Teologi Berbasis Kemanusiaan

Tuhan merupakan nama dari zat yang wajibil wujud. Tuhan berada dalam ranah kajian para teolog, yang bertungkus lumus untuk menelaah-Nya.

Pengkajian ini dimaksudkan agar Tuhan dapat dikenali dan dipahami dengan semestinya, meski dengan sifatnya laysa kamistlihi syaiun atau dalam istilah kejawen tan kena kinaya ngapa sangatlah jauh dapat dikenali oleh manusia—kecuali dari sumber yang dapat dipastikan kebenarannya, yakni Al-Quran.

Dalam kajian-kajian ini, biasanya dibahas terkait apa saja sifat-sifat Tuhan, bisakah kita di hari esok melihat Tuhan, dan seterusnya. Yang pada intinya, objek dari semua kajian mengarah kepada Tuhan itu sendiri.

Ilmu ketuhanan dalam Islam biasa disebut dengan teologi, kalam, tauhid, atau fiqih akbar oleh Imam Hanafi. Dari ketiganya walau secara bahasa berbeda, tetapi memiliki intisari yang sama, yakni ilmu yang membahas tentang Tuhan.

Namun, pembahasan-pembahasan ini oleh cendekiawan muslim modern dirasa tidak mampu membawa umat muslim menuju kebangkitannya. Seorang cendekiawan muslim modern dari Mesir, Hassan Hanafi, mendefinisikan teologi itu bukanlah ilmu tentang Tuhan, karena Tuhan mustahil tunduk kepada ilmu. (Nawawi, 2018: 87) Seharusnya pembahasan teologi masa kini, tidaklah diperuntukkan kepada Tuhan, tetapi untuk manusia. Teologi berbasis kemanusiaan lantas menjadi keniscayaan.

Sebab menurut Hassan Hanafi, konsep atau teks dalam wahyu yang menyatakan tentang zat dan sifat-sifat Tuhan tidak menunjuk pada keagungan dan kesucian Tuhan, karena mustahil jika Tuhan membutuhkan penyucian dari manusia.

Baca juga: Tiga Aspek Tasawuf dalam Memaknai Sadranan

Ada atau tidaknya manusia yang menyucikan, Tuhan tetaplah Maha Suci dengan segala sifat kesempurnaan-Nya. Oleh karenanya, maksud dari teks tersebut mengarah pada pembentukan manusia yang ideal atau insan kamil (Khudori Soleh, 2016: 63).

Insan kamil merupakan sosok manusia yang dapat memanifestasikan sifat-sifat Tuhan di muka bumi. Dengan demikian, dalam mempelajari sifat-sifat dari Tuhan, harus ada nilai praksis yang dapat diamalkan dalam keseharian, yang menurut penuturan Ibnu Arabi disebut dengan Takhalluq.(Zainul Maarif, 2015:44).

Dalam ikhtiar mewujudkan manifestasinya, Hassan Hanafi memberi contoh yang bagi penulis merupakan interpretasi baru dalam penafsiran. Karena dalam interpretasi ini sangat terlihat pandangan dan nilai antroposentris.

Sekilas, sifat wajib bagi Tuhan dalam teologi asyariyah ada 20. Dua di antaranya adalah wujud, mukhlafatu lil hawaditisi dan wahdaniyah. Dalam tafsiran yang mainstream kesemuanya ditujukan pada Tuhan, maksudnya wujud menjelaskan secara pasti Tuhan itu ada dengan disertai dalilnya baik ijmali maupun tafsili.

Namun, oleh Hassan Hanafi wujud di sini bukan ditujukan pada adanya Tuhan, melainkan diarahkan pada tajribah wujudiyah, tuntutan pada manusia agar ia mampu menunjukkan eksistensi kediriannya (Khudhori Soleh, 2016: 64).

Kaitannya tentang menunjukkan eksistensi diri, manusia diharuskan berkarya agar dianggap ada, sebagaimana Tuhan memiliki sifat yang Maha menciptakan/berkarya, manusia juga harus berkarya. Sebab lagi-lagi, agar manusia dapat dikatakan sebagai insan kamil syaratnya haruslah memanifestasikan sifat-sifat Tuhan di muka bumi.

