Tingkah Polah Manusia Indonesia

Tingkah polah manusia Indonesia itu unik. Hal ini terletak pada watak. Pasalnya, manusia Indonesia bisa mempunyai dua watak. Kita menjumpai bahwa manusia itu seperti Sengkuni yang suka mengadudomba, Arjuna yang mempunyai banyak istri, pun seperti Punokawan (Semar, Gareng, Petruk, Bagong) yang meskipun hidup serba berkecukupan namun batinnya bahagia serta mulia.

Selain dalam imajinasi wayang, kita bisa melihat gambaran watak dan tingkah polah manusia ini tatkala membaca buku garapan Mochtar Lubis, Manusia Indonesia. Buku ini memberi refleksi yang menggertak seluruh manusia Indonesia. Buku yang berasal dari ceramahnya pada 6 April 1977 di Taman Ismail Marzuki ini memuat keistimewaan watak manusia-manusia Indonesia.

Bandung Mawardi dalam kolom Sajian Khusus Alif.ID bertajuk Mochtar Lubis (2): Manusia Indonesia dan Perbukuan menyebut buku Manusia Indonesia termasuk penting dan berpengaruh. Ia laris. Laku keras. Buku pantas tercatat dalam daftar 100 buku bermutu abad XX di Indonesia. Kini, buku masih cetak ulang tapi cara baca sudah jauh berbeda, tak semenegangkan bila terbaca pada masa 1970-an dan 1980-an.

Mula-mula, Mochtar Lubis memulai ceramahnya dengan menyebut bahwa manusia Indonesia punya watak munafik dan hipokrit. Watak ini muncul manakala manusia Indonesia berada di depan umum. Berlagak sok suci, sok alim. Namun, Ketika mulai ada di belakang layar, kemunafikan dan hopokrit itu lamat-lamat muncul.

Para pejabat baik tingkat lokal maupun nasional ikut memaki-maki korupsi dan komersialisasi jabatan. Namun, dia sendiri rupanya adalah pelaku korupsi. Selain itu, kita juga mengatakan, bahwa hukum di negeri ini berlaku sama kepada setiap orang tanpa memandang latar belakang apapun. Praktiknya, kita melihat pencuri kecil masuk penjara, tetapi pencuri besar bebas atau masuk penjara sekejap saja.

Baca juga: Studi Hadis: Pendekatan dan Pembagian

Kemunafikan manusia Indonesia menjelma ABS (Asal Bapak Senang). Sikap ABS ini, telah mengakar jauh ke zaman dahulu. Ketika para feodal Indonesia merajalela di negeri ini, mereka menindas rakyat, dan memperkosa nilai-nilai kemanusiaan manusia Indonesia. (hlm. 19)

Perilaku manusia Indonesia tersebut, dewasa ini masih kita jumpai di tempat kerja di pelbagai instansinya. Dalam pekerjaan, rasa aman dan mengamankan posisi adalah utama. Berbagai jalan ditempuh buat menaikan jabatan. Meskipun skill yang dimiliki tidak begitu kompeten, kurang profesional, dan nihil tanggungjawab.

Saling Lempar

Memang, manusia Indonesia enggan bertanggung jawab atas ucapannya, perbuatannya, putusannya, kelakuannya, pikirannya, dan sebagainya. Kemudian, lahirlah elakan: “Bukan saya”. Ucapan populer di kalangan manusia Indonesia.  Barangkali pembaca sekalian tidak asing dengan lontaran perkataan tersebut.

Atasan kerap menggeser tanggung jawab tentang suatu kesalahan, suatu yang tidak beres, sesuatu yang tidak baik, satu kegagalan pada bawahannya, dan bawahannya menggeser ke yang lain, dan demikian seterusnya. Menghadapi perkara tersebut, bawahan bukan pula tidak mempunyai jawaban sendiri. Mereka cepat pula memajukan pembelaan dengan mengatakan: “Saya hanya melaksanakan perintah dari atasan!” (hlm. 21)

Ilustrasi tadi memberi kita gambaran, bahwa manusia Indonesia tidak punya rasa tanggung jawab. Yang ada malah saling lempar tanggung jawab, untuk menghindar dari beban pekerjaan yang mesti ia pikul. Nah, inilah akibat dari jiwa feodal yang sudah menubuh dalam manusia Indonesia.

