
Bermula dari salah satu pertanyaan memahami teologis: Apakah Tuhan menciptakan manusia dengan kehendak bebas (free will) atau, Dia telah menetapkan takdir teologis mereka? Jawaban Al-Quran, kata Akyol, tidaklah definitif. Ada elemen besar fatalisme atau kepercayaan pada takdir dalam Al-Quran—yang kemudian dipertahankan oleh para ulama (Jabariyah).
Akan tetapi, ada sebagian kecil ulama yang tidak setuju pandangan itu dan meyakini sebaliknya, bahwa Tuhan memberi manusia kehendak bebas. Sebagian kecil ulama ini nantinya maklum dikenal dengan Qadariyah (hal.45–46).
Pertentangan kedua corak teologi tersebut dapat kita lihat dalam perdebatan antara Hasan al-Bashri dengan Khalifah Abd al-Malik. Al-Bashri di kubu Qadariyah, dan Abd al-Malik di kubu Jabariyah. Hal ini menunjukkan ruang pertentangan teologis awal yang melibatkan andil kekhalifahan di dalamnya, yang dengan gencar menggalakkan doktrin takdir sebagai bagian dari ortodoksi yang disponsori negara.
Dari ortodoksi tersebut, Akyol mencatat setidaknya ada dua akibat. Pertama, mereka mulai menyebut diri dengan khalifah Allah, bukannya khalifah Nabi. Kedua, mereka menggunakan paham Jabariyah untuk mendesakkan gagasan bahwa pemerintahan mereka telah ditentukan oleh Tuhan sekaligus sebagai dalih untuk menutupi semua kesalahan mereka (hal. 48–49).
Hingga kemudian muncul aliran yang didirikan Wasil ibn Atha’, murid Hasan al-Bashri, yang memisahkan diri dari barisan gurunya. Aliran ini kemudian dikenal dengan Mu’tazilah. Tidak lama kemudian, Mu’tazilah memantik kontroversi teologis terbesar di awal Islam, yaitu tentang keadilan Tuhan.
Baca juga: Teologi Berbasis Kemanusiaan
Menurut Mu’tazilah, keadilan merupakan sifat Tuhan yang paling definitif dan dominan. Benar bahwa Tuhan itu Mahakuasa, tetapi kuasa-Nya dibatasi oleh prinsip-prinsip keadilan. Artinya, mengutip Mankdim Shashdiw, Allah tidak menyiksa anak-anak kafir karena dosa-dosa orang tua mereka.
Dia tidak memaksakan pada manusia kewajiban yang tidak dapat mereka tanggung (hal. 52). Kemudian prinsip keadilan Tuhan tersebut memunculkan prinsip kebebasan manusia. Sebab Allah menjanjikan manusia pahala dan dosa, Dia pasti memberi mereka kehendak bebas.
Dari prinsip kebebasan manusia, muncul aksentuasi Mu’tazilah pada akal. Menurut Mu’tazilah, akal adalah karunia Tuhan untuk menemukan kebenaran, sementara wahyu adalah pemandunya. Lalu akhirnya, prinsip akal ini menimbulkan pertanyaan tentang status wahyu, apakah Al-Quran itu makhluk (diciptakan) atau qadim (tidak diciptakan)?
Masa selanjutnya, Mu’tazilah didukung oleh kekhalifahan Abbasiyah. Namun tak bertahan lama, aliran Mu’tazilah harus menghadapi kelompok ahl al-hadits yang ditokohi oleh Ahmad ibn Hanbal. Bagi mereka, akal sehat hanya baik sejauh dapat memahami perintah Tuhan, bukan untuk berspekulasi dan mencari kebenaran secara mandiri. Doktrin ahl al-hadit tersebut kemudian diperhalus dan dijadikan “tulang punggung” Islam Sunni oleh Abu al-Hasan al-Asy’ari (hal. 58–59).
Imran Aijaz, sebagaimana dikutip Akyol, membuat klasifikasi dari mazhab-mazhab teologi awal tersebut. Mu’tazilah dengan rasionalisme teistik, yaitu mencari keselarasan antara iman dan akal. Sementara Asy’ariah dan Hanbaliyah adalah versi fideisme yang secara harfiah diartikan sebagai iman-isme. Artinya, iman tidak membutuhkan pembenaran rasional, iman lebih merupakan penengah bagi akal dan rekayasanya.
