
Korps PMII Putri (Kopri) PMII Komisariat Raden Mas Said Surakarta baru saja menggelar Sekolah Islam Gender (SIG). Kegiatan ini dihelat pada Jumat-Sabtu, 6-7 Januari 2023. Acara kali ini bertempat di Joglo Sholawat Daarun Nahdliyin, Gedongan, Colomadu, Karanganyar, Jawa Tengah.
Kegiatan kaderisasi formal ini diikuti oleh 30 orang peserta, yang terdiri dari 20 peserta putri dan 10 peserta putra. Pada helatan kegiatan ini, Kopri PMII Raden Mas Said mengusung tema “Dialektika Kritis, Relasi Islam dan Gender dalam Menyikapi Era Digital”.
Sekolah Islam Gender (SIG) sendiri merupakan tahap pertama dalam jenjang kaderasasi di Korps PMII Putri. Mengingat Kopri sendiri mempunyai jenjang kaderisasi yang sudah termaktub dalam hasil keputusan Muspimnas PMII, antara lain SIG (Sekolah Islam Gender) kemudian SKK (Sekolah Kader Kopri) sampai dipungkasi dengan SKN (Sekolah Kader Nasional).
Baca juga: Thudong: Cermin Penyucian Jiwa
Sesuai jadwal yang tertera, tiap harinya peserta SIG diberi 4 materi yang berbeda-beda. Jadi, total keseluruhan peserta mendapat 8 materi seputar fiqh perempuan, strategi pengembangan diri, perempuan perspektif Al-Qur’an dan Hadist sampai sejarah gerakan perempuan dan kepemimpinan perempuan dalam agama Islam. Semua materi disampaikan oleh pemateri yang bertungkus lumus dalam bidangnya masing-masing.
Perempuan, Gerakan dan Kepemimpinan
Perempuan selalu menarik untuk dibahas dengan berbagai disiplin ilmu dan pendekatan. Para perempuan mempunyai sejarah panjang dalam pergulatannya di tataran kosmos ini. Mulai dari perbudakan, eksploitasi, objek seksualitas, gerakan perlawanan sampai kepemimpinan dalam suatu rezim pemerintahan maupun organisasi.
Pembahasan kali ini dipaparkan oleh Raha Bistara M,Ag. salah satu staf pengajar di program studi Aqidah dan Filsafat Islam UIN Raden Mas Said Surakarta.
Selaku narasumber, Raha Bistara mengurai secara komprehensif dan rigid dengan melacak akar historis guna menemukan jati diri perempuan dalam Islam, lebih-lebih dalam praktiknya di corak kebudayaan masyarakat Timur.
Dalam upaya ini, diperlukan pengamatan dengan kacamata lokalitas, yakni dengan kacamata Islam-Jawa untuk melihat realitas yang lebih jernih dan relevan. Terlebih di era postmodern ini, isu kesetaraan dengan meminta hak dan kewajiban sering menceruat di permukaan.
Domestisikasi perempuan dianggap sebagai batu penghalang bagi perempuan untuk bebas berekspresi—mencari ruang-ruang untuk mengembangkan diri.
Domestisikasi perempuan dianggap sebagai batu penghalang bagi perempuan untuk bebas berekspresi—mencari ruang-ruang untuk mengembangkan diri.
Raha Bistara pun menjelaskan dalam sosiologi rumah tangga masyarakat Jawa, peran domestik perempuan bukanlah sebuah belenggu akan kebebasan sosial. Lebih-lebih rumah tangga merupakan tiang penting penyangga dunia perempuan, sementara bekerja merupakan bentuk perluasan dari gerak rumah tangga.
“Bagi masyarakat Jawa, ruang sosial merupakan kepanjangan tangan dari rumah tangga. Oleh karena itu, hampir semua masyarakat Jawa baik laki-laki maupun perempuan tidak memiliki penolakan berarti dalam konteks keikutsertaan wanita untuk bekerja, bersekolah lebih tinggi maupun beraktivitas sosial di luar rumah, selama tidak keluar dari koridor peran domestik-sosial rumah tangga,” tuturnya.
Baca juga: Memahami Takdir Teologis
Selanjutnya, Raha Bistara juga menyebut bahwa dalam nalar spiritualitas masyarakat jawa peran laki-laki dan perempuan dianalogikan dengan kalimat ar-rahman dan ar-rahim.
Tugas seorang laki-laki membawa wahyu ar-rahman yaitu memangku jagad supaya tidak goyah sedangkan perempuan bermuara pada wahyu ar-rahim dengan membawa jagad baik ke atas (bermi’raj). Dengan begitu, laki-laki dan perempuan mempunyai peran yang sama yang beda cuma manifestasi fisiknya saja.
“Jika ditarik dalam sosiologi rumah tangga wahyu ar-rahman bisa diinterpretasikan sebagai penjaga tatanan ekonomi supaya tetap stabil dan tidak goyah, sedangkan wahyu ar-Rahim seorang perempuan senantiasa memberi support kepada sang suami lewat lantunan doa-doa. Keduanya saling mengisi, tidak ada keunggulan satu sama lain. Karena keduanya sama-sama ngawula, ngabdun, merbabu satu sama lain,” sambungnya.
Di sisi lain, perempuan juga mempunyai andil besar dalam hiruk pikuk pergerakan dan kepemimpinan. Di Jawa misalnya, perempuan mempunyai andil besar dalam memimpin roda pemerintahan.
Sebagai contoh, ada Rajaptani Biksuni, Tribhuwana Wijayatunggadewi, Ratu Sima, Ratu Kalinyamat, dsb. Tanpa melepaskan peran domestiknya mereka mampu menjadi aktor pemimpin di zamannya.
Selain itu dalam kasus kiprah keprajuritan terdapat pula peran perempuan dalam ruang lingkup ini. Sebut saja prajurit estri Keraton Mangkunegaran, mereka mampu membuktikan bahwa perempuan juga mempunyai sifat maskulin dan tak melulu feminin. Dengan gagah mereka mampu menjadi pengawal Raja dan para tamu keraton.
“ Selain di Jawa, kita juga bisa menjumpai, kasus serupa, sebagai contoh Sultan Aceh pada paruh abad ke-17 mempunyai lebih dari 3000 prajurit perempuan dan mempunyai tugas mengawal pejabat istana,” jelas Raha Bistara.
Jelas sudah perempuan juga mempunyai andil besar dalam pergulatan sejarah kedirian kita. Namun, perlu diperhatikan juga, sebagai seorang muslim dan seorang jawa perempuan hedaknya tak lupa akan jatidirinya masing-masing. Sudah seharusnya perempuan memegang prinsip amar ma’ruf (humanisme), nahi mungkar (liberal), dan tu’minuna billah (transendensi). Sebab, ketiga pilar tersebut yang menjadi pegangan dan senjata untuk berfikir dan bertindak agar tidak asal dalam melakukan suatu hal (ora wathon).
Sebagai pungkasan penutup materi, Raha Bistara kembali mengingatkan bahwa gerakan perempuan di Indonesia tak melulu harus mengadopsi konsep dari luar (Barat).
Sebaliknya, sebagai orang Timur, kita harus kembali pada akar historis yang sudah membentuk kita hari ini. Apa yang datang dari Barat tidak sepenuhnya baik dan apa yang datang dari Timur tidak sepenuhnya buruk, begitu sebaliknya. Maka, jadilah perempuan Indonesia (jawa) seutuhnya tanpa tedeng aling-aling.



