Keharmonisan keluarga dapat diukur tidak hanya dari keberhasilan secara finansial, tetapi juga dari seberapa jauh jalinan memahami antar pasangan yang sudah mengikat janji suci

Pemahaman tentang kesetaraan dari cara pandang seseorang seringkali masih menjadi bahan perdebatan di kalangan masyarakat. Banyak yang menilai, bahwa dalam aspek apapun kesetaraan antara laki-laki dan perempuan masih menjadi hal yang tabu.

Parameter itu sebenarnya dapat diukur dari bagaimana masyarakat menempatkan posisi insan manusia adalah sama-sama sebagai khalifah. Sebab realitas sosial tak dapat dipungkiri, bahwa seringkali perempuan masih mendapatkan diskriminasi dari berbagai aspek, terutama aspek pendidikan, sosial, agama, dan politik.

Dalam ruang lingkup keluarga misalnya, masih banyak anak-anak perempuan yang tidak memiliki kesetaraan dari cara pandang orangtuanya. Seperti lebih mengunggulkan anak laki-laki untuk menempuh pendidikan. Di sisi yang lain, anak perempuan tidak memperoleh akses pendidikan yang cukup tinggi dibanding anak laki-laki.

Meskipun kita telah memasuki zaman modernitas yang mengubah paradigma masyarakat urban lebih maju, tidak menutup kemungkinan kasus tersebut masih banyak dialami anak perempuan didaerah-daerah perdesaan dan  dikabupaten-kota di Indonesia.

Baca juga: (Keaksaraan) Majalah: Perempuan dan Anak

Upaya memutus stigmatisasi terhadap perempuan dalam koridor atau kontruksi sosial inilah yang—saya kira dilakukan M. Baha Uddin dalam buku Menjadi Laki-Laki Sekutu Feminis (2025).

Baha mencoba merekam peristiwa dari berita dan fenomena sosial di lingkungan sekitar guna menunjukkan lemahnya posisi perempuan dalam berbagai sektor kehidupan. Keberpihakannya terhadap isu-isu perempuan (gender) tidak semata-mata ada misi tertentu, melainkan murni urusan kemanusiaan.

Bagi Baha memperjuangkan “kesetaraan” adalah langkah yang paling kongkrit dalam melakukan perubahan sosial. Sebab banyak problem yang sering hadir dalam ruang lingkup paling kecil yaitu keluarga. Paradigma Mubadalah harus tertanam dalam kepala keluarga untuk dapat menentukan arah kebijakan, bahwa pandangan otoriter maupun superioritas harus segera dihentikan.

Membangun keluarga perlu membangun pondasi kesetaraan dengan cara saling memahami dan kerjasama. Kesadaran paradigma itulah yang Baha bangun dengan cara membuka jalan kesetaraan bagi laki-laki dan perempuan.

Aktualisasi Gerakan

Dari melihat berbagai fenomena sosial dan problematika keluarga inilah, gagasan Baha tentang kesetaraan dalam keluarga patut didukung sebagai gerakan kemajuan. Kita dapat menyimak penjelasannya “di titik inilah perempuan kerap menjadi korban ketidakadilan gender.

Perempuan selalu terkungkung oleh kontruksi masyarakat sehingga sulit keluar dari pusaran gender tertentu untuk melakukan gebrakan sosial. Bila sekelompok perempuan berhasil membuat suatu gerakan berbeda yang tidak searah dengan kontruksi budaya tersebut, masyarakat awam terutama penganut ideologi patriarki, pasti akan memandang ini dengan sebuah pemberontakan” (hlm. 5).

Di sisi berbeda, Baha membangun pondasi kesetaraan dengan menghadirkan contoh keluarga yang ideal dari kisah hidup dosennya yang bernama Dr. Layyin Mahfiana. Dalam esai Keluarga: perihal Gender dan kesadaran, Baha membuat catatan dan memantik kepada pembacanya. Bahwa pekerjaan keluarga baik bersifat domestik ataupun menjemput anak sekolah bisa dilakukan secara bergantian.

Contoh sederhana ini menunjukkan pekerjaan dalam rumah tangga alangkah baiknya dikerjakan secara bersama-sama. Tidak kemudian perempuan harus ditempatkan pada sektor pekerjaan domestik semata, laki-laki juga harus mau mencuci piring, memasak, dan mencuci baju. Keharmonisan keluarga dapat diukur tidak hanya dari keberhasilan secara finansial, tetapi juga dari seberapa jauh jalinan memahami antar pasangan yang sudah mengikat janji suci.

Bagi Baha, keberpihakan pada gagasan kesetaraan dalam ruang lingkup keluarga ini sangat penting disuarakan di tengah problematika kasus perceraian yang semakin meningkat di Indonesia. Banyaknya kasus perceraian pada akhirnya berdampak terhadap rapuh dan traumanya perempuan dan anak.

Mereka menjadi korban akibat ketidaksepahaman laki-laki dalam menempatkan posisi di keluarga. Kebanyakan praktik yang terjadi, akibat perceraian disebabkan adanya Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT), tidak dinafkahi, laki-laki memiliki wanita idaman lain.

Kemajuan Berpikir

Problem keluarga memang sangat kompleks, tetapi keharmonisan keluarga bisa dibangun dengan hal-hal sederhana yaitu menjalani aktivitas sosial secara inklusif. Ada banyak cara apabila memulai inklusivitas keluarga, yaitu melakukan hal-hal kecil secara bersama-sama.

Aktivitas tersebut berdampak terhadap jalinan suami-istri akan merasakan beban hidup terasa lebih mudah teratasi. Disadari atau tidak, sebenarnya masalah keluarga seringkali muncul akibat pola pikir yang tidak maju.

Baca juga: Meninjau Perempuan Islam-Jawa dari Sisi Historis

Kemajuan pola pikir dapat berkembang jika seseorang mau menerima masukan serta gagasan. Meski kita tahu, hidup di tengah krisis seperti ini menambah beban ujian dalam sektor ekonomi yang tidak baik-baik saja. Berbagai kebijakan pemerintah pada akhirnya juga mempengaruhi ketahanan pangan dalam keluarga.

Meski beberapa hari yang lalu presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya mengatakan bahwa masyarakat kita selalu bahagia, namun praktiknya tidak demikian. Pernyataan Prabowo hanya anomali semata yang justru menunjukkan bahasa validasi dari pemimpin yang tidak melihat realitas sosial. Kemajuan berpikir inilah yang ditawarkan Baha untuk mengajak laki-laki lain (pembacanya) agar memahami peran dan bahasa kesetaraan.

Buku ini memberikan perspektif atau cara pandang, jika laki-laki memiliki pemahaman kesalingan, maka konsekuensi nyatanya dia memiliki kesadaran pribadi untuk tidak bersikap otoritarianisme dan superioritas terhadap istri (perempuan). Sebab pandangan demikian akan menghantarkan pemikiran positif terhadap relasi sosial-keluarga antara laki-laki dan perempuan memiliki peran yang sama.[]

Tulisan ini pernah diterbitkan oleh Buletin Serambi Kata.

Tinggalkan Balasan

Please enter your comment!
Please enter your name here