Dilema Euthyphro
Istilah tersebut berawal dari seorang pria bernama Euthyphro, bersama Socrates, membahas tentang arti kesalehan. Menurut Euthyphro, kesalehan adalah apa yang menyenangkan para dewa. Kemudian Socrates bertanya, apakah orang saleh dicintai oleh para dewa karena dia saleh? Atau, saleh karena dicintai?
Pertanyaan tersebut kemudian digunakan untuk memahami perintah Ilahi. Suatu hal, “itu baik karena diperintahkan, dan jahat karena dilarang? Atau, baik kemudian diperintahkan, dan jahat kemudian dilarang?”
Pandangan “baik karena diperintahkan, dan jahat karena dilarang” ini dikenal dengan istilah voluntarisme, sebab penekanannya pada kehendak Tuhan. Padangan inilah yang dibela Asy’ari.
Sementara pandangan “baik kemudian diperintahkan, dan jahat kemudian dilarang” dikenal dengan intelektualisme. Artinya, di balik perintah Tuhan terdapat nilai-nilai moral objektif. Dan, pandangan inilah yang diperjuangkan Mu’tazilah dan para filsuf.
Sebab aliran Asy’ariah menjadi arus utama teologi umat Islam, maka secara otomatis, pemahaman umat Islam mengikuti corak voluntaristik. Apa pun yang dilarang hukum menjadi tidak bermoral, dan apa pun yang diizinkan hukum menjadi moral. Akibatnya, hukum Islam menjadi “setumpuk aturan”, yang di dalamnya moralitas telah menguap (hal. 87).
Akar Keterbelakangan
Teologi voluntarisme Asy’ariah ini berakar pada doktrin-orisinal Asy’ariah, bahwa peristiwa alam hanyalah “kesempatan” bagi Tuhan untuk menciptakan sesuatu — sedangkan alam tidak memiliki sistem sebab akibat, atau yang disebut okasionalisme. Karena okasionalisme menolak kausalitas tindakan, maka “baik” dan “buruk” tidak dapat dinilai dengan akal manusia (voluntarisme).
Kedua doktrin tersebut memiliki tujuan yang sama, yaitu penegasan akan kemahakuasaan dan kedaulatan mutlak Tuhan dan ketidakberdayaan makhluk tanpa Dia.
Berbeda dengan Asy’ariah, Mu’tazilah dan para filsuf percaya bahwa entitas memiliki sifat yang niscaya pada dirinya sendiri. Mereka juga percaya bahwa ada keniscayaan tertentu dari hubungan kausal. Pandangan ini disebut dengan konkurensime.
Baca juga: Tafsir Al-Quran Sebagai Ruang Batin Islam-Jawa
Selain itu, ada pandangan lain yang disebut konservasionisme, sebagai penengah antara okasionalisme dan konkurenisme, yang menyiratkan bahwa Tuhan menciptakan alam semesta dan melestarikannya, tetapi makhluk secara kausal aktif dalam membawa efek-alami mereka dan kontribusi Tuhan bersifat tidak langsung (hal. 146–150).
Dua pandangan terakhir, konkurenisme dan konservasionisme, mendorong kita untuk mempelajari alam semesta, sementara okasionalisme menjerumuskan kita ke dalam skeptisisme radikal tentang dunia luar (hal. 151).
Di zaman modern ini, sebagian umat Islam secara apologis selalu berusaha membuktikan bahwa semua pencapaian ilmu pengetahuan modern berasal dari Islam dan telah diramalkan dalam Al-Quran. Sebagian lain menentang adopsi sains Barat dan menyerukan untuk membangun ilmu Islam yang otentik.
Selain dinamika sejarah yang kompleks, keterpurukan umat Islam juga disebabkan oleh pola pikir yang berakar pada aliran Asy’ari dengan teologi voluntarisme dan okasionalismenya.
Sebagaimana simpulan Akyol, umat Islam melupakan fakta sejarah bahwa kegemilangan prestasi ilmiah Islam sebelumnya lahir bukan dari eksklusivisme agama seperti yang mereka bayangkan, melainkan dari semangat kosmopolitanisme dan daya serap luar biasa sebagaimana yang dilakukan pada awal kejayaan Islam.
Setelah menyelidiki permasalah fundamental umat Islam, yaitu nalar, selanjutnya Akyol membahas problematika kontemporer umat Islam terkait kebebasan dan toleransi. Ala kulli hal, buku ini penting dibaca agar terbebas dari kejumudan yang memasung.
Judul : Reopening Muslim Minds
Penulis: Mustafa Akyol
Penerbit: Noura Books
Tahun Terbit: 2023
Tempat Terbit: Jakarta Selatan



