Menelisik Kembali  Filsafat

Fenomena pertarungan antara agama dan filsafat merupakan realitas yang terjadi di masa klasik. Sementara menelisik di era sekarang, sudah muncul kesadaran umat Islam untuk mendialogkan agama dan filsafat Islam. Misalnya seperti pada hal-hal yang kurang jelas dalam agama dapat dibuktikan kebenarannya dengan filsafat.

Walaupun ada pembatas tersendiri antara filsafat dan agama. Karena tidak semua hal yang berkaitan dengan keagamaan dapat dirasionalkan dengan akal manusia. Akal manusia terbatas dan tidak mampu untuk merasionalkan hal-hal yang metafisik seperti keberadaan Tuhan, dst.

Dialog antara filsafat dan agama, jika disadari akan membawa keuntungan bagi kedua belah pihak. Filsafat dapat menyumbangkan pelayanan pada agama. Dengan pemikiran-pemikiran filsafat yang kritis akan menghasilkan teori-teori yang dapat diterima akal.

Tokoh-tokoh Islam baik yang ada di wilayah Baghdad maupun Andalusia hadir untuk merepresentasikan teori mereka. Di mana beberapa ada yang sependapat dan tak jarang juga bertentangan atau memiliki argumentasi masing-masing.

Dialog antara filsafat dan agama jika disadari akan membawa keuntungan bagi kedua belah pihak. Filsafat dapat menyumbangkan pelayanan pada agama

Salah satu masalah yang dihadapi oleh setiap agama adalah interpretasi terhadap wahyu. Teks wahyu yang merupakan sabda Allah selalu terumuskan dalam bahasa manusia yang bersifat duniawi, tetapi tafsiran atas sabda tersebut tidak pernah seratus persen pasti.

Filsafat dapat membantu memberikan jawaban atas pertanyaan yang membutuhkan argumentasi yang lebih rasional. Filsafat dapat membantu agama dalam menelusuri arti wahyu tersebut.

Baca juga: Memahami Takdir Teologis

Filsafat merupakan wacana ideologis militan, yang mempunyai komitmen pengabdian pada pengetahuan, kemajuan serta konsep dinamika masyarakat (hal. 66). Ilmu-ilmu dalam filsafat secara aktif ada dalam setiap disiplin ilmu. Pemikiran-pemikiran dari para tokohnya pun dipengaruhi oleh dinamika masyarakat pada zamannya.

Mereka mengabdikan dirinya untuk kemajuan ilmu pengetahuan sebagai agen perubahan. Hingga sekarang filsafat dikatakan sebagai induk dari semua jenis disiplin keilmuan.

Seperti dalam buku ini yang memaparkan tentang pemikiran-pemikiran para filsuf Islam. Pada bab 1 penulis menjelaskan tentang seluk beluk filsafat dari pengertiannya, latar belakang munculnya, isu-isu yang ada dalam filsafat, pandangan ulama, hubungan antara filsafat dan agama serta karakteristik dari filsafat Islam. Penulis membawa pembaca menilisik filsafat Islam secara lebih jauh dan dalam.

Kemudian masuk ke inti pembahasan, yaitu tentang segala hal dari para filsuf Islam. Dalam buku ini memaparkan tentang pemikiran dari tokoh-tokoh filsuf Islam dari wilayah Baghdad dan wilayah Andalusia. Dalam buku ini lengkap membahas tentang biografi singkat, sedikit pemikiran, serta karya dari para tokoh-tokoh tersebut.

Buku ini menarik untuk dibaca karena di sini tidak langsung membahas tentang pemikiran-pemikiran para filsuf Islam, tetapi menelisik ke belakang terlebih dahulu. Dimulai dari masa-masa khalifah Ali bin Abi Thalib.

Kita akan diingatkan kembali tentang peristiwa-peristiwa seputar kekhalifahan. Karena filsafat Islam ini berkembang pesat pada era khalifah-khalifah tersebut. Dan pemikirannya pun sedikit banyak terpengaruh juga dari kondisi sosial, ekonomi, dan politik pada masa itu.

Posisi Filsafat

Dalam buku ini, penulis menyebutkan bahwa epistemologi (theory of knowledge) pemikiran Islam yang ketat sudah mulai dikenal dan dalam batas-batas ini pula terdapat suatu konsep yang menjadi landasan intelektual bagi studi berbagai disiplin ilmu: narasi historis, tata bahasa, hukum, etika, dan teologi.

