Jejak Langkah Mahbub Djunaidi

Mahbub djunaidi adalah manusia langka yang dimiliki Indonesia. Pasalnya, tulisan-tulisannya di pelbagai kolom selalu mengundang tawa dan ketertarikan tersendiri bagi pembaca. Menelusuri jejak langkah Mahbub Djunaidi kini tentu masih amat relevan.

Tulisannya pun selalu menghibur meski mengandung kritik yang tajam, uniknya, mereka yang menjadi sasaran kritik tidak akan merasa sakit hati dengan gaya penulisan Mahbub djunaidi.

Musabab keunikan yang dimilikinya, Mahbub mendapat kesempatan untuk mengisi kolom politik di harian Kompas dengan nama rubrik Asal Usul. Kini, kumpulan tulisan di rubrik tersebut telah dibukukan dengan judul yang sama.

Selain menulis artikel populer di media massa, Mahbub juga menggubah teks sastra. Perkenalan Mahbub dengan jagat sastra dimulai sewaktu Mahbub duduk di bangku sekolah di Solo, tepatnya melalui tangan dan bacaan Kiai Amir.

Pada rentang usia 13-14 tahun, Mahbub membaca buku Si Samin, Si Dul Anak Betawi, dan Tom Sawyer. Mahbub mulai senang dengan kegiatan barunya, membaca buku-buku sastra yang dipinjamnya. Untuk mencari tempat yang tenang guna membaca, Mahbub pun memanjat pohon jambu, bahkan kakinya sampai kesemutan karena cukup lama durasi bacanya di atas pohon.

Baca juga:  KH Salman Dahlawi: 
Pendakwah Tarekat Naqsabandiyah Khalidiyyah

Langkah (Mahbub Djunaidi) Masa Sekolah

Di Solo, Mahbub mengenyam pendidikan di Mambaul Ulum. Alasan Mahbub sekolah di Mambaul Ulum ini diterangkan Said Budairy dalam buku Mahbub Djunaidi: Seniman Politik Dari Kalangan NU Modern (2001).

Said menyebut bahwa menurut ayahnya, KH Djunaidi, sekolah Mambaul Ulum adalah sekolah termasyhur, karena terdiri dari belasan ruang kelas jajar dua, berada di sebelah kanan Masjid Agung, buah usaha Susuhunan Pakubuwono X, yang konon tidak ada duanya dalam soal bangun-membangun (hlm. 8).

Di sekolah Mambaul Ulum, Mahbub sempat tergagap-gagap mengikuti pelbagai pelajaran. Mahbub mengalami kendala dalam membaca bahasa Jawa kitab, atau yang sering disebut oleh kalangan pesantren dengan arab pegon.

Mahbub tetap mencoba menghiraukannya sekaligus meringankan beban sulitnya pelajaran dengan menyepak si kulit bundar dan bermain layang-layang di alun-alun.

Suatu waktu, kebiasaan main Mahbub kecil ini diketahui ayahnya, Mahbub pun dihukum dan kemudian diberi pelajaran di rumah, sedari pukul 4 sore sampai lepas Isya’. Dengan pelajaran nahwu-saraf, tajwid, akhlak, dan tak lupa, pelajaran ekstra, yakni menghafal barzanji.

Setelah lulus dari Sekolah Dasar, Mahbub lanjut Sekolah Menengah Pertama di Jakarta. Ketika duduk di bangku sekolah menengah inilah, Mahbub mulai menulis lebih giat. Tulisannya yang berjudul Tanah Mati dimuat di majalah sastra Kisah yang turut dikelola oleh kritikus sastra kita, HB Jassin.

Pada 1952, Mahbub lulus dari Sekolah Menengah Pertama dan melanjutkan ke Sekolah Menengah Atas (SMA), tepatnya di SMA Budi Utomo.

Di SMA inilah Mahbub mengusulkan untuk sekolah menerbitkan majalah Siswa. Usulan Mahbub pun bagai gayung bersambut. Tanggal 6 Desember 1954 majalah Siswa mulai terbit untuk kali pertama dengan Mahbub sebagai pemimpin redaksi.

Selain sibuk sebagai pemimpin redaksi majalah Siswa, Mahbub juga menulis untuk dikirim ke majalah-majalah yang cukup punya nama kala itu. Sekian tulisan Mahbub sukses dimuat di pelbagai majalah, seperti Siasat (puisi), Mimbar Indonesia (esai), Kisah, Roman, Star Weekly, Cinta (cerpen).

Baca juga: Mbah Sayyidiman: Teman Seperjuangan 
Pangeran Diponegoro

Semakin dewasa, tulisan-tulisan Mahbub makin bertebaran di pelbagai kolom majalah ternama di Indonesia, terutama di majalah Tempo. Artikel Mahbub yang ditulis untuk kolom majalah yang terakhir ini dikumpulkan menjadi buku dengan judul Kolom Demi Kolom.

Menggeluti Jurnalistik

Pada ranah jurnalistik, Mahbub Djunaidi mulai terjun di dalamnya tahun 1958, mengisi harian di Duta Masyarakat, sampai kemudian menjadi pemimpin redaksi.

Selanjutnya pada 4-7 November 1965, Mahbub mencapai puncak tertinggi dalam dunia jurnalistik dengan menjadi Ketua Umum PWI Pusat dalam kongres PWI XII di Jakarta mengantikan Karim DP, dengan mengangkat Jakob Oetama—salah satu pendiri harian Kompas—sebagai Sekjennya.

Meski Mahbub berkecimpung di dunia jurnalistik, Mahbub mengakui sebenarnya masih lebih menyukai sastra. Bukti cinta Mahbub pada sastra adalah dengan roman Dari Hari Ke Hari.

Buku ini memenangi sayembara roman yang diadakan Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) tahun 1974. Novel Mahbub ini sudah berulang kali terbit, menyapa pembaca sastra Indonesia dari masa ke masa.

Pada 1985, Mahbub berhasil melahirkan karya terbarunya, Angin Musim. Bukan hanya menerbitkan karya murni tulisan sendiri, Mahbub juga menerjemahkan beberapa buku, satu di antaranya buku sastra Animal Farm, yang dalam bahasa Indonesia dialihbahasakan Mahbub jadi Binatangisme.

Karya George Orwel ini diterjemahkan dengan gaya yang satire-humoris, bahkan ciri khas Mahbub dalam buku ini kentara sekali.

Begitulah jejak langkah Mahbub Djunaidi sebagai pendekar pena dari Nahdlatul Ulama’ yang kini mulai asing di telinga manusia Indonesia!

Tinggalkan Balasan

Please enter your comment!
Please enter your name here