
Sukoharjo (13/10/2023) LPM UKM Dinamika baru saja menggelar acara bedah buku Alfatihah: Bangkitlah Gerakan Islam buah pena Eko Prasetyo. Bedah buku dilaksanakan di Aula lt. 1 Gedung SBSN UIN Raden Mas Said Surakarta. Bedah buku dimulai pukul 08.00 WIB sampai 10.45 WIB. Sesuai waktu yang dicantumkan di dalam pamflet, Eko Prasetyo tiba di lokasi kegiatan tepat waktu. M. Azwan Anas, mahasiswa pascasarjana Universitas Sebelas Maret Surakarta, tampil sebagai moderator yang memandu sekaligus mendampingi Eko Prasetyo memaparkan materi.
Bedah buku ini merupakan puncak dari serangkaian Dies Natalies XXV UKM LPM Dinamika, yang sebelumnya diikuti oleh Lomba Esai untuk kalangan SMA/sederajat dan Call For Paper untuk taraf mahasiswa. Kedua ajang lomba ini terbuka bagi siapa saja, pelajar maupun mahasiswa seantero Indonesia. Pengumuman pemenang dua lomba ini pula diumumkan seusai bedah buku selesai.
Baca juga: Akulturasi Islam-Jawa: Sedekah Bumi, Kesenian, Kirab Budaya
Para peserta bedah buku yang hadir sekira 100 orang. Kuota ruangan yang cukup adem ini mengakibatkan peserta bedah buku terbatas. Para peserta pun cukup antusias menyimak penyampaian materi oleh Eko Prasetyo, yang berapi-api dan banyak membuat perumpamaan yang relevan sekaligus melempar lelucon.
Eko Prasetyo mula-mula mengakui, bahwa corak pembahasan dalam buku Al-Fatihah: Bangkitlah Gerakan Islam ini cukup jauh tinimbang sekian bukunya sebelumnya. Pendiri cum pengelola Social Movement Institute ini sudah termashyur dengan buku-buku yang provokatif sampai merogoh-menggerakkan hati sidang pembaca. Orang Miskin Dilarang Sakit, Orang Miskin Dilarang Sekolah, dan Bangkitlah Gerakan Mahasiswa untuk menyebut barang tiga judul.
Sama dengan judul bukunya, Eko Prasetyo mengungkai perihal tafsir dan daya cipta dari surat Al-Fatihah yang sangat pantas dengan kehidupan kita sehari-hari, yang hidup di abad yang berlari, saat kuasa atas materi menjadi tujuan pokok manusia, tempo semuanya serba cepat dan instans, sama sekali tanpa penghayatan.
“Al-fatihah mengajak kita kembali pada orang-orang sholeh. Kekuatan bismillah membuat kita terhubung dengan yang transenden,” tutur pemuda yang dulu mengenyam bangku kuliah di Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia ini.
Selain ikhtiar yang bisa ditempuh untuk tetap merajut hubungan yang dekat dengan Yang Maha Kuasa, sebagai insan yang merengkuh iman, Eko Prasetyo turut memperkarakan perihal komodifikasi agama dan praktik aktivisme sosial. Sebab menurutnya, kerapkali gerakan Islam justru malah mendukung status quo, bukan malah memihak mereka yang ada di periferi, yang butuh bantuan, uluran tangan sampai advokasi.
Baca juga: Janturan: Ruang dan Pesan
Eko Prasetyo membabar persoalan gerakan Islam ini dalam pelbagai perspektif, dari mulai pendidikan-pengajaran, sosial, politik, ekonomi. Gerakan Islam yang murni lagi tulus sudah selayaknya bangkit dalam mengolah kreativitas, membumikan empati dan rasa persaudaraan dalam perjuangan penuh penghayatan.



