Haul Raden Kusumadjati

1103
Haul Raden Kusumadjati
Dokumentasi pribadi

Atas dawuh Ndara Maulana Habib Luthfy bin Yahya, Majelis Darul Hasyimi Yogyakarta mengadakan Pengajian Akbar dan Maulid Nabi dalam rangka Haul Raden Kusumadjati (Al-Habib Husain bin Toha bin Muhammad bin Yahya) dan Syaikh Imam Abil Hasan Ali Asy-Syadzili yang bertempat di kompleks makam Raden Kusumadjati, Ngawen, Gunung Kidul, Yogyakarta.

Acara haul pada Kamis Wage, 18 Mei 2023 ini menjadi yang kedua setelah tahun lalu, yang digelar di tempat yang sama. Serangkaian acara turut dilangsungkan sehari sebelumnya. Sore hari, khataman Al-Qur’an dilaksanakan.

Ribuan jamaah dari berbagai wilayah dan penjuru daerah datang menghadiri puncak acara perayaan Maulid Nabi ini. Satu dari sekian tradisi haul masyarakat Jawa.

Acara dimulai pukul 13.00 WIB dan diawali degan lantunan qasidah yang merdu dari grup hadrah setempat. Beberapa saat setelahnya, acara lekas dipandu oleh Master of Ceremony dan dilanjutkan dengan pembacaan maulid Simtuddurar karya Habib Ali Al-Habsyi.

Kemudian disambung dengan sambutan-sambutan oleh panitia penyelenggara dan pemerintah kabupaten Gunung Kidul. Sebelum itu, seluruh hadirin berdiri dengan khidmat menyanyikan lagu Indonesia Raya dan melafalkan dasar negara Indonesia: Pancasila.

Dalam sambutannya, Gus Luthfi Haris Mahfud, selaku perwakilan panitia, menyampaikan terima kasih kepada seluruh jamaah dan tamu undangan yang telah memberi atensi dan mendukung terselenggaranya haul ini. Tidak lupa pula menyampaikan permohonan maaf bila dalam penyelenggaraan masih terdapat kekurangan di sana-sini.

Baca juga: Islam dan Kebudayaan di Banten

Mengingat acara ini dilaksanakan di area makam yang terletak lebih tinggi dari pemukiman warga. Lebih tepatnya pegunungan batu (Purba), perbatasan antara kabupaten Sukoharjo dan Gunung Kidul.

Akses jalan menuju lokasi pun tidak semudah ketika di pusat kota. Terlebih lokasi tersebut berada di tengah kebun jati, sehingga jamaah perlu upaya (effort) lebih untuk mengikuti dan menyimak acara.

Sambutan selanjutnya disampaikan pemerintah kabupaten Gunung Kidul. Kesempatan ini disampaikan oleh Agus Priyanto S.H., selaku perwakilan Bupati Gunung Kidul—yang kala itu tidak bisa hadir karena sedang bertugas di Jakarta.

Poin penting yang disampaikan pemerintah kabupaten Gunung Kidul adalah apresiasi dan dukungan penuh menyeluruh atas acara semacam ini. Karena dengan adanya acara tradisi haul ataupun maulid, diharapkan mampu menjadi ruang silaturahmi sekaligus merawat kerukunan masyarakat, menjadi tempat perjumpaan dan saling sapa, memberi kabar dan mengusir nestapa.

Tidak hanya itu, Agus Priyanto juga meminta doa kepada para Habaib yang datang, karena angka kemiskinan di kabupaten Gunungkidul masih tergolong tinggi. Sehingga dengan barokah doa para habaib mampu mendorong semangat kerja pemerintah kabupaten Gunung Kidul dalam kerja-kerja memberdayakan masyarakat dan menaikkan taraf hidupnya.

Acara selanjutnya yaitu pembacaan manaqib Raden Kusumadjati (Al-Habib Husain bin Toha bin Muhammad bin Yahya) yang dipimpin KH Sulistyo Eko Cahyono perwakilan dari majelis Darul Hasyimi Yogyakarta. Singkatnya, dalam manaqib tersebut dijelaskan bahwa Raden Kusumodjati merupakan keturunan Nabi, atau yang sering kita kenal istilah Habib.

Raden Kusumodjati masih satu kerabat dengan Al-Habib Husein (Luar Batang). Beliau kelahiran Indonesia yang kemudian masa remaja dihabiskan untuk berkelana menimba ilmu ke Timur Tengah.

Baca juga: Pergulatan Identitas Jawa dan Islam

Setelahnya, balik ke Indonesia dan menjadi pejuang dalam mengusir penjajah. Semangat nasionalisme tersebut lahir dan tumbuh ketika masa remaja. Beliau prihatin melihat keadaan rakyat kecil yang peluhnya selalu diperas habis oleh perlakuan eksploitatif penjajah kolonial.

Acara terakhir yaitu mauidhah khasanah yang disampaikan oleh Habib Muhammad bin Yahya Baraqbah. Satu di antara pesan penting yang beliau sampaikan adalah, seyogyanya sedekah dilaksanakan baik di waktu luang maupun sempit, kapanpun dan di manapun.

Sebab, hal tersebut menjadi salah satu “tiket” untuk membuka pintu surga. Dengan saling membantu mengulurkan tangan satu sama lain, ikhlas dari lubuk hati yang paling dalam, niscaya meningkatkan kekuatan dan rasa kekeluargaan di antara komunitas masyarakat.

Sebagaimana tradisi haul pada umumnya, maupun acara-acara komunal di Indonesia, acara tersebut ditutup dengan makan bersama. Boleh dibilang perjamuan akbar. Seluruh hadirin dijamu dengan masakan kambing yang disajikan dalam nampan.

Satu nampan bisa dimakan untuk 4 sampai 5 orang, atau yang sering dikenal dengan “mayoran”. Tidak hanya itu, menariknya lagi, masyarakat sekitar seolah-olah ketiban rezeki atas terselenggaranya acara tersebut. Yang mana kiri maupun kanan akses menuju lokasi makam, banyak masyarakat yang menggelar lapak dagangan. Jamaah yang hadir pun antusias meramaikan lapak masyarakat dengan sekadar membeli air mineral, es teh, atau jajanan lokal.

Saya pribadi menganggap tradisi haul masyarakat Jawa semacam ini perlu dilestarikan. Nilai kemaslahatan yang dapat diambil terlampau banyak jika harus disampaikan satu demi satu. Contoh kecil saja, dengan adanya acara semacam ini, paling tidak dapat menggugah-menggerakkan perekonomian masyarakat sekitar.

Lebih jauh, haul merupakan wujud terima kasih kepada leluhur yang telah turut membayangkan-mewujudkan kemerdekaan Indonesia, mengharap berkah nenek moyang, dan meminta pentunjuk lagi mengambil ibrah atas masa yang telah lalu.

Tinggalkan Balasan

Please enter your comment!
Please enter your name here