Dalam masing-masing disiplin ini, orang dapat menemukan istilah yang sama: baik-buruk (hasan-qabih), benar-betul (mustaqim-sahih), status (manzilah), diperkenankan (jaizz), analogi (qiyas), sebab (illah), bukti (hujjah), argument (dalil), definisi (had) dan sebagainya (hlm. 38).

Baca juga: Pergulatan Identitas Jawa dan Islam

Filsafat menempati posisi sebagai induk dari segala elemen ilmu pengetahuan. Eksistensinya pun masih ada hingga sekarang. Termasuk juga filsafat Islam, yang pada dasarnya sudah ada sejak zaman khulafaurrasyidin. Seperti aliran teologis yang pertama kali muncul yaitu Khawarij.

Filsafat menempati posisi sebagai induk dari segala elemen ilmu pengetahuan

Pandangan teologi kaum Khawarij ini oleh sebagian umat Islam yang lain dianggap sebagai pandangan yang terlalu fanatik, intoleran, dan ekstrem (hal 43). Dengan semboyan “la hukma illa Allah” (tidak ada hukum kecuali hukum Allah). Semboyan ini yang membuat kaum Khawarij memiliki sifat ekstrem dan tak segan untuk berperang.

Perkembangan Filsafat

Dibandingkan dengan zaman dulu, kini filsafat Islam jauh lebih berkembang dibuktikan dengan adanya pemisahan sesuai disiplin keilmuan masing-masing. Seperti pada pemikirannya Al-Kindi yang begitu banyak, sekarang sudah digolongkan sehingga lebih mudah dipelajari.

Di antaranya yaitu tentang ilmu teologi, epistemologi, jiwa dan lain sebagainya. Mulai ada upaya untuk mendialogkan antara filsafat dan agama yang sejatinya merupakan dua sejoli yang tidak bisa dipisahkan.  

Filsafat Islam semakin menyebar ke seluruh penjuru dunia hingga ke wilayah Andalusia. Berbeda dengan dunia Islam di wilayah Timur, filsafat justru berkembang subur di dunia Islam belahan Barat (Spanyol). Ibnu Bajjah, misalnya, menganggap satu-satunya jalan untuk mengenal kebenaran adalah filsafat (hal. 135).

Penyebaran ini sebagai tolak ukur bahwa filsafat Islam sudah mulai dinikmati oleh umat di seluruh dunia. Dalam hal pemikiran-pemikirannya pun semakin beragam dan memiliki kualitas yang tak kalah dari ilmu filsafat lainnya.

Kelebihan dari buku ini di antaranya, jika dilihat dari segi fisik sudah menarik, desain warna hijau tosca membuat mata nyaman. Desain kover yang simpel membuat buku ini terkesan sederhana.

Pemilihan judul “Filsafat Islam” sangat sesuai dengan isi pembahasannya. Jika dilihat dari struktur bukunya pun sudah rapi dan runtut. Buku ini menggunakan bookpaper yang tatkala membacanya tidak akan membuat mata silau seperti pada buku yang menggunakan dasar kerta putih. Dilihat dari ejaan dan pemilihan bahasa juga sangat baik, tidak terlalu menggunakan bahasa yang rumit dan sukar dimengerti pembaca.

Disamping dari kelebihan tersebut, buku ini juga mempunyai kekurangan di antaranya, isi buku yang kurang lengkap tentang tokoh-tokoh filsafat Islam. Penjabaran tentang pemikiran para tokoh yang kurang lengkap dan mendalam.

Buku ini hanya membahas sedikit tentang pemikiran para filsuf Islam. Beberapa filsuf Islam juga tidak dicantumkan dalam buku ini. Selain itu, adanya kesalahan ketik (typo) dalam buku ini yang akan membuat pembaca merasa binggung dan, aneh saja saat membacanya.

Terlepas dari kelebihan dan kekurangan tersebut, buku ini sangat cocok untuk pembaca pemula ataupun mahasiswa yang ingin mempelajari tentang filsafat. Karena pembahasannya dikemas dengan bahasa yang mudah dipahami pembaca.

Penyusunan bab yang dimulai dari pengertian, ruang lingkup lalu menuju ke posisi filsafat di tengah perkembangan ilmu-ilmu keislaman lainnya. Hal ini memudahkan pembaca sebelum masuk ke inti pembahasan yaitu pemikiran para filsuf Islam.

Bagikan
Asli dari Boyolali, Jawa Tengah. Mahasiswa Fakultas Ushuluddin dan Dakwah UIN Raden Mas Said Surakarta. Mencoba menaruh minat pada kajian buku-buku keislaman dan menebar manfaat bagi umat

Tinggalkan Balasan

Please enter your comment!
Please enter your name here