, diraih dengan empati.

Judul: Pada Masa Intoleransi

Penulis: Goenawan Mohamad

Penerbit: IRCiSoD

Cetakan: Pertama, Desember 2017

Tebal: 416 halaman

ISBN: 978-602-7696-38-9

Bagikan
Pengajar bahasa Inggris dan peresensi buku. Sekarang ia sedang menyiapkan buku himpunan esai pertamanya. Bisa disapa via instagram @dibbaroya atau surel adib.baroya@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Please enter your comment!
Please enter your name here