
Belakangan ini, saya gemar menonton sebuah siniar dari kanal Youtube dari salah seorang cendikiawan sekaligus saintis muda lulusan mekanika terapan di National Taiwan University (NTU), tentang mitos dan tradisi. Bagus Muljadi, namanya yang belakangan ini sedang naik daun karena memberikan banyak ilmu baru dari kanal siniarnya sendiri maupun siniar-siniar lain yang Ia didapuk sebagai narasumber.
Sebagai Asisten Profesor Teknik Kimia dan Lingkungan di Universitas Nottingham, kehadiran Bagus Muljadi, yang bagi saya, telah membawa cakrawala baru di bidang pengetahuan. Khususnya saat Ia membincangkan perihal mitos Nyi Roro Kidul dan warisan pengetahuan yang nantinya disebut local wisdom.
Bagus Muljadi memaparkan secara apik tentang keterhubungan mitos di Yogjakarta dengan konteks mitigasi bencana. Di mana kepercayaan transendental tersebut masih dipegang teguh oleh masyarakat Yogjakarta. Seorang saintis muda di bidang ilmu terapan ini, menjelaskan dengan enak tentang hubungan antara Nyi Roro Kidul, sang penguasa laut selatan dengan aktivitas gunung Merapi yang membentang di Dua Provinsi, Yaitu Provinsi Daerah Istimewa Yogjakarta dan Jawa Tengah.
Modernitas dan Tradisionalitas
Di saat arus modernitas yang banyak mempertentangkan mitos dan logos, Bagus Muljadi memberikan pemahaman lain tentang kepercayaan lokal di Jawa yang mengandung pesan saintifik. Di mana mitos Ratu Kidul tersebut terkonfirmasi ilmiah setelah pakar bencana dari Amerika Serikat di tahun 1960-an merilis adanya jalur tektonik yang menghubungan laut selatan dengan gunung Merapi.
Baca juga: Jujun S. Suriasumantri dan Filsafat Ilmu
Padahal, masyarakat Yogjakarta sudah memiliki pengetahuan atas kondisi tersebut dan mengantarkan mereka pada pengetahuan dalam memitigasi bencana alam. Dari penjelasan melalui siniar tersebut yang membawa saya terpantik untuk menelisik lebih jauh tentang khazanah mitos.
Bahwasannya mitos sering kali dianggap sebagai cerita kuno yang hanya relevan di masa lalu. Bahkan banyak yang menilai bahwa mitos bertentangan logos, sehingga sering kali dijustifikasi pemahaman yang irasional. Dalam pendekatan Islam, mitos juga dianggap sebagai takhayul maupun khurafat, sesuatu yang tidak nyata dalam bentuk cerita-cerita yang tidak jelas asal usulnya.
Hal ini memang tidak sepenuhnya disalahkan, sebab dipengaruhi banyaknya varian mitos yang berkembang di masyarakat. Kadang kala narasinya dibuat-buat hanya untuk kepentingan tertentu dan merugikan salah satu pihak.
Untuk menghindari bias mitos dan logos, dibutuhkan pemahaman yang fundamental atas penerjemahan mitos itu sendiri. Mitos telah lama dikenal tidak hanya sebagai dongeng khayalan namun juga sebagai artefak budaya penting yang merangkum pengetahuan dan nilai-nilai kemasyarakatan.
Pemahaman tersebut dapat dieksplorasi melalui berbagai dimensi, termasuk perannya dalam membentuk kesadaran manusia, memberikan penjelasan atas keberadaan, dan mempengaruhi praktik budaya.
Harald Haarmann dalam tulisannya Myth as Source of Knowledge in Early Western Thought: The Quest for Historiography, Science and Philosophy in Greek Antiquity (2015), menjelaskan Mitos berfungsi sebagai sumber daya berharga karena memuat pengetahuan budaya dan warisan kekayaan dari ingatan manusia.
Mitos tertanam dalam alam bawah sadar kita dan memainkan peran penting dalam konstruksi identitas budaya dan memori kolektif. Mitos bukan sekadar cerita tetapi merupakan hal mendasar untuk memahami pengalaman manusia dan norma-norma masyarakat.
Haarmann menekankan bahwa mitos harus dilihat dalam konteks yang lebih luas seperti budaya, pandangan dunia, sains, dan politik, dengan menyoroti sifat multifaset dan signifikansinya dalam konstruksi pengetahuan kuno.
Dalam banyak kebudayaan, mitos berfungsi sebagai alat pendidikan, kontrol sosial, dan identitas kolektif. Misalnya, mitos tentang Dewi Sri dalam tradisi Jawa bukan sekadar kisah dewi padi, tetapi juga pengajaran tentang pentingnya harmoni dengan alam. Ia mencerminkan kesadaran ekologis yang diwariskan turun-temurun dalam masyarakat agraris. Di sisi lain, mitos juga menjadi alat legitimasi kekuasaan.
Mitos Nusantara
Dalam sejarah kerajaan di Nusantara, mitos digunakan untuk memperkuat kedudukan raja sebagai pemimpin ilahi. Konsep “mandala”, di mana raja dipandang sebagai pusat keseimbangan dunia, mencerminkan bagaimana mitos digunakan untuk menjelaskan dan mempertahankan struktur sosial.
Aspek fungsional dari mitos sangatlah penting, mereka memberikan narasi yang menjelaskan asal usul dunia, perilaku manusia, dan struktur masyarakat.
Lauri Honko mendefinisikan mitos sebagai narasi yang mengungkapkan dan menegaskan nilai-nilai dan norma-norma agama suatu masyarakat, yang menjadi pola perilaku. Mitos juga menawarkan kerangka untuk menafsirkan misteri kehidupan, misalnya tentang pertanyaan tentang keberadaan, moralitas, dan alam semesta, sehingga bertindak sebagai prinsip panduan bagi individu dalam suatu budaya.
