
Memasuki bulan sya’ban artinya memasuki bulan di mana orang-orang bersiap menyongsong bulan ramadan. Sebagai bangsa yang kaya akan tradisi, beberapa daerah di Indonesia punya caranya sendiri dalam menyambut bulan ramadan, tak terkecuali masyarakat Sunda.
Masyarakat di Tatar Sunda memiliki tradisi bernama Munggahan. Tradisi ini merupa sebuah ritual agama yang dilakukan menjelang bulan suci ramadan. Kebiasaan ini muncul sebagai bentuk rasa bahagia dalam menghadapi bulan suci.
Tradisi umat Islam di Jawa ini mulanya diperkenalkan oleh Walisongo, khususnya untuk menyebarkan agama Islam. Walisongo menggunakannya sebagai metode akulturasi budaya dalam penyebaran agama Islam.
Jauh sebelum Islam masuk dan merasuk, masyarakat Jawa telah banyak dipengaruhi oleh budaya Hindu, Budha, dan aliran kepercayaan sehingga Walisongo menggunakan akulturasi budaya antara Hindu, Budha, dan Islam sebagai media dakwah. Tradisi munggahan merupakan salah satu hasil dari akulturasi budaya yang dibawa-dipromosikan di Tatar Sunda oleh Walisongo.
Munggahan sendiri memiliki sejarah yang kaya akan makna, khususnya dalam kehidupan masyarakat di Tatar Sunda. Ini bermula dari kepercayaan nenek moyang Sunda yang mengajarkan pentingnya membersihkan diri, baik secara fisik maupun spiritual, sebagai persiapan menyambut bulan suci ramadan. Diadakannya tradisi ini dengan maksud memperoleh sikap semangat dan niat yang bulat.
Jika ditinjau dari segi etimologi dalam bahasa Sunda, kata munggahan merupakan akar dari kata munggah dan unggah yang memiliki arti ‘naik/beranjak menuju posisi kedudukan lebih tinggi’ (Hikmatiar, 2020).
Baca juga: Akulturasi Islam-Jawa: Sedekah Bumi, Seni, dan Kirab Budaya
Sebagian pendapat lain ada yang mengutarakan bahwa munggahan berakar dari bahasa Sunda yaitu unggah yang berarti ‘kecap pagawean nincak ti handap kaanu leuwih luhur’ (kata kerja beranjak/naik/berangkat dari tempat yang rendah/bawah, menuju tempat yang lebih tinggi/atas/luhur (Chaebar, 2020; Rani, 2010).
Sedang menurut KBBI, ‘kumpulan atau makan bersama keluarga dan orang terdekat ketika menyambut bulan suci ramadan’ (Prasetya, 2021). Istilah berkumpul muncul karena salah satu kegiatan dari tradisi munggahan adalah berkumpul, kemudian makan bersama keluarga dan orang terdekat.
Gambaran Ekologis Munggahan
Tradisi munggahan dilakukan dengan berbagai kegiatan yang sarat makna dan simbolisme. Masyarakat di Tatar Sunda umumnya melaksanakan tradisi munggahan satu atau dua hari sebelum ramadan. Namun, karena banyaknya hikmah yang diadaptasi, tradisi ini sudah seperti menjadi bagian dari budaya Indonesia. Setiap daerah di Indonesia memiliki kultur masing-masing menjelang bulan suci. Perbedaan pelaksanaan tradisi ini tidak akan mengurangi esensi makna serta tujuannya.
Salah satu kegiatan pokok dalam konteks munggahan adalah membersihkan seluruh rumah dan lingkungan sekitar sebagai simbol membersihkan diri dari segala dosa dan kesalahan. Selain itu, masyarakat di Tatar Sunda juga melakukan persiapan lain, umpamanya memasak makanan khas; ketan, apem, kue pasung, dan lain-lain.
Di antara berbagai makanan khas itu, ada beberapa kudapan yang wajib ada untuk dijadikan suguhan saat munggahan, seperti apem, pasung (kue khas banten), pisang raja, dan ketan. Makanan itu mempunyai arti tersendiri khususnya bagi masyarakat Sunda.
Pertama, apem. Kudapan ini terbuat dari beberapa bahan antara lain seperti telur, santan, gula yang memiliki makna kontekstual maaf. Musabab kata apem berasal dari bahasa Arab yang berlafal affum atau afwan yang memiliki arti ‘permintaan maaf’.
Kedua, ketan. Makanan ini merupa kelompok biji-bijian serelia yang berukuran lonjong, agak besar, dan bulat mirip dengan beras yang berwarna putih seperti warna putih susu melambangkan kesucian. Asal kata ketan dari bahasa arab yaitu qhotoan yang artinya ‘kotoran’.
