Gambar dari Majalah Tempo

Orientalisme sendiri merupa kata serapan dari bahasa Perancis, orient yang berarti “timur”. Orientalis adalah seseorang yang melakukan kajian tentang masalah-masalah ketimuran, mulai dari sastra, bahasa, antropologi, sosiologi, psikologi sampai agama.

Walau belum bisa dipastikan kebenaraan kapan munculnya orientalisme ini, banyak ahli yang sepakat bahwa orientalisme muncul pada abad ke-13. Seperti yang sudah tercatat dalam sejarah Islam, pada saat itu Islam mengalami peradaban yang sangat pesat dari segi sains dan teknologi. Hal ini pula yang menjadi awal mula orientalisme di benua barat (bangsa Eropa).

Bangsa timur menjadi objek kajian para orientalis barat dari segi ilmu pengetahuan, budaya, bahasa atau sastra, bahkan agama. Pada mulanya para orientalis mengkaji Islam dengan pandangan benci dan api permusuhan.

Di sinilah muncul berbagai karya para orientalis yang mengkaji Islam, namun dinilai menyimpang jauh dari kebenaran dalam perspektif Islam. Dipicu karena ketidaksenangan kaum orientalis yang beragama Nasrani dengan munculnya agama Islam yang merupakan agama ‘pendatang’ di Eropa. Islam yang membawa ajaran yang jauh beda dari apa yang mereka yakini dianggap akan mengganggu/menggoyahkan umat Nasrani.

Motif lain yang menjadi alasan orang-orang orientalis membuat Islam sebagai objek kajian mereka adalah beragamnya literatur yang berhasil ditulis oleh para tokoh-tokoh muslim.

Sehingga mereka mempelajari bahasa Arab dan menerjemahkannya ke dalam bahasa mereka agar mempermudah dalam memahami isi literatur yang dibuat tokoh-tokoh muslim tersebut.

Baca juga: Mendialogkan Sains dan Agama

Setelah berkembangnya zaman dan masa orientalis sudah melewati berbagai fase, orientalisme pada akhirnya sampai di fase obyektivitas. Yang semula karya-karya para orientalis Barat cenderung memicu pertentangan/perselisihan antara pihak barat dan timur karena terkesan subyektif, kini banyak orientalis yang memposisikan diri sebagai pengamat bukan lagi ‘pengkritik’ berkedok pengamat.

Dalam hal ini upaya mengkaji Islam oleh para orientalis akan menemukan kebenaran-kebenaran, sekaligus ‘ketidakbenaran’ tentang Islam seperti yang telah tercitra sebelumnya. Sehingga  memunculkan kelompok orientalis yang mulai mengkaji Islam bukan lagi atas dasar politik ataupun pandangan rasisme.

Para orientalis Barat ini akan memandang Islam dengan pandangan jernih dan tidak lagi menyelipkan benih kebencian terhadap Islam. Bahkan ada kecenderungan untuk condong kepada Islam.

Kondisi demikian telah memberikan dorongan bagi timbulnya suatu pergolakan pemikiran yang baru di Eropa pada waktu itu, di mana umumnya mereka tidak sejalan dengan kebijaksanaan gereja. Kalangan orientalis ini yang kemudian diistilahkan dengan revisionist, karena mereka berusaha menempatkan kajian keislaman berada di luar jangkauan kepentingan politik.

Salah satu tokoh dari kelompok revisionist adalah Wilfred Cantwell Smith, yang kemudian menyodorkan metode baru dalam mengkaji sebuah agama dengan manandaskan pernyataan orang lain (non-Muslim) tentang agama Islam baru bisa dianggap benar apabila pernyataan itu bisa diterima oleh penganut agama Islam itu sendiri.

Kajian-kajian tentang Islam dan Al-Qur’an yang dilakukan orientalis Barat kian meluas hingga menyentuh nilai-nilai sosiologis umat muslim. Pada praktiknya akan mempermudah umat muslim dalam memahami agamanya sendiri secara murni dan lepas dari doktrin turun-temurun

Hal ini tidak lepas dari didirikannya institusi-institusi kajian keislaman di Barat, yang mana buku-buku atau literatur tentang Islam diterbitkan dan ditelaah dengan baik lagi tekun. Seperti membawa angin segar bagi orientalisme itu sendiri, dengan didirikannya institusi ini menjadi awal mula munculnya ilmuan-ilmuan baru yang kemudian mendatangkan perspektif baru.

Baca juga: Kontekstualisasi Tafsir Al-Qur’an

Pada masa ini cara pandang penerjemahan Al-Qur’an, yang merupakan pedoman umat muslim, yang dilakukan oleh para orientalis sama sekali berbeda dari masa awal munculnya orientalisme.

Para ilmuwan orientalis ingin memahami Al-Qur’an dengan benar dan tepat; dengan kehati-hatian dalam memahami tiap apa yang terkandung di dalamnya. Menerima apa yang  telah diterjemahkan para sarjana dan ilmuan Islam tentang Al-Qur’an dan bukan malah memutarbalikkan kebenaran di dalamnya.

Bahkan ada situasi di mana mereka (para orientalis) bersama-sama memilih dan mempertimbangkan dengan serius tiap padanan kata yang digunakan akan untuk menerjemahkan kata yang ada dalam Al-Qur’an. Agar tidak terjadi kesalahan dalam penafsirannya ke dalam bahasa lain.

Kajian-kajian tentang Islam dan Al-Qur’an yang dilakukan orientalis Barat kian meluas hingga menyentuh nilai-nilai sosiologis umat muslim. Pada praktiknya akan mempermudah umat muslim dalam memahami agamanya sendiri secara murni dan lepas dari doktrin turun-temurun.

Dalam beberapa kesempatan kajian orientalis telah memantik Islam sendiri untuk melihat agamanya secara rasional dan empiris didukung oleh teori-teori ilmu sosial. Dalam hal ini yang mengalami proses ‘obyektivitas’ bukan hanya kaum orientalis melainkan kaum muslim itu sendiri.

Umat muslim mulai memahami ajaran Islam berdasarkan logika atau nalar dan tidak hanya terpaku pada hasil interpretasi mujtahid, sebagai upaya mencari kebenaran yang logis dan dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Bagikan
Mahasiswi Hukum Ekonomi Syariah, UIN Raden Mas Said Surakarta. Beberapa puisinya pernah dimuat di media online seperti Sastramedia.com dan Majalah Mata Puisi edisi ke-18 dengan nama pena Raakiswa.

Tinggalkan Balasan

Please enter your comment!
Please enter your name here