Ilustrasi dari Kompas.id

Nadran bukan semata tradisi, ia mewujud warisan yang mesti tersampaikan dari generasi ke generasi. Nadran berarti sikap syukur atas sedikit banyaknya rezeki

Di sebuah dermaga, di salah satu pesisir pantai utara di Cirebon, perahu-perahu nelayan sudah diperbaiki dengan pelbagai hiasan di beberapa hari sebelum acara puncak digelar. Para nelayan dan masyarakat setempat bahu-membahu menyiapkan kebutuhan dalam tradisi tahunan yang bakal mereka rayakan nadran. Menjadi masyarakat pesisir, lelaku kehidupan mereka tak ubahnya dibentuk dan dipengaruhi oleh hal-hal yang berhubungan dengan laut. Sederhananya, tradisi, kebudayaan, dan tata hidup mereka dibentuk oleh laut.

Koentjaraningrat dalam buku Kebudayaan Mentalitet dan Pembangunan (1974) mendedahkan kebudayaan dalam arti terbatas ialah pikiran, karya, dan hasil karya manusia yang memenuhi hasratnya akan keindahan; singkatnya adalah kesenian. Sementara dalam arti luas, yaitu seluruh total dari pikiran, karya, dan hasil karya manusia yang tidak berakar kepada nalurinya dan yang karena itu hanya dicetuskan oleh manusia sesudah suatu proses belajar. Mereka yang hidup dan dihidupi laut secara total naluri jiwanya bakal terpengaruh oleh proses persinggungannya dengan laut.

Maka segala pikiran, karya, dan hasil yang mereka dapat dari laut bakal diolah dan persembahkan kembali bagi—dan hanya untuk—laut. Dalam pada itu, sebuah tradisi sampai hari ini mereka lakukan ialah bentuk dari menjaga hubungan dengan alam, dengan laut. Ada timbal balik rasa dan karsa antara mereka dan luat. Dan, wujud tradisi itu mereka pertautkan dzatiyahnya kepada Tuhan Yang Mahakaya, sang pemilik seluruh alam, yang telah menyediakan sumber daya yang bisa mereka rawat dan manfaatkan.

Baca juga: Labuhan: Tradisi Tumpengan dan Legenda Telaga Pasir Sarangan

Demikian itu, tradisi itu bernama nadran, atau sebagian orang menyebutnya pesta laut. Biasanya digelar di sepanjang pesisir pantai utara Jawa, termasuk di bilangan Cirebon, Jawa Barat. Nadran senyatanya telah menjadi tradisi dan kebudayaan yang tak terpisahkan bagi masyarakat Cirebon sendiri, khususnya, dan bagi masyarakat di Wilayah 3 Cirebon umumnya. Dengan begitu, bagi mereka yang gandrung dengan kegiatan kebudayaan pesisir pantai utara Jawa, melewatkan nadran adalah hal yang amat sia-sia.

Merawat Tradisi

Pagelaran nadran sepintas menjadi momentum membentot wisatawan sekaligus menjadi ikon kebudayaan Cirebon. Ada pelbagai rentetan kegiatan, biasanya dibuka dengan ider-ideran (arak-arakan) menyuguhkan sekian kreasi ogoh-ogoh karya masyarakat setempat. Lalu malamnya diisi dengan genderang kesenian macam wayang kulit atau wayang golek.

Dan, pada puncak di keesokan harinya digelar dengan melarung kepala kerbau dan sejaji ke laut. Tak memungkiri juga, di beberapa desa, ada serangkaian acara yang lebih panjang dalam menyambut tradisi nadran. Selain dengan ider-ideran dan pementasan kesenian, ada juga yang menggelar pasar malam di sebelum acara puncak itu dilaksanakan.

Ritual melarung ini ialah wujud syukur para nelayan atas hasil tangkapan ikan dan keselamatan mereka ketika berlayar di tengah laut. Di lain pemaknaan, nadran pun dimaknai sebagai harapan para nelayan agar hasil tangkapan ikan di tahun mendatang mengalami peningkatan dan tetap dilingkupi keselamatan saat berlayar.