Sementara mukhalafatu lil hawaditsi, biasa diartikan bahwa Tuhan itu berbeda dengan makhluknya, dalam bahasa jawa disebut sebagai tan kena kinaya ngapa.

Sementara mukhalafatu lil hawaditsi, biasa diartikan bahwa Tuhan itu berbeda dengan makhluknya, dalam bahasa jawa disebut sebagai tan kena kinaya ngapa.

Namun, penafsiran semacam ini bagi penulis hanya akan menjadi pengetahuan di otak saja. Untuk dapat dimanifestasikandengan bentuk etika praktis atau takhalluq, kita mesti berani tampil beda.

Kita adalah manusia dan bukan robot yang tercipta dengan keseragaman dalam suatu kontrol atau pencangkokan algoritma tertentu. Bahkan Tuhan yang mencipta kita, telah menyatakan bahwa manusia itu berbeda-beda.

Ungkapan Tuhan demikian: “Sesungguhnya kami ciptakan kamu dari laki-laki dan perempuan, kemudian kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal” (Al-Hujurat:13).

Wahdaniyah, diartikan sebagai keesaan Tuhan, pensucian Tuhan dari paham trinitas maupun politeisme. Namun, oleh Hanafi diinterpretasi menjadi pengalaman umum kemanusiaan akan adanya sebuah kesatuan. Baik kesatuan dalam lingkup tujuan, kelas, nasib, tanah air, budaya serta lainnya.

Dengan pemahaman dan tafsiran semacam yang amat manusiawi, maka istilah tauhid juga bukan hanya konsep yang menegaskan keesaan Tuhan. Lebih dari itu, tauhid ditafsirkan sebagai kesatuan pribadi manusia yang menjaga dirinya dari sikap dualistik seperti hipokrit, munafik, dan lain-lain.

Baca juga: Kontekstualisasi Tafsir Al-Qur’an

Tauhid juga mengarahkan manusia kepada pembebasan diri. Pembebasan, di sini mengarah pada pembebasan dari belenggu hawa nafsu.

Karena hawa nafsu inilah sumber dari diri dalam menolak kebenaran dan mengarahkan manusia pada rasa congkak alias sombong. Hawa nafsu juga menjadi sumber pemikiran subyektif (Nurcholis Madjid, 1998).

Sedang ketika manusia telah memiliki pandangan yang serba subyektif, terpengaruh oleh kedirian, sudah pasti dapat menyulut pertikaian dengan manusia lain. Setiap hal niscaya akan disebut relatif kebenarannya, dengan sebuah ungkapan masyhur, “jika menurutmu hal itu baik, maka menurutku inilah yang terbaik”.

Jika demikian halnya, fungsi dari Al-Quran yang dipercaya menjadi neraca kebenaran dalam berbagai hal akan kehilangan taji bahkan marwahnya. Semua manusia lantas hanya akan meyakini apa yang dibenarkan hawa nafsunya.

Walhasil, kekacauan terjadi di mana-mana, dikarenakan setiap manusia menganggap dirinya paling benar. Memang, semangat dalam perbedaan itu harus dipupuk sedemikian rupa. Saban memandang sesuatu, selayaknya kita pun harus memiliki dasar yang seobyektif mungkin.

Saban memandang sesuatu, selayaknya kita pun harus memiliki dasar yang seobyektif mungkin.

Melalui upaya tersebut, kita dapat bertanggung jawab akan apa yang kita yakini, baik sekarang maupun di kemudian hari. Sekali lagi, teologi berbasis kemanusiaan adalah sebuah keniscayaan. Begitulah kiranya pembahasan ini, dengan semangat kemanusiaan yang ditularkan para tokoh di atas, harapannya langkah kita lebih progresif-revolusioner. Hingga pada akhirnya kita terhindar dari dakwaan Karl Marx yang menyatakan bahwa “agama adalah candu bagi pemeluknya.”  

Tinggalkan Balasan

Please enter your comment!
Please enter your name here