Rami Gabriel mengulas secara baik melalui tulisannya Psychology Is Our Modern Mythology (2021), dalam wacana kontemporer, psikologi dipandang sebagai bentuk mitologi modern. Ini menjawab pertanyaan mendasar tentang identitas dan keberadaan, mirip dengan mitos tradisional yang menjelaskan sifat manusia dan peran masyarakat.
Perspektif ini menunjukkan bahwa psikologi memberikan narasi tentang kepribadian dan konstitusi fisik otak, sehingga memenuhi fungsi serupa dengan mitos-mitos kuno dengan menawarkan penjelasan atas pengalaman manusia.
Mitos tertanam dalam alam bawah sadar kita dan memainkan peran penting dalam konstruksi identitas budaya dan memori kolektif. Mitos bukan sekadar cerita tetapi merupakan hal mendasar untuk memahami pengalaman manusia dan norma-norma masyarakat
Carl Jung, seorang tokoh Psikologi Agama, mengilustrasikan bahwa mitos memiliki hubungan yang erat dengan konsep arketipe. Bagaimana keduanya berinteraksi dalam membentuk pemahaman manusia tentang diri dan dunia. Jung mengembangkan konsep arketipe sebagai pola universal yang ada dalam ketidaksadaran kolektif manusia.
Ketidaksadaran kolektif adalah lapisan psikis yang mencakup pengalaman dan warisan budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi. Arketipe berfungsi sebagai representasi simbolis dari pengalaman-pengalaman ini, dan mitos sering kali mencerminkan arketipe tersebut dalam bentuk cerita dan karakter.
Mitos dapat dilihat sebagai manifestasi dari arketipe, di mana cerita-cerita ini mengungkapkan pola-pola perilaku, emosi, dan pengalaman manusia yang mendasar. Misalnya, mitos tentang pahlawan sering kali mencerminkan arketipe pahlawan, yang melambangkan keberanian, pengorbanan, dan perjuangan melawan rintangan.
Baca juga: Harmoni Pesantren: Antara Kearifan dan Nasionalisme
Dengan demikian, mitos tidak hanya menceritakan kisah, tetapi juga menyampaikan nilai-nilai dan pelajaran yang bersifat universal.
Krisharyanto Umbu Deta juga memaparkan gagasan yang sama menarik. Dalam tulisannya Meninjau Kembali Inferioritas Mitos terhadap Sains (2022).
Ia meninjau reduksi mitos yang berkembang dalam keilmuan modern dengan mengulas pemikiran Levi-strauss dan Karen Armstrong, pandangan terhadap mitos, baik yang bersifat merendahkan maupun yang menganggap sains lebih unggul daripada mitos, tidak bisa diterima secara mentah-mentah.
Terlebih lagi jika pandangan tersebut dijadikan alat untuk memberikan stigma dan merendahkan kemanusiaan subjek yang meyakininya, seperti masyarakat adat dan penganut agama leluhur. Dalam kajian perbandingan antara mitos dan sains, Claude Levi-Strauss berargumen bahwa keduanya tidak dapat dipandang inferior atau superior satu sama lain.
Mitos dan sains memiliki cara berpikir dan logika yang berbeda tetapi sama-sama penting dalam memahami dunia. Mitos cenderung memberikan pemahaman total tentang dunia, sedangkan sains lebih fokus pada penjelasan spesifik melalui metode empiris. Namun, keduanya saling melengkapi dalam memberikan wawasan kepada manusia tentang kehidupan dan lingkungan mereka.
Mitos sebagai Produk Pengetahuan
Bisa dilihat bahwa salah satu kekeliruan umum adalah melihat mitos bertentangan dengan ilmu pengetahuan modern. Padahal, mitos sering kali menjadi awal dari upaya manusia untuk memahami dunia. Sebagai contoh, mitos Yunani tentang Dewa Poseidon yang menguasai laut, dapat dilihat sebagai usaha awal untuk memahami kekuatan samudra yang sulit diprediksi.
Dalam konteks ini, mitos adalah produk pengetahuan yang berbasis pada observasi manusia terhadap alam, meski diselimuti oleh simbolisme. Ilmu pengetahuan kemudian hadir untuk mendekonstruksi simbolisme ini, menggantinya dengan penjelasan yang lebih rasional dan terukur
Di era modern, mitos tidak lagi terbatas pada cerita tradisional. Ia bertransformasi menjadi narasi populer yang hidup di media sosial.
Baca juga: Mithet: Teknik Unik Gamelan Jawa
Misalnya, teori konspirasi yang sering kali dianggap sebagai “mitos modern” adalah bentuk baru dari upaya manusia mencari makna dalam dunia yang kompleks dan tidak pasti. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun manusia telah mencapai kemajuan dalam ilmu pengetahuan, kebutuhan untuk menciptakan cerita yang menjelaskan dunia tidak pernah hilang. Mitos modern menjadi medium untuk mengisi celah pemahaman di tengah derasnya arus informasi.
Melihat mitos sebagai produk pengetahuan membantu kita untuk lebih menghargai kekayaan budaya dan kearifan lokal. Ia bukan hanya cerita yang perlu dilestarikan, tetapi juga jendela untuk memahami pola pikir, nilai, dan kreativitas para pendahulu.
Dengan pendekatan ini, mitos tidak hanya menjadi bagian dari masa lalu, tetapi juga alat untuk membangun dialog antara tradisi dan ilmu pengetahuan, menciptakan pemahaman yang lebih holistik tentang dunia dan kehidupan kita.



