
Setiap muslim menyadari bahwa bulan Ramadan merupakan momentum penting untuk meningkatkan spiritualitas dan moralitas diri. Hari demi hari di bulan Ramadan ibarat deretan anak tangga yang dilalui untuk mencapai ekstase spiritual yang dinginkan. Sejalan dengan hal tersebut, orang-orang muslim memiliki kebiasan dan rutinitas yang beragam dalam menghidupkan hari-hari di bulan yang penuh berkah.
Keberagaman rutinitas dan tradisi di bulan Ramadan dapat diamati di berbagai tempat atau daerah di Indonesia. Perbedaan tradisi dalam menjalani bulan Ramadan yang cukup mencolok dan terlihat di antara kalangan masyarakat muslim perkotaan dan muslim perdesaan. Tradisi dan rutinitas Ramadan yang hidup pada masyarakat muslim perdesaan cenderung tradisional dengan kearifan lokal yang tetap terjaga.
Hal tersebut dapat dilihat dari rutinitas sejak waktu sahur di mana interaksi sosial direpresentasikan dengan membangunkan warga untuk sahur dengan menabuh kentongan dan berkeliling kampung secara berkelompok.
Berbeda dengan muslim perkotaan, rutinitas di bulan Ramadan cenderung lebih modern dengan hiruk pikuk lingkungan perkotaan. Menjalani rutinitas Ramadan bagi masyarakat muslim kota memiliki dinamika tersendiri dengan waktu yang begitu cepat, tantangan hidup yang modern dan fasilitas yang serba canggih.
Sebagai perantau, bagi saya yang anak desa dan kebetulan mengadu nasib hidup di kota, perbedaan tradisi di bulan Ramadan baik di kota maupun di desa sama-sama mempunyai keunikan dan tentu genuine. Kesamaan tersebut terletak pada bagaimana mereka memenuhi kebutuhan spiritual dan tetap konsisten menjalani perintah agama. Kendati tradisi yang eksis tampak berbeda, implementasi terhadap ritus-ritus Ramadan menjadi fokus utama yang harus dilakukan.
Fenomena Muslim Perkotaan
Muslim urban atau perkotaan sebenarnya merujuk pada setiap orang muslim baik individu ataupun secara kelompok yang hidup dan tinggal di daerah perkotaan dengan tetap menjaga nilai-nilai keislaman mereka dalam kehidupan sehari-hari. Lingkungan kota yang modern tentu menjadi tantangan bagi muslim urban untuk selalu kosisten terhadap agama.
Beberapa tantangan muslim urban yang dihadapi di antaranya seperti jadwal kerja yang padat, kemewahan materi, fasilitas yang canggih, mobilitas yang tinggi serta tekanan sosial dan ekonomi yang khas dalam lingkungan kota.
Baca juga: Kuasa: Mesin dan Data
Beberapa tantangan tersebut setidaknya yang mendorong masyarakat muslim perkotaan merasa dahaga akan nilai-nilai spiritual. Hal-hal yang bersifat materi, property dan rasionalitas logika masyarakat kota dianggap belum bisa mendatangkan kedamaian rohani. Wasisto Raharjo Jati (2015) menyebut fenomena tersebut sebagai era baru rekonstruksi agama atau gerakan keagamaan baru.
Rekonstruksi agama bagi muslim perkotaan ialah tentang mengenal makna ketuhanan di tengah ingar bingarnya modernitas. Modernitas dan teknologi telah menaklukkan masyarakat kota dengan kegamangan dan keresahan.
Sebab, pola hidup kota yang modern nan canggih meciptakan pendisipsinan bagi manusia dan rotasi hidup yang cenderung bersifat statis. Hal ini menutup sempit ruang ekspresi dalam menunaikan hajat-hajat dan keinginannya.
Rekonstruksi agama atau gerakan keagamaan baru muslim perkotaan tidak cenderung bersifat teologis dan skriptural, namun lebih bersifat praktikal dan implementatif terhadap ajaran-ajaran agama yang dipahami.
Implementasi terhadap agama terkadang dikemas dalam bentuk tradisi-tradisi yang eksis di beberapa daerah termasuk perkotaan. Agama lebih dipahami dan dimaknai secara implementatif dan praktikal untuk memberikan solusi pada permasalahan hidup.
Berkaitan dengan hal itu, ekspresi keagamaan muslim perkotaan berupaya untuk men-senyawakan antara nilai-nilai religiusitas dan gaya hidup perkotaan. Hal tersebut dapat ditelisik melalui tradisi dan rutinitas mereka dalam menjalani hari-hari di bulan Ramadan. Mengapa Ramadan? Sebab, pada bulan Ramadan intensitas gerakan dan gaya hidup muslim perkotaan mendapatkan momentumnya.
