Gambar diambil dari Pesantren.id

Mengenal diri sendiri dalam menjalani hidup menjadi hal yang sangat penting, melebihi perjalanan menggali kehidupan. Karena jika tak mengenal diri sendiri, kita akan sulit menentukan pilihan dalam menjalani kehidupan. Persiapan ini juga berkaitan dengan problem kehidupan manusia yang sangat kompleks, dikenal dalam falsafah Jawa dengan cakra manggilingan. Oleh sebab itu, manusia perlu mempersiapkan dirinya untuk melalui falsafah hidup tersebut.

Mengenali diri dapat diartikan dalam falsafah Jawa sebagai sangkan maraning dumadi, yaitu mengenali apa tujuan kita diciptakan. Dengan mengenali diri dan mampu memahami hakikat dari hidup didunia ini, kita dapat menentukan perjalanan kehidupan yang pantas dan sesuai dengan diri kita, yang dapat menjadikan diri kita manusia seutuhnya atau bisa disebut juga dengan insanul kamil.

Sebelum kita terjun kedalam samudera hidup yang sangat luas, alangkah baiknya kita memahami identitas diri. Agar saat sudah berlayar nanti, kita tak kehilangan identitas diri, atau bahkan hilang dan mati karena termakan dogma pemikiran orang lain.

Baca juga: Surakarta: Kegelisahan dalam Budaya

Pentingnya mengenali diri dan memperkuat karakter yang kita miliki ini selaras dengan isi buku Asrar-i-Khudi Rahasia-rahasia Pribadi karyaMuhammad Iqbal. Ungkapan puisi Muhammad Iqbal: Penaka hidup di alam semesta berasal dari /qudrat iradat khudi/ Hajat setimbang dengan kekuatan ini/ Bila setitik air menghafal adjaran khudi/ Diwudjudkannya kedjadian kosong ini mendjadi mutiara/ Anggur semata tak berbentuk sebab/ khudinja lemah.

Dari ungkapan Muhammad Iqbal, kita bisa mengambil pelajaran penting terkait penguatan karakter pribadi diri kita. Agar kita mampu untuk memilih jalan terbaik dalam hidup, dan mampu mencapai kesempurnaan hakekat manusia, manusia terbaik,  dan menjadi Insanul kamil.

Pembentukan Karakter

Salah satu hal penting untuk kita ketahui sebelum mengenal jati diri adalah mengetahui hal-hal yang mempengaruhi pembentukan karakter. Salah satu hal yang sangat berpengaruh terhadap pembentukan karakter adalah latar belakang kita. Seperti contohnya, seorang anak yang hidup di lingkungan yang baik, sedikit banyak ia akan mengadopsi karakter baik dari lingkungannya berada. Begitu pun sebaliknya, anak yang hidup dilingkungan buruk, ia akan terpengaruh juga dengan lingkungan buruk tempat ia tinggal.

Hal ini senada apa yang termaktub di dalam buku berjudul Media Pendidikan karya Oemar Hamalik. Pada buku itu Hamalik menjelaskan, bahwa lingkungan adalah segala sesuatu yang berada di sekitar kita yang ada hubungannya dan pengaruh terhadap diri kita. Dalam arti yang spesifik lingkungan adalah hal-hal atau sesuatu yang berpengaruh terhadap perkembangan manusia. Berpengaruh artinya bermakna, dan berperan terhadap pertumbuhan serta perkembangan peserta didik.

Selain lingkungan, pendidikan juga berpengaruh terhadap pembentukan karakter. Maka penting kiranya kita memilih pendidikan yang tepat dan terbaik dalam pembentukan karakter. Lingkungan positif serta pendidikan yang baik harus berkolaborasi dalam hal ini. Demi terwujudnya pembentukan karakter baik seorang insan.

Untuk menemukan jati diri, kita butuh perenungan, intropeksi, referensi, literasi, serta penilaian dari orang lain. Belajar dan terus mencari jalan kehidupan ternyaman untuk diarungi. Tentu tak semudah menggoreng tempe, perlu proses yang panjang, sepanjang jalan kenangan. Membaca buku, berdiskusi, mengkaji, bersosialisasi, dan bersemedi akan membantu menunjukan jalan kepada jati diri kita yang sesungguhnya.

