
Menjelang Idulfitri tepatnya sore hari sebelum takbir berkumandang, di Desa Solokuro, Lamongan dan sekitarnya ramai berbondong-bondong untuk ziarah ke makam orang-orang terkasih. Masyarakat datang dengan pakaian yang rapi dan membawa alat seperti arit dan pecok (pacul kecil) untuk membersihkan rumput liar yang tumbuh diatas makam.
Ziarah menjelang hari raya sudah menjadi tradisi untuk mendoakan orang yang sudah meninggal dunia. Entah dari tahun kapan masyarakat memulai datang ke pemakaman untuk mendoakan keluarga yang lebih dahulu meninggal dunia, yang jelas tradisi ini sudah dilakukan dari kakek buyut dalam keluargaku.
Tradisi Spiritual
Masyarakat juga mengatakan bahwa mereka tidak hanya berkunjung dan berdoa, tetapi ziarah juga sebagai pengingat bahwa kita hidup di dunia hanya sementara. Sewaktu-waktu bisa saja kita yang berada di bawah tanah dan didoakan oleh keluarga tercinta.
Ungkapan dari masyarakat tentang ziarah mampu dijadikan sebagai pengingat kematian ternyata memang benar adanya. Sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh Buraidah, bahwa Rasulullah SAW bersabda, Saya pernah melarang kamu berziarah kubur. Tapi sekarang Muhammad telah diberi izin untuk berziarah ke makam ibunya. Maka sekarang, berziarahlah! Karena perbuatan itu dapat mengingingatkan kamu kepada akhirat (HR. At-Tirmidzi).
Baca juga: Ziarah dalam Perspektif Sosial
Meskipun bagi sebagian muslim modern ada yang mengatakan bahwa kegiatan ziarah adalah bagian dari khufarat, memuja atau memohon pada orang yang sudah mati, bahkan ada yang bilang mengkeramatkan makam untuk tujuan hal mistis yang jauh dari ajaran agama Islam. Mungkin zaman dahulu memang terdapat orang-orang yang memiliki kepercayaan untuk datang ke makam untuk mendapatkan wangsit atau barang-barang seperti keris, akik, atau lebih parahnya mencari pesugihan. Naudzublillah.
Sebagai seorang muslim perlu untuk memahami dengan baik makna ziarah. Heru Prakosa dalam tulisan “Jiwa yang Gelisah. Ziarah: Pengenangan dan Permenungan” yang dimuat dalam majalah Basis no 09-10 tahun ke-56, September-oktober 2007. Ia menyatakan bahwa ada beberapa makna yang terkandung dalam kosakata ziarah (ziyarah).
Makna yang pertama dan yang fundamental adalah “kunjungan ke makam seseorang yang telah meninggal”. Makna lain menunjuk pada “kunjungan ke masjid-masjid atau tempat-tempat suci”. Banyak di antara tempat-tempat suci itu terkait dengan “orang suci”. Dan wali adalah salah satu di antaranya!
Wisata Religi
Melihat makna ziarah yang cukup kompleks ini mengingatkan saya dengan beberapa umat muslim yang sebenarnya melakukan ziarah. Akan tapi mereka menyebut sedang wisata religi. Padahal kegiatan yang dilakukan adalah datang ke makam orang suci atau wali dan mendatangi masjid megah nan viral seperti Masjid Raya Sheikh Zayed Solo. Terlebih dengan menggunakan kata wisata religi mereka benar-benar wisata ke tempat peribadatan dan melupakan aspek religiusnya seperti halnya melakukan ibadah dan bermuhasabah supaya bisa dekat dengan sang pencipta.
Tradisi ziarah sebenarnya tidak hanya dilakukan di dalam Islam saja, tetapi Sebagian besar umat beragama juga melakukan ziarah. Dalam tulisan Agus Sunyoto “Ziarah dalam Sufisme jawa” yang dimuat dalam Majalah Basis dengan edisi yang sama menyebutkan bahwa Para pemeluk agama Buddha, meyakini kesucian tempat kelahiran sang Buddha di Kapilavatsu, tempat sang Budhha mencapai Pencerahan Rohani di Bodh Gaya, tempat sang Buddha untuk pertama kali menyampaikan ajaran di Benares dan tempat Sang Buddha mencapai Parinirwana di Kusinagara.
Merawat makam ulama yang berkontribusi besar dalam penyebaran Islam di daerah perlu dilakukan, supaya kita masih bisa mengingat para ulama babat alas mengenalkan ajaran agama Islam
Keempat tempat yang dianggap suci itulah tempat umat Buddha berziarah. Sedangkan di kalangan umat Katolik, ziarah dilakukan dengan mengunjungi tempat-tempat suci seperti kelahiran Yesus di Nazaret, Taman Getzemani, Bukit Golgota, Basilika santo petrus, Lourdes, Taize, Gua Maria di Pohsarang.
Di tanah Jawa tradisi ziarah dilakukan oleh umat muslim dengan mengunjungi makam Walisongo. Makam Walisongo menjadi destinasi ziarah yang cukup banyak pengunjungnya dibanding makam para ulama yang lain. Hal ini membuat kaum muslim pedesaan juga tidak melupakan ulama desa yang pernah menyebarkan ajaran Islam di wilayah masing-masing untuk dirawat dan menjadi tempat ziarah di desa.
Baca juga: Berburu Kertas di Hari Raya
Merawat makam ulama yang berkontribusi besar dalam penyebaran Islam di daerah perlu dilakukan, supaya kita masih bisa mengingat para ulama babat alas mengenalkan ajaran agama Islam, baik dengan akulturasi budaya atau dengan metode lain yang mampu memberikan kepercayaan bagi masyarakat untuk bisa memeluk agama Islam dengan taat.
Kesadaran ini perlu ditumbuhkan dalam masyarakat muslim di Indonesia, untuk menggali kembali informasi yang mulai hilang di tengah riuhnya modernisme dan kecanggihan teknologi. Sebab tujuannya jelas untuk menghargai para ulama terdahulu dengan merawat makam dan ajarannya serta mendoakan supaya diberikan tempat yang layak disisi-Nya serta sebagai pengingat untuk anak cucunya kelak.
Sebagaimana para peziarah yang datang menjelang Hari Raya, selain untuk mendoakan mereka juga mengingat orang-orang yang berharga dalam hidupnya, baik orang tua, anak-anak atau sanak saudara.