Para nelayan mempersembahkan seekor kerbau untuk tradisi nadran. Mereka menyembelihnya pada sehari sebelum acara puncak. Semua bagian kerbau selain kepalanya dimasak untuk keperluan selama acara. Kepala kerbau sendiri dibungkus dengan kain putih beserta sajen berasal dari hasil bumi, buah-buahan, dan sayuran juga jajanan pasar dan nasi tumpeng lengkap dengan lauknya.

Beberapa masyarakat, sebelum melarungkan sejaji itu, mereka mengaraknya berkeliling desa atau lokasi tertentu sembari teriringi genderang kesenian misalnya musik tarling, genjring, dan lainnya. Setelahnya, para nelayan melarungkan bungkusan kepala kerbau ke laut, sementara sajen menjadi rayahan (rebutan) para nelayan yang ikut mengiringi prosesi pelarungan.

Dalam buku Keragaman Budaya Cirebon: Survey atas Empat Entitas Budaya Cirebon (2016) Didin Nurul Rosidin dan Aah Syafa’ah tertulis bahwa nadran telah muncul sejak Abad Ke-5, tepatnya tahun 410 M. Sederhananya, tradisi nadran sudah muncul jauh sebelum Islam datang ke wilayah Cirebon, sehingga boleh dikatakan sebagai tradisi pra-Islam.

Menurut Didin dan Aah juga, mengutip buku Cirebon (Falsafah, Tradisi, dan Adat Budaya (2005) karya Mohammed Sugianto Prawiraredja, nadran di desa-desa nelayan di sepanjang pesisir Cirebon dilakukan setahun sekali pada bulan Zulqodah. Namun ada juga versi lain mengatakan nadran tergelar di antara Agustus hingga Desember. Memang di Cirebon saja masih ada perbedaan soal waktu pelaksanaan tradisi nadran, sehingga tidak ada aturan baku dan tetap yang bisa dijadikan sebagai acuan yang valid.

Baca juga: Pohon dan Religiositas

Jika ditelisik, tradisi nadran ini sebentuk akulturasi budaya antara Hindu dan Islam yang masih diwariskan hingga kiwari. Kala itu, Ki Ageng Tapa atau Ki Jumatan Jati, penguasa Cirebon, mengadakan syukuran setelah putrinya menamatkan pendidikan di sebuah pesantren di Karawang. Masyarakat lalu memuat arak-arakan, doa, hingga makan bersama di Pelabuhan Muara Jati.

Ketika tengah makan bersama itulah, siluman laut mendatangi Ki Ageng Tapa. Mereka meminta makanan yang sama agar kecipratan berkahnya. Dengan itu, beliau bersikap dengan berjanji untuk membawa makanan yang diminta mereka arak-arakan tahun depannya. Nazar inilah yang kemudian orang menyebutnya dengan “Nadran”.

Nadran bukan semata tradisi, ia mewujud warisan yang mesti tersampaikan dari generasi ke generasi. Nadran berarti sikap syukur atas sedikit banyaknya rezeki. Tuhan yang lewat lautnya telah memberi penghidupan kepada masyarakat Cirebon bukan saja semata soal kuantitas yang didapat, tapi memaknai hasilnya dengan penghayatan yang tulus dan ikhlas. Karena sebenarnya tradisi Nadran tanpa disadari telah menyisipkan salah satu nasihat Sunan Gunung Jati: …Manah den syukur lan Allah…” Artinya: hati harus bersyukur kepada Allah.[]

Bagikan
Alumni Mahasiswa Fakultas Syariah UIN Raden Mas Said Surakarta, sekarang sedang menempuh pendidikan Magister Hukum Litigasi di Universitas Gadjah Mada (UGM).

Tinggalkan Balasan

Please enter your comment!
Please enter your name here