Pendidikan merupa proses pengembangan akal dan pikiran manusia. Ia adalah hak segala bangsa. Kita semua memiliki tanggung jawab dan peran untuk mewujudkan pendidikan yang berkualitas. Namun, beberapa daerah di Indonesia belum merasakan kondisi pendidikan yang merata sehingga ini menambah kompleksitas masalah.

Hal tersebut memacu kita, sebagai generasi penerus bangsa, agar aktif berperan mengembangkan pendidikan dan sumber daya manusia yang ada. Kita mafhum, pendidikan menjadi salah satu cara untuk membuka luas cakrawala mengurangi angka kemiskinan suatu daerah. Gerakan Mengajar Desa (GMD) hadir sebagai jawaban atas persoalan pendidikan yang belum merata tersebut.

Secara garis besar, organisasi tingkat nasional yang sudah berdiri sejak 2018 ini tersebar di 144 kabupaten dan 30 provinsi. Satu di antaranya adalah GMD di Majalengka, Jawa Barat. Partisipasi dan peranan aktif GMD di Majalengka berupaya mengembangkan pendidikan di tatar Sunda ini. Lewat pelaksanaan program pengabdian, para relawan berharap mampu menginspirasi masyarakat desa dan memberdayakan pemuda sebagai tutor inspiratif bagi khalayak.

Ruang Mengajar

Desa Cikaracak di Kecamatan Argapura dipilih menjadi lokasi teman Gerakan Mengajar Desa untuk mengabdi. Pengabdian kali ini menjadi tahun ke-5 Gerakan Mengajar Desa Majalengka turut membersamai masyarakat dan peduli pendidikan di level desa. Alasan mengapa desa ini dipilih selaras dengan penjelasan Pragesta Resphati, Ketua GMD Majalengka, sebab Cikaracak memenuhi kriteria lokasi yang bisa dijadikan pengabdian, yakni 3T (Terpencil, Terluar, dan Terdalam).

“Hal tersebut juga diperkuat dengan beberapa data bahwa desa ini yang paling terpencil (pelosok) dari desa yang sebelumnya pernah kita survei sekaligus terluar dari jangkauan pemerintah,” timpal sang ketua

Baca juga: Slametan di Tengah Arus Zaman 

Kegiatan GMD Majalengka di Desa Cikaracak berlangsung pada 21-27 Januari 2024. Selain tim GMD, dalam opening ceremony (21/01) yang dihelat di balai desa, hadir juga Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kabupaten Majalengka, camat Argapura, kepala dan perangkat desa Cikaracak. Pengabdian yang berlangsung 7 hari ini berfokus pada kegiatan mengajar di SDN 1 Cikaracak.

Pembelajaran di sekolah disesuaikan dengan kurikulum dan kebutuhan sekolah. Pihak sekolah membebaskan para tutor untuk memodifikasi model dan media pembelajaran, hal ini kemudian menjadi tantangan tersendiri bagi para tutor untuk memadupadankan pembelajaran yang edukatif, interaktif dan menyenangkan.

Kerja Kolaboratif

Tak sendirian, GMD Majalengka juga merekrut 9 sukarelawan sebagai inisiator muda untuk terlibat dalam kegiatan pengabdian masyarakat 5.0 ini. Tak hanya itu, GMD Majalengka berkolaborasi dengan BPBD Kabupaten Majalengka dalam hal edukasi mitigasi bencana terhadap murid-murid di sana. Upaya mitigasi cukup penting mengingat daerah Cikaracak ada di sekitar sisi lereng Gunung Ciremai yang mempunyai potensi longsor.

Pengajaran pun dilakukan tak sebatas secara formal di ruang kelas, para tutor GMD mengombinasi pembelajaran non-formal di luar ruangan. Kegiatan belajar-mengajar di posko, misalnya, dilaksanakan siang hari setelah para siswa pulang sekolah.

Pada pembelajaran non-formal GMD Majalengka berbagi ilmu dan pengalaman kepada anak-anak di posko terkait keagamaan, ilmu pengetahuan alam, dreaming dan konseling. Anak-anak di posko belajar self-management yang baik untuk pembentukan kedisiplinan anak, menjunjung tinggi adab dan toleransi serta membangun semangat belajar menggapai cita.

Baca juga: Pendar Cahaya Modernitas di Tengah Sumatera

Selain mengabdi dalam hal pendidikan, para tutor GMD pun turut partisipatif di beberapa kegiatan sosial; pengajian, pemeriksaan kesehatan gratis di Balai Desa, dan lain sebagainya. Tentu dengan tujuan agar para tutor bisa merajut keakraban dan tali silaturahmi dengan masyarakat setempat. Walhasil, masyarakat pun menyambut kedatangan tutor-tutor GMD dengan hangat.

Penyaluran donasi hasil kolaborasi dengan pihak sponsor dan beberapa donatur berupa pakaian, alat tulis, alat kebersihan, poster pembelajaran, juz’ama dan sebagainya tersalurkan dengan baik sebagaimana mestinya. Terima kasih disampaikan kepada pihak-pihak terkait yang sudah menopang kegiatan ini, semoga menjadi ladang pahala dan amal jariyah sebagai bekal berharga di yaumul mahsyar.

Pengembangan UMKM

Desa Cikaracak sebenarnya memiliki potensi pengembangan UMKM. Selain punya mata pencaharian sebagai petani, penduduk setempat ada pula yang membuka usaha, semacam UMKM yang menjadi ciri khas desa ini; teh cikaracak, kopi cikaracak, gabin, juga bambu. Untuk penjualan bambu, Desa Cikaracak sudah memasarkan produknya sampai ke luar pulau, seperti Pulau Bali.

Perlu adanya edukasi dan dorongan kepada pihak UMKM terkait agar dapat memasarkan produknya lebih luas lagi.

Sebagaimana tagline GMD “Pintar Desanya, Maju Negaranya” dan tagline Pengabdian 5.0 GMD Majalengka “Selamanya menginspirasi untuk Negeri”, saya berharap melalui kegiatan ini dapat membantu meningkatkan kualitas pendidikan, menjadi wadah pengembangan minat-bakat, serta mendorong semangat dan potensi anak-anak di desa menjadikan SDM yang cerdas dan berkualitas.

Meski kegiatan hanya berlangsung sepekan, pengalaman yang didapat para tutor dan volunteer GMD sangat berharga dan berkesan. Berkesempatan menjadi agen perubahan dan mengajarkan hal-hal baik kepada anak-anak penerus bangsa merupakan suatu kebanggaan tersendiri untuk masa depan yang lebih cerah.

Bagikan
Mahasiswi Fakultas Sains & Teknologi di Universitas Terbuka Bandung Fouder komunitas literasi KUACI (Kumpulan Anak Cinta Baca), aktif di beberapa komunitas dan kegiatan sosial-pendidikan.

Tinggalkan Balasan

Please enter your comment!
Please enter your name here