Desakralisasi Lingkungan Hidup

Kabar buruk datang perihal lingkungan hidup di Indonesia. Hutan, sebagai salah satu ekosistem penunjang siklus hidup secara cepat menghilang, terkikis habis. Yang sebelumnya lebat dan rindang, kini telah menjadi korban penjarahan. 

Pada tahun 2007, Guinness Book of World Records pun menganugerahi Indonesia sebagai negara dengan deforestasi tercepat di dunia. Dengan kondisi miris ini, tidak heran jika setiap tahun bencana alam terjadi di mana-mana, sebagai efek dari penebangan hutan, atau sedang diam-diam efeknya menanti untuk muncul.

Secara harfiah, arti deforestasi menurut Forest Watch Indonesia (FWI) ialah kehilangan hutan–entah karena alih fungsi lahan, hama, pembakaran, aktivitas tambang, atau lain sebagainya. Dari data LSM Auriga Nusantara saja, sekitar 261.575 hektare hutan primer dan sekunder di seluruh Indonesia sudah hilang pada tahun 2024.

Deforestasi merupakan satu di antara sekian pendorong krisis iklim. Selain deforestasi, ada pencemaran lingkungan, polusi, dan pemanasan global yang turut menjadi faktor kiamatt iklim. 

Kerusakan lingkungan dan perubahan iklim ekstrem hari ini, sebenarnya tidak dapat dipisahkan dari adanya gelombang revolusi industri dan perkembangan sains-teknologi; dari mesin uap hingga munculnya artificial intelligence.

Dengan perubahan-pergeseran yang amat cepat, alam yang sebelumnya lekat dengan aktivitas manusia, kini mengalami desakralisasi dan seolah-olah hanya menjadi korban dan “latar belakang” dari tiap aktivitas manusia. Desakralisasi lingkungan hidup telah benar-benar terjadi, entah disadari atau tidak.

Seyyed Hossein Nasr, intelektual muslim abad-20, meluncurkan kritiknya atas kerusakan alam yang sedang menggejala. Menurutnya, penghancuran berskala besar dan masif ini terus terjadi karena hilangnya hubungan yang intim antara manusia dengan Tuhan dan alam. 

Dalam buku berjudul “Antara Tuhan, Manusia, dan Alam”, Seyyed Hossein Nasr berusaha untuk mengkritik sains modern atas penerapannya yang kini banyak menimbulkan kekacauan. Menurutnya, hilangnya posisi metafisika menjadi faktor penting kenapa keseimbangan manusia dan alam terganggu–yang bisa dirunut sejak masa-masa awal modernitas. Pemikir Islam dari Iran tersebut menyebut bahwa manusia harus mampu berdamai dengan tatanan spiritual terlebih sebelum berdamai dengan alam.

Buku ini merupakan terjemahan dari karya Seyyed Hossein Nasr berjudul “The Ecounter Man and Nature”. Isi buku berasal dari empat kuliah yang disampaikan Seyyed Hossein Nasr di Universitas Chicago pada tahun 1998. Kuliah tahunan ini punya tujuan untuk meneliti persoalan yang mengganggu perdamaian dan kehidupan manusia akibat dari penerapan sains modern.

Desakralisasi Lingkungan, Relasi yang Hilang

Memudarnya metafisika dalam kajian sains modern membuat alam kehilangan sisi simbolisme spiritual. Alam hanya menjadi objek kajian logis dan empiris, berbanding terbalik dengan metasifika yang mengajak manusia untuk memahami alam secara intuitif. 

Harmonisnya hubungan antara manusia dan alam secara tidak sadar juga berkaitan dengan hubungan antara manusia dan Tuhan. Alam merupakan karya cipta Tuhan yang menyimpan rahasia-rahasia ilahi. Saat desakralisasi lingkungan hidup terjadi, alam tak lagi menimbulkan rasa kagum apalagi syukur pada Sang Pencipta. Oleh karena itu, Hossein Nasr menyarankan manusia untuk berkontemplasi dengan alam. 

Simbolisme yang terkandung pada alam sesungguhnya merupakan sakralisasi alam. Simbol-simbol ini dapat menjadi jalan untuk menemukan keberadaan dan “melihat” Tuhan di mana-mana. Namun, sekali lagi saya tekankan, perlu kontemplasi dan pengetahuan mendalam untuk mencapai hal tersebut. 

Sayangnya, arus modernisasi membuat manusia teralienasi dan menganggap alam hanya sebatas bahan eksploitasi–yang menjadi sasaran empuk pemuas nafsu antroposentrisme. Hilang sudah semua semburat makna dan rahasia ilahi dari alam. Padahal, alam memiliki peran penting bagi hidup manusia. 