Sehingga tatkala kita banyak salah terhadap sesama manusia maupun Allah SWT menjelang ramadan, kita dianjurkan untuk membersihkan diri. Bentuk kegiatan membersihakan diri itu bisa dengan cara bersedekah menyisihkan rezeki untuk orang lain.
Ketiga, kue pasung. Kue khas banten ini bentuknya mirip dengan apem tapi berbeda wujud. Kata pasung sendiri diambil dari bahasa Arab fashoum yang berarti ‘mengikat’ atau ‘memasung diri dari hawa nafsu’.
Senarai makanan tadi adalah contoh dari sekian banyak makanan yang memiliki resepsi serta filosofi khususnya bagi masyarakat di pulau Jawa.
Sebenarnya, masih ada berbagai macam tradisi yang dilakukan ketika melakukan munggahan. Tradisi berupa ziarah ke makam nenek moyang, termasuk satu di antaranya. Harapan dari ziarah ini adalah tersampaikannya doa-doa memohon ampun serta menghapus dosa bagi orang yang telah tiada.
Sebagian orang lainnya melakukan ziarah saat munggahan karena yakin bahwa kehidupan para orang tua, saudara, dan leluhur masih memiliki ikatan spiritual dengan yang-hidup. Keberadaan tradisi munggahan ini sekaligus memperkuat kohesi sosial agar makin erat dan terjaga.
Baca juga: Mengetuk Pintu Depan, Menjelang Perjamuan
Kegiatan berikutnya, yakni tradisi keramas atau membersihkan diri dengan mandi di tempat pemandian umum atau kamar mandi rumah. Ketika berada di daerah Jawa proses ini dinamakan dengan “padusan”. Makna dari padusan adalah membersihkan kotoran yang ada pada diri atau jiwa manusia.
Munggahan dalam budaya Sunda merupakan warisan luhur yang patut dilestarikan sebagai bagian dari kekayaan budaya Indonesia. Tradisi ini mengajarkan tentang pentingnya kebersihan, persiapan diri, serta nilai-nilai kebersamaan dan syukur atas nikmat Tuhan.
Kemudian proses utama dan paling ditunggu yakni makan bersama, atau orang sunda lazim menyebut “botram”. Umumnya, keluarga yang di perantauan akan mudik ke kampung halaman supaya bisa ikut makan bersama lalu saling meminta maaf, berdoa bersama, berwisata atau melakukan sedekah.
Selain itu, ada pula proses yang diberi nama sedekah munggah/tradisi sedekah atau tahlilan. Kegiatan ini biasanya dilakukan oleh laki-laki atau bapak-bapak dengan cara berkumpul bersama untuk mendoakan para leluhurnya. Proses sedekah munggah sekaligus menjadi ajang silaturahmi antar warga masyarakat.
Munggahan Sebagai Bentuk Rasa Syukur
Tradisi munggahan merupa wujud ungkapan syukur kepada Tuhan atas rezeki yang diberikan, sebagai ajang untuk mempererat tali silaturahmi, menjaga toleransi, saling menghormati dan menjaga keharmonisan antar sesama. Tradisi ini juga bertujuan untuk membersihkan diri dari hal-hal buruk selama setahun sebelumnya, dengan harapan di bulan ramadan yang akan datang, dapat terhindar dari perbuatan yang tidak baik.
Dengan demikian, tradisi munggahan walaupun bukan syariat agama, tapi manfaatnya luar biasa. Munggahan dalam budaya Sunda merupakan warisan luhur yang patut dilestarikan sebagai bagian dari kekayaan budaya Indonesia. Tradisi ini mengajarkan tentang pentingnya kebersihan, persiapan diri, serta nilai-nilai kebersamaan dan syukur atas nikmat Tuhan.
Sementara itu, tradisi munggahan tak hanya berkembang di Tatar Sunda, melainkan ada pula tradisi munggahan ala Jawa yang dinamakan unggah-unggahan. Tradisi ini banyak ditemui pada masyarakat Jawa Tengah bagian barat—lebih dikenal eks-Karesidenan Banyumas. Masyarakat di daerah berbahasa ngapak dan sekitarnya ini masih rutin menjalankan tradisi unggah-unggahan.
Pada prinsipnya, kegiatan unggah-unggahan memiliki kegiatan yang sama dengan tradisi munggahan yang berkembang di Tatar Sunda yang membedakan hanya pada penamaannya saja. Meski di setiap daerah memiliki bentuk tradisi yang beragam, tapi ragamnya tradisi yang ada di Indonesia tidak mengurangi kesama-satuan masyarakat dalam mewujudkan rasa syukur pada Sang Pencipta.
Selaku generasi penerus, kita sama-sama memiliki kewajiban untuk berpegang teguh serta merawat tradisi sebagai bentuk rasa hormat atas leluhur di daerah setempat. Selayaknya pula, sebagai generasi muda, kita selalu berusaha untuk melestarikan tradisi yang kian hari kian kena pengaruh modernisasi zaman.