Selain beragam tantangan yang dihadapi masyarakat muslim perkotaan, akses mereka terhadap fasilitas ibadah terbilang mudah. Lebih-lebih di bulan Ramadan, kajian-kajian keislaman semarak di berbagai tempat serta pilihan tempat berbuka puasa yang variatif mulai dari masjid, restoran halal, pasar takjil Ramadan, hingga iftar bersama yang dilakukan secara kolektif baik daring maupun offline.
Keseharian Ramadan
Kehidupan masyarakat muslim perkotaan memiliki tantangan kesibukan yang begitu padat sehingga membutuhkan kemampuan negoisiasi diri yang baik agar rutinitas kerja dan ibadah tetap berjalan sebagaimana mestinya. Muslim urban sering kali memutar otak dan mencari cara untuk melaksanakan ibadah di tengah kesibukan kerja. Biasanya, mereka memanfaatkan waktu istirahat siang untuk melaksanakan salat dan disambung dengan mendaras Al-Quran.
Sembari mengumpulkan energi tubuh untuk melanjutkan kerja, membaca Al-Quran di sela-sela waktu istirahat memberikan energi positif bagi rohani. Target khataman Al-Quran di bulan Ramadan menjadi salah satu motivasi kuat untuk merutinkan mengaji. Mereka meyakini keberlipatan ganjaran yang didapat dengan membaca Al-Quran di hari-hari Ramadan.
Rekonstruksi agama atau gerakan keagamaan baru muslim perkotaan tidak cenderung bersifat teologis dan skriptural, namun lebih bersifat praktikal dan implementatif terhadap ajaran-ajaran agama yang dipahami
Tidak berhenti di situ, di sela-sela melakukan pekerjaan audio murottal menjadi pilihan untuk didengarkan, bahkan di beberapa kantor tempat kerja memutar audio murottal Al-Quran selama bulan Ramadan. Hal ini menandakan bahwa Ramadan menciptakan dan membentuk spiritualitas muslim perkotaan di ruang-ruang publik.
Sepulang kerja, rasa lelah dan takjil buka puasa bukanlah suatu hal yang dikhawatirkan. Salah satu kebiasan baik muslim perkotaan di bulan Ramadan ialah kepedulian sosial dengan membagi-bagikan takjil secara gratis di berbagai tempat seperti ruas-ruas jalan, tempat-tempat umum dan masjid-masjid yang menyediakan takjil buka puasa.
Kepedulian sosial ini menjadi kegiatan amal rutin yang dilanggengkan selama bulan Ramadan. Selain itu, halal food (kuliner halal) dan tren pola hidup sehat menjadi rutinitas harian muslim perkotaan. Muslim urban menyadari pentingnya menjaga keseimbangan pola makan.
Sering kali kalangan muslim urban saling berbagi informasi mengenai rekomendasi tempat makan dan resto halal. Terkadang mereka juga berbagi informasi resep berbuka puasa yang bergizi bagi tubuh.
Baca juga: Adab dalam Berdoa
Pentingnya menjaga makanan halal didasarkan pada ayat Al-Quran yang menjelaskan dan mensyaratkan makanan yang dikonsumsi harus halal (diperbolehkan) dan juga tayyib (bermanfaat), secara singkat kriteria kuliner halal dikenal dengan istilah halalan tayyiban. Urgensi lain menjaga keseimbangan pola makan dan makanan halal diyakini berpengaruh bagi jasmani dan rohani seorang muslim.
Halal itu suci dan bersih, sesuatu yang suci akan melahirkan kejernihan, sehingga dengan mengonsumsi makanan halal menyokong ketentraman batin dan kekhusyukan ibadah. Secara jasmani, makanan halal memberikan dampak positif dan energi sehat terhadap kinerja tubuh. Dengan begitu, hal tersebut menyokong aktivitas padat muslim perkotaan mulai dari kesibukan bekerja sampai pada kegiatan ibadah sehari-hari.
Berpuasa, salat, mengaji, bekerja, amal sosial, serta aktivitas yang lain seakan tidak menjadi beban bagi muslim perkotaan. Motivasi hidup yang bermakna menginspirasi mereka untuk hidup secara seimbang, yaitu menyeimbangkan antara aspek yang materi dan rohani. Tag line “Lelah menjadi Lillah” yang selalu digaungkan dan disuarakan muslim perkotaan seolah memacu semangat hidup dan beribabah tanpa kenal lelah.