Bila menengok kitab suci, Al-Qur’an sudah menerangkan dengan jelas mengenai hubungan manusia dan alam. Sebut saja QS. Al-Baqarah; 11, QS. Al-Baqarah; 205, QS. Al-A’raf; 56, QS. Ar-Rum; 41, QS. Hud; 6. Ayat-ayat tersebut memberi pemahaman mendalam kepada umat manusia untuk merawat alam. Dengan ini, sudah seharusnya umat Muslim dapat lebih peka terhadap isu-isu kerusakan lingkungan dan perubahan iklim ekstrem yang sedang terjadi–dan entah sampai kapan teratasi.

Melalui perenungan kondisi alam dengan bekal pengetahuan terhadap ayat-ayat Al-Qur’an, manusia dapat mencapai pengetahuan spiritual mendalam tentang bagaimana seharusnya memperbaiki hubungan dengan alam. Kodrat kita sebagai khalifah patut dipertanyakan jika malah ikut-ikutan merusak alam.

Penjaga Alam, Prihatin

Dalam QS. Al-Baqarah ayat 30, hakikat manusia sudah jelas diciptakan oleh Allah SWT sebagai khalifah di bumi. Oleh karena itu, sebagai wakil Tuhan di bumi ini manusia seharusnya sadar untuk ikut merawat, memelihara, dan melestarikan alam beserta makhluk hidup di dalamnya. Tanggung jawab atas keberlangsungan hidup di bumi ada di pundak setiap individu. 

Namun, realita hari ini sungguh memprihatinkan. Keserakahan dan ambisi membuat sebagian manusia berusaha untuk saling mendominasi. Bukan hanya kepada sesama manusia, tetapi juga terhadap alam. Alam “diperkosa” habis-habisan dengan dalih modernisasi–atau yang sedang tren belakangan, hilirisasi. 

Memang, arus modernisasi membantu kehidupan manusia menjadi lebih mudah dan praktis, tapi di sisi lain keindahan alam dan rahasia ilahi di dalamnya semakin hilang karena dominasi manusia. Ketakutan atas stigma “primitif” yang disematkan jika menolak kemajuan, khususnya kepada mereka (masyarakat adat) yang sebenarnya menjaga tanah ulayat, membuktikan bahwa ada penetrasi dari relasi kuasa yang timpang–sebab dominasi hanya milik mereka (pemangku kepentingan). Tendesi ini mencandrakan keputusan-keputusan terkait alam tidak pernah melibatkan warga lokal. Sepihak! 

Yang Memilukan

Sudah selayaknya alam mendapat perlindungan utuh dari tangan-tangan buas manusia. Hossein Nasr sampai mengatakan bahwa, “Di zaman dahulu manusia harus diselamatkan dari alam. Sekarang, alam harus diselamatkan dari manusia dalam masa perang dan damai”. Keterbalikan yang memilukan.

Pada intinya, metafisika harus dibawa kembali pada ranah kajian sains sebagai penopang kehidupan manusia untuk mengetahui simbolisme spiritual dari alam. Dengan pengetahuan mendalam tentang Tuhan, manusia dapat memahami hubungan dengan alam. Alam harus kembali menjadi sakral, dan manusia niscaya mampu merenunginya sebagai jalan menemukan makna dari simbolisme spiritual. Sehingga, desakralisasi lingkungan hidup pelan-pelan bisa disangkal.

Dengan kembalinya metafisika dan kesakralan alam, manusia akan lebih berhati-hati untuk berhubungan dengan alam. Hingga manusia akan lebih menghormati alam sebagai sesuatu yang harus dirawat dan dilindungi, bukan malah dieksploitasi habis-habisan! Apa ruginya tho untuk saling mencintai sesama makhluk ciptaan-Nya?

Secara keseluruhan, buku ini sangat layak untuk dibaca dan dikaji sebagai salah satu alternatif dalam menghadapi krisis iklim ekstrem yang sedang melanda dunia hari ini. Buku ini menarik pembaca memikirkan ulang sumbangsih metafisika dan hubungan spiritual antara manusia dengan Tuhan dan alam yang semestinya dikembalikan pada posisinya, agar bumi dapat seimbang kembali, lagi dan lagi.

Judul : Antara Tuhan, Manusia, dan Alam

Penulis : Seyyed Hossein Nasr

Penerjemah : Ali Noer Zaman

Penerbit : IRCiSoD

Jumlah Halaman : 248

Tahun terbit : 2021

Bagikan
Pemerhati Lingkungan Progresif

Tinggalkan Balasan

Please enter your comment!
Please enter your name here