Untuk menemukan jati diri, kita butuh perenungan, intropeksi, referensi, literasi, serta penilaian dari orang lain. Belajar dan terus mencari jalan kehidupan ternyaman untuk diarungi

Yang terpenting adalah jangan pernah runtuh hanya karena pilihan kita tak disukai banyak orang. Asalkan jalan itu baik dan tak melanggar norma, aturan agama, ataupun undang-undang pemerintah, maka lanjutkan saja. Berbanggalah pada pilihan diri kita sendiri.

Karena sejatinya kehidupan kita adalah milik kita, jadi kita berhak untuk menentukan jalan hidup kita. Orang lain, referensi, pengalaman, dan perenungan hanyalah pertimbangan, semua keputusan mutlak ditangan kita sendiri.

Saat kecil mungkin kita semua pernah dimarahi oleh orang tua. Dengan sebab yang bermacam-macam, tak mau mandi, pulang kemalaman, tidak mau ngaji, pura-pura sakit agar bisa bolos sekolah, dan lain sebagainya. Kita dapat menjadikan itu sebagai nilai tentang pentingnya pemandu arah dalam hidup.

Karena jika tidak ada yang mengarahkan dan membimbing kita, kemungkinan besar kita akan tersesat dan kebingungan. Bisa karena belum tahu jalannya ataupun sebab belum mampu memahami peta kehidupan.

Orang tua juga berperan besar dalam pembentukan karakter diri kita. Dari mulai mengajari kita bicara, berjalan, membedakan baik dan buruk, dan juga tentang seni bertahan hidup. Setelah kita beranjak dewasa, peran dalam pembentukan karakter dipengaruhi oleh teman, lingkungan, dan guru. Di masa ini guru memiliki peran vital mengarahkan anak didiknya agar mampu menelusuri jalan yang terbaik sesuai dengan porsinya masing-masing.

Selesai menempuh pendidikan pada taraf dasar, menengah, dan atas, kita akan dihadapkan dengan persimpangan jalan. Antara memilih melanjutkan pendidikan atau langsung terjun pada persaingan dunia kerja, atau malah memilih untuk menerjuni semuanya. Pendidikan dan pengalaman sepanjang kita belajar dari kecil hingga dewasa akan menjadi bekal selanjutnya dalam menentukan pilihan yang akan kita tempuh.

Pada masa dewasa, setelah mengarungi dunia pendidikan yang cukup panjang, tentu kita kemungkinan besar pernah mengalami pubertas. Dalam hal ini bukan hanya tentang pubertas secara biologis, namun juga pubertas intelektual/atau masa di mana kita mengalami kebingungan dalam proses belajar suatu hal.

Di sinilah pentingnya kita memiliki hubungan antara mursyid dan murid. Yang berguna untuk mengarahkan kita dalam berlayar lebih jauh lagi dalam samudra ilmu dan kehidupan.

Menuju Pribadi yang Sempurna

Dengan arahan dan nasehat oleh seorang mursyid kita akan mendapatkan jalan menuju insanul kamil, perjalanan menuju kepribadian yang sempurna ini disinggung dalam esai berjudul Falsafah Khudi Muhammad Iqbal karya Raha Bistara.

Bagi Iqbal kehidupan ialah proses yang terus maju ke depan sambil mengasimilasi segala sesuatu dijalan geraknya dan esesnsinya adalah penciptaan terus menerus dari gairah dan cita-cita. Penciptaan gairah yang baru dan cita-cita yang baru tentulah selamanya mewujudkan ketegangan yang konstan.

Kepribadian adalah keadaan yang bergairah dan akan selalau bergairah ketika terus dipelihara. Jika gairah itu tidak dipelihara maka akan muncullah suatu kekendoran yang akan menghilangkan semangat pribadi manusia. Maka, oleh karena itu manusia tidak boleh kendor semangat khudinya untuk menjaga kita menuju keabadian.

