
Aku tidak mau berubah jadi seperti para zombi di industri buku, yang menerbitkan buku hanya untuk makan dan bertahan hidup. Bukan karena benar-benar cinta. Aku perlu berhenti sejenak. Mengumpulkan energy dan ide-ide baru untuk kelak kembali ke industri ini,” ungkap Muthia Esfand di pengantar Dari Toko Buku ke Toko Buku.
Muthia Esfand sempat memilih “cuti” dari industri perbukuan, menepi sejenak dari rasa suntuk sekaligus menjernihkan pikiran. Tentu, pilihan tersebut wajar saja dan acap dialami banyak orang, sebagaimana para pekerja umumnya—tak terkecuali bagi pekerja buku.
Muthia Esfand tidak memilih menghabiskan masa luangnya untuk pergi liburan ke destinasi wisata ngehits, atau menonton serial Netflix secara maraton, tetapi dengan mengunjungi toko buku!
Sekian toko buku rupanya menjadi daftar “wajib” sebuah kunjungan. Seolah-olah tanpa menyambangi toko buku, perjalanan itu belum dianggap sah dan terasa kurang. Perjalanan menjelajah ini Muthia Esfand tuangkan dalam buku Dari Toko Buku ke Toko Buku.
Buku ini membentangkan kisah perjalanannya menjadi pelancong buku mengarungi benua Biru (Eropa) dari pintu ke pintu toko buku. Alasan memilih kawasan Eropa, rupanya gegara buku-buku dari penulis asal benua ini sudah Muthia Esfand baca sejak kecil.
Sebagai benua, Eropa memang memiliki sejarah literer yang terbilang (amat) panjang, berkelindan dengan perkembangan mesin cetak yang ampuh bagi diseminasi pengetahuan lalu dibarengi dengan keaksaraan yang menguat-memasyarakat kemudian.
Benua ini tentu lantas menawarkan pikat-pesona tersendiri. Toko buku di belahan benua tersebut juga ikut bergerak selaras masa, mengisi ruang-ruang kebudayaan yang ekspresif, mengalami eksperimentasi (bentuk) hingga menopang tradisi literer komunitas masyarakat.
Sementara itu, di Eropa juga memiliki hajat perbukuan yang sudah melegenda dan prestisius, bahkan amat berpengaruh dalam peta perbukuan internasional, terutama bidang sastra. Sebut saja, dua di antaranya, Frankfurt Book Fair dan London Book Fair.
Kondisi ini akan pembaca sekalian temukan dalam pengalaman Muthia Esfand; yang menyusuri sudut-sudut literasi kota Madrid, menyisir pasar buku seken dan antik di Amsterdam, melihat toko buku donasi bergeliat di Exeter, sampai toko buku khusus perempuan di Wina—yang mulanya organisasi perempuan yang acap mengadakan acara pemberdayaan perempuan, dan masih banyak lagi.
Baca juga: Toko Buku Gladak dan Penerbit Islam
Buku ini mengajak pembaca lebih dekat dan dalam melihat toko buku, yang tentu bukan tempat transaksional belaka, tetapi lebih daripada itu. Ada toko buku yang menjadi tempat kerja kreatif para pengarang. Nama tokonya Shakepare and Company. Kali pertama toko buku yang didirikan oleh Sylvia Beach ini buka yakni pada 19 November 1919.
Di sana, tersedia buku-buku bahasa Inggris yang sulit dicari di Paris. Bukan hanya itu, yang membuat toko buku ini terkenal adalah para pengunjung istimewanya, yakni Ernest Hemingway, Ezra Pound, James Joyce, TS Eliot, F Scott Fitzgerald, dan Gertrude Stein. Para penulis kenamaan dunia!
Seorang pembaca buku pasti pernah mendengar nama mereka. Ini artinya, toko buku menjadi tempat dialektika menyoal karya para penulis, yang sudah kondang—belum lagi yang baru menapaki panggung kepenulisan atau kesusastraan.
Toko buku jadi tempat untuk tumbuh dan berkembang. “Toko buku menjadi laboratorium penulisan buku itu sendiri. Bukan sekadar ruang displai atau tempat talk show,” terang Muthia Esfand. Toko buku pun jadi titik temu pelbagai pegiat susastra. Dengan kisah nan riuh-rendah ini, toko buku pantas mendapat perhatian dan pemberhentian dari para pelancong buku.
Sayangnya, Shakepare and Company generasi pertama ini terpaksa tutup pada 1941 selama okupasi Jerman di Paris dan tak pernah lagi buka—sebelum kelak ada lagi toko buku yang bernama sama sebab dianggap oleh Sylvia Beach mewarisi sprit yang sama.
Sementara arah Barat Daya dari Prancis, lebih tepatnya kota Madrid, Spanyol, berdiri Desperate Literature. Toko buku ini memiliki nuansa yang mirip sama dengan Shakepare and Company. Sebab, Terry, satu dari ketiga pendiri Desperate Liberature, sempat bekerja di Shakepare and Company hingga kepincut untuk membuka toko sendiri.
Muthia Esfand menyukai bagaimana toko buku ini menyisipkan kertas di beberapa rak yang berisi anjuran klasifikasi bacaan, mana yang tepat dibaca saat sedih, putus asa, atau yang pengin merasa bahagia. “… toko buku bukan cuma sekadar menjajakan bacaan secara umum melainkan obat segala perasaan dan rasa penasaran yang bergejolak.
Toko buku pun jadi titik temu pelbagai pegiat susastra. Dengan kisah nan riuh-rendah ini, toko buku pantas mendapat perhatian dan pemberhentian dari para pelancong buku
Pemilik dan pekerja toko buku harusnya seperti apoteker yang bisa lancar menyebutkan jenis obat beserta komposisinya… Bukan sekadar meminta mereka mencari sendiri di layar komputer katalog,” tulis Muthia Esfand. Buku memang teman terbaik setiap waktu, mengatasi rasa gundah dan kelabu.
Sebelum sampai ke pangkuan pembaca, buku bisa beredar melalui toko buku yang memegang peran distributor—dan tangan panjang dari penerbit. Selintas, saya jadi ingat The Little Paris Bookshop (2017) karangan Nina George.
Novel ini membentangkan cerita seorang apoteker buku, bernama Monsieur Perdu yang bekeliling menjajakan buku di atas kapal buku, yang mengapung di Sungai Seine, yang menyarankan buku-buku sebagai obat penawar rasa susah—atau sakit yang melilit. Dari bacaan, gairah hidup yang menyusut pun kembali tersulut.
Baca juga: Pendidikan, Buku, dan Ilmuwan
Selain menceritakan pengalaman melancong, Muthia Esfand juga menjelaskan bagaimana peran penerbit dan editor. Pihak penerbit tentu memiliki peran sentral dan fundamental dalam melahirkan penulis. Ia menganggap, “harusnya penerbit adalah sahabat penulis paling karib, yang mau berjibaku bersama meraih strata tertinggi dalam kualitas isi serta proses menuju semua itu.”
Muthia Esfand juga percaya bahwa penyunting adalah penyambung jiwa penulis. “Mereka bernapas beriringan dalam detak yang berbeda. Pada satu fase, dua kepala dan dua hati mereka bersenyawa menjadi satu karya.
Kalaupun akhirnya pembaca lebih memuja penulis, bagi editor itu tak masalah. Ia memang diciptakan untuk jadi penopang dibalik layar… Editor adalah tempat setiap penulis pulang… Mengabarkan ide-ide yang bermekaran dalam kepala… Yang pertama kali percaya bahwa karya sang penulis harus dikabarkan ke seluruh penjuru dunia,” terang Muthia Esfand.
Sebagai catatan perjalanan, buku yang memuat kisah pelancong(an) buku ini menautkan kenangan membaca masa silam dan pengalaman melancong—yang acap menjumpai kejadian yang mengejutkan bahkan random. Buku ini lantas menyodorkan sensasi mencecap kegigihan para pecinta buku dari seberang samudra yang jauh. Gaya tuturnya juga tidak menjemukan. Seru!
Muthia Esfand, yang memiliki latar belakang sebagai editor, pun mengusung narasi kritis dari dunia perbukuan tanah air. Buku yang memiliki ketebalan lebih dari 500 halaman ini, amat layak dibaca sampai tandas.
Judul buku: Dari Toko Buku ke Toko Buku
Penulis: Muthia Esfand
Penerbit: SunsetRoad
Cetakan: Kedua, Februari 2021
Tebal:522 halaman
ISBN: 978-623-96087-7-4