Feodalisme

Watak feodal adalah ciri lain manusia Indonesia menurut Mochtar Lubis. Kita bisa menjumpai sifat ini dalam tata upacara kenegaraan, dalam hubungan organisasi kepegawaian. Umpamanya, tercermin dari susunan kepemimpinan organisasi-organisasi istri pegawai negeri sipil maupun angkatan bersenjata yang menjadi ketua adalah istri komandan. Penunjukan itu bukan berdasarkan kecakapan, bakat kepemimpinannya, atau pengetahuan dan pengalamannnya, atau perhatian dan pengabdian. (hlm. 23)

Dari susunan organisasi istri pembesar negeri itu, terang-benderanglah watak kefeodalan manusia Indonesia yang menjadi ciri khas Indonesia. Ringkasnya, siapa saja bisa menduduki suatu jabatan, asal punya koneksi dengan orang dalam.

Selanjutnya, kekhasan lain dari tingkah polah manusia Indonesia yang tak luput dari sorotan Mochtar Lubis adalah takhayul. Takhayul menjadi semacam darah dan daging manusia Indonesia. Di berbagai daerah, takhayul punya macam-macam model. Mempercayai bahwa batu, gunung, pantai, sungai, danau, pohon, patung, bangunan, keris, mempunyai kekuatan gaib, keramat, dan manusia harus mengatur hubungan dengan ini semua.

Baca juga: Pengalaman Intelektual: Dialektika dan Pembaharuan Islam 

Juga, menjalin hubungan dengan benda-benda. Memandikan keris dengan air kembang, memberi dupa, sesajen di bawah pohon dan memaikannya kain lurik, dan dibacakannya mantra dan doa. Kegiatan tersebut tak jarang masih kita jumpai sampai sekarang.

Selain itu tadi, manusia Indonesia menghitung hari baik dan hari nahas, bulan baik dan bulan apes. Macam-macam tanda alam menjadi tanda akan terjadi sesuatu. Jika ada burung gagak melintas di atas rumah warga, alamat akan ada orang yang sakit bahkan bakal ada orang yang meninggal. (hlm. 27)

Wacana Lain

Gagasan Mochtar Lubis perihal tingkah polah manusia Indonesia di atas memang sudah hampir setengah abad lalu dilontarkan kepada publik. Namun, renungan konstekstual itu tak pernah surut untuk membasuh kehidupan manusia Indonesia dewasa ini.

Di lain pihak, Gus Dur punya teropong lain untuk memandang jauh fenomena psikologis manusia Indonesia. Kita membaca esainya di Prisma Pemikiran Gus Dur (LKiS, 2010) yang bertajuk Nilai-Nilai Indonesia Apakah Keberadaannya Kini? Melalui tulisan ini, Gus Dur mengajak agar kita guna mengidealisasi nilai-nilai luhur bangsa Indonesia.

Bahwa, mengidealisasi nilai-nilai luhur bangsa dan diagungkan oleh seluruh manusia Indonesia dapat membimbing bangsa ini mencapai masyarakat yang adil dan makmur.

Prinsip hidup semacam sepi ing pamrih, rame ing gawe membuat bangsa Indonesia pencinta damai, sopan kepada orang lain tanpa menyerahkan diri kepada laku koruptif, modernitas yang menindas, dan tekun menyongsong masyarakat yang adil bagi masa depan.

Selain merefleksikan prinsip hidup tradisional bangsa tadi, bagi Gus Dur, yang “paling Indonesia” dari manusia Indonesia adalah pencarian tak berkesudahan akan sebuah perubahan sosial (social change) tanpa memutuskan silaturahmi dengan ikatan masa lampau yang, dinamai Gus Dur sebagai “pencarian harmoni”.

Sebagai penutup, dengan dua pandangan dari begawan ini, kita masih bisa melakukan refleksi konstruktif guna menyusuri dinamika zaman dan melewati kelokan peradaban. Sebuah masa yang akan kita tuju sama-sama.

Judul                           : Manusia Indonesia

Penulis                        : Mochtar Lubis

Tebal                          : vii+140 halaman

Penerbit                     : Yayasan Obor Indonesia

Tahun                         : 2016

ISBN                            : 978-979-461-818-9

Bagikan
Penulis tinggal di Mantingan, Ngawi (perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur)

Tinggalkan Balasan

Please enter your comment!
Please enter your name here