Baca juga: Akulturasi Islam-Jawa: Sedekah Bumi, Kesenian, Kirab Budaya

Seperti yang disyairkan oleh Iqbal: Ghairah ialah gerak abadi/ Ghairah ialah ombak gelisah dari samudra khudi/ Ghairah ialah jerat untuk memburiu cita demi cita/ Penjilid buku amal perbuatan/ Menghilangkan gairah berati mematikan bagi yang hidup sejati/ Seperti habisnya nyala mematikan api (Muhammad Iqbal, 1976:121)

Cita tentang pribadi memberikan kepada kita ukuran yang sebenarnya, diselesaikannya soal baik dan buruk. Apa yang memperkuat pribadi baik sifatnya, dan apa yang melemahkan pribadi sudah pasti bersifat buruk. Walaupun demikian ada hal-hal yang bisa memperkuat pribadi antara lain: cinta kasih, faqr, keberanian, toleransi, Kasb-i halal, dan melakukan kinerja yang keratif dan asli. Dari kelima hal inilah kita nantinya akan dapat mencapai insanul kamil.

Setelah kita mampu untuk mengenal dengan diri kita, terkait kelemahan dan kelebihan yang kita miliki, dan juga kita sudah mendapatkan berbagai pertimbangan dari berbagai macam referensi. Maka yang harus kita lakukan selanjutnya adalah melangkah. Kita harus memulai langkah dengan berusaha untuk menggapai sesuatu yang kita impikan.

Kita mau memilih jalan yang manapun, asal itu baik, maka kita lanjutkan saja. Omongan orang lain, arahan orang tua, ataupun nasehat guru, semuanya dapat kita jadikan pertimbangan dalam menentukan pilihan, namun hak untuk memilih jalan yang akan kita tempuh mutlak milik diri kita. Karena yang akan menjalani perjalanan itu adalah diri kita sendiri, bukan orang lain. Maka apapun pilihan yang kita pilih, kita harus bangga terhadap diri sendiri.

Dalam perjalanan hidup kita diharuskan berusaha untuk menggapai sesuatu yang kita inginkan. Usaha merupakan sebuah keharusan saat kita hidup di dunia ini, usaha untuk terus menjadi manusia yang baik, usaha untuk menjadi manusia yang bermanfaat, ataupun usaha untuk menjadi seorang yang mampu memberikan kontribusi nyata pada kemanusiaan. Karena tanpa usaha impian hanya akan menjadi impian.

Kita tidak bisa mengandalkan takdir, karena keberhasilan dalam menggapai kebahagiaan dunia dan akhirat tidak pantas didapatkan oleh mereka yang bermental pengemis. Maksud dari mental pengemis di sini adalah mereka yang tak mau berusaha, namun mau enaknya saja, mau dapat kebahagiaan dunia akhirat, namun tidak mau usaha. Jika diberikan kepada orang-orang seperti ini, niscaya dunia akan semakin cepat kiamat.

Meskipun terkadang usaha yang kita lakukan tak selalu berhasil sesuai ekspetasi, namun yakin saja usaha itu tidak pernah sia-sia. Keputusasaan, lelah, gagal, ataupun jenuh, semua itu adalah hiasan perjalan untuk mencapai puncak kebahagiaan sejati diri kita. Karena kita tidak mungkin akan dapat merasakan kebahagiaan tanpa adanya kesedihan. Semua hal yang ada dalam hidup ini akan indah, jika kita mampu untuk menikmatinya.

Ada ungkapan yang mungkin berguna untuk kita. “segala sesuatu yang terbaik bukanlah yang kita inginkan, namun adalah yang kita dapatkan. Meskipun terkadang kita harus menerimanya dengan air mata”. Ungkapan ini muncul dalam benak saya, ketika mendaki bukit Mongkrang yang berada di Karangayar.

Di atas gunung sana terbayang kisah, pengalaman, serta kenangan dalam perjalanan hidup yang saya lalui. Dan ternyata semuanya begitu indah saat saya mencoba untuk memahami apa yang di maksud arti Cinta Tuhan. Yang ternyata terkadang kita sendiri pun tak mampu menafsirkannya.

Meski begitu, bangga dengan diri sendiri, selalu bersyukur atas segala yang terjadi, dan menikmati perjalanan kehidupan sudah seharusnya kita lakukan. Karena sejatinya Tuhan selalu membersamai kita.

Tinggalkan Balasan

Please enter your comment!
Please